Oleh: wied | Nopember 13, 2008

Nyi Roro Kidul dan Risiko Bencana Tsunami

Oleh Sapto HP

Jakarta (ANTARA News) – Peneliti tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) DR Eko Yulianto mengaku penasaran pada cerita Nyi Roro Kidul, legenda yang menurut dia juga pernah dibahas dalam kongres paranormal di Paris pada 1980an.

Dalam pertemuan di Eropa itu, para paranormal umumnya tertarik pada fakta bahwa legenda itu berkembang di kalangan masyarakat sepanjang selatan Indonesia, bukan hanya pantai selatan Jawa. Suatu kawasan yang sangat panjang. Itu pula yang menjadikan peneliti “paleotsunami” (tsunami purba) itu penasaran pada legenda tersebut.

Peradaban Nusantara Update



Menurut Eko, kawasan tempat mukim masyarakat yang mewarisi legenda Nyi Roro Kidul itu, yang dikenal sebagai kawasan pantai selatan, berhadapan dengan Samudera Indonesia, yaitu daerah zona subduksi lempeng bumi.

Subduksi ialah proses menghujamnya lempeng benua yang bermassa lebih besar ke lempeng benua yang ada di bawahnya. Proses subduksi yang berlangsung terus-menerus itu yang menciptakan negeri kepulauan Indonesia beserta kesuburannya.

Tapi, proses itu pula yang memberikan berbagai bencana, letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami.

Dalam kaitan itu, Eko memperlihatkan lukisan Nyi Roro Kidul yang merekam legenda tersebut. Di sana digambarkan seorang ratu yang mengendalikan kereta kuda dalam balutan ombak besar yang bergulung-gulung.

“Jangan-jangan legenda itu sebenarnya pesan bahwa pernah ada tsunami di sana?” katanya.

Itu dikuatkan dengan legenda ratu pantai selatan tersebut yang digambarkan sering meminta tumbal dengan mengirimkan ombak besar jauh ke daratan. Kemudian, sebagian korbannya dikirim kembali ke darat sebagai pesan dari Nyi Roro Kidul. Persis kejadian tsunami.

Bagi Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Herry Harjono, mengaitkan legenda Nyi Roro Kidul dengan sejarah tsunami merupakan ide “aneh” yang berpotensi untuk mengungkap sejarah kejadian tsunami. Dia mengatakan, bantuan ilmuwan sosial untuk mengungkap asal-muasal legenda itu juga diyakini bisa membantu penelitian sejarah kejadian tsunami.

“Pikiran yang sekarang berkembang ialah, boleh jadi pernah ada kejadian besar yang sangat membekas masyarakat jaman dahulu. Kejadian itu terekam dalam legenda Nyi Roro Kidul,” katanya dalam sebuah workshop paleotsunami, di Bandung.

Persoalan yang ingin diungkap dalam paleotsunami, antara lain sejarah terjadinya tsunami dan berapa besarannya. Untuk itu, menurut Herry, ada pertanyaan yang ingin diungkap, “Kapan legenda itu mulai berkembang?”

Kisah seperti itu, misalnya, akan memperkuat hasil penelitian geologi yang mencari jejak tsunami purba. Misalnya mengenai bukti gempa dan endapan tsunami yang terjadi pada 400 tahun lalu di Cilacap dan Pangandaran yang diyakini jauh lebih besar ketimbang yang terjadi pada 2006.

Dalam sebuah poster yang dipamerkan di workshop disebutkan, empat kandidat endapan tsunami ditemukan di tebing sungai Cimbulan Pangandaran. Salah satunya berupa lapisan pasir tebal hingga 20 cm yang diendapkan di atas lumpur mangrove dan ditutupi endapan banjir.

Pasir itu mengandung cangkang “fora minifera” yang biasanya hidup di laut lepas. Analisis pentarikhan umur terhadap dua sampel yang diambil dari dua tempat berbeda menunjukkan lapisan pasir tsunami itu diendapkan 400 tahun lalu.

“Mungkinkah kejadian tsunami ini terkait dengan asal mula legenda Nyi Roro Kidul?” demikian pertanyaan dalam buku berjudul “Selamat dari Bencana Tsunami” yang berkisah tentang orang-orang yang sintas dari tsunami Aceh dan Pangandaran.

Buku itu juga membahas sejumlah cerita tradisional yang diyakini terkait dengan peristiwa tsunami.

Bagi Herry, dukung-mendukung ilmuwan sosial dan peneliti geologi itu suatu saat akan memberikan hasil yang bisa memberikan data untuk menjawab pertanyaan “seberapa sering tsunami terjadi di pantai selatan?”

Jawaban atas pertanyaan itu akan memberikan banyak konsekwensi, setidaknya bisa mengubah pandangan hidup masyarakat di kawasan itu bahwa mereka hidup dalam daerah yang rawan tsunami?

Kalau itu tercipta, maka masyarakat akan mudah diajak untuk hidup akrab dengan tsunami, mudah mengajak mereka untuk selalu bersiaga menghadapi bencana, hingga mudah untuk mengajari mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan diri dengan benar ketika bencana itu akhirnya tiba.

Pengetahuan lokal

Bagi Eko, memperlakukan legenda sebagai pesan dari nenek moyang mengenai tsunami juga mengangkat kembali harkat legenda itu dari berbagai bungkus yang selama ini menutupinya.

Soalnya, kata dia, banyak cerita turun-temurun di sejumlah daerah, yang jika dicermati, bisa dicocokkan dengan kejadian tsunami. Dari perjalanannya ke sejumlah daerah yang pernah dilanda tsunami, dia mendapati cerita yang sebenarnya merupakan pengetahuan lokal untuk menyelamatkan diri dari bencana terjangan gelombang besar.

Dia menemukan itu mulai dari Majene, Lombok, Mentawai, dan Simeulue, walaupun yang masih mengingat pengetahuan tradisional itu sebagai kiat untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami itu hanya di Simeuleu.

Pengetahuan itu disebut oleh masyarakat setempat sebagai “smong”.

Bagi peneliti tsunami, Simeulue, pulau di barat daya Aceh, merupakan laboratorium sempurna mengenai tsunami. Di sana, peneliti mendapati banyak endapan tsunami, catatan gempanya lengkap, dan ada pesan nenek moyang tentang tsunami yang terus dipatuhi masyarakatnya.

Dalam buku “Selamat dari Bencana Tsunami” disebutkan bahwa Pulau Simeulue berada paling dekat dengan pusat gempa bumi 26 Desember 2004. Namun hanya tujuh orang yang meninggal akibat sapuan gelombang tsunami. Itu berkat “smong”.

“Smong” memuat pesan sederhana, namun masih dipatuhi warga Simeulue. Pesan itu berbunyi: “Jika terjadi gempa bumi kuat diikuti oleh surutnya air laut, segeralah lari ke gunung karenair laut akan naik”.

Pengetahuan tradisional itu muncul setelah tsunami 1907. Disebutkan, seringnya tsunami sebelum 1907 di pulau itu memiliki andil bagi bersemainya pengetahuan tersebut. Catatan sejarah dan penelitian geologi menunjukkan pulau itu terlanda tsunami pada 1797, 1861, dan 1907.

Menurut dia, pengetahuan serupa juga dimiliki masyarakat Mentawai, Sumetera Utara.

Banyak orang di pulau itu yang masih hafal pengetahuan yang diturunkan dalam bentuk syair. Namun, syair itu umumnya tidak lagi dipahami sebagai warisan untuk menghadapi tsunami.

Itu karena kata “teteu”, judul syair tersebut, diartikan sebagai “kakek”, walau bisa juga diartikan sebagai “gempa bumi”.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, syair itu berbunyi: Teteu, sang tupai bernyanyi/Teteu, suara gemuruh datang dari atas bukit-bukit/ Teteu, ada tanah longsor dan kehancuran/Teteu dari ruh kerang laut sedang marah/karena pohon baiko telah ditebang/Burung kuliak bernyanyi/Ayam- ayam berlarian/Karena di sana teteu telah datang/Orang- orang berlarian.

Di sana, kata “teteu” lebih diartikan sebagai “kakek”, sehingga maknanya jauh dari bencana. Sedangkan, jika “teteu” diganti dengan “gempa bumi”, maknanya akan lebih kuat.

Terbungkusnya pesan inti yang terkandung dalam pengetahuan lokal di Mentawai itu disebut sebagai kecenderungan yang ada di banyak daerah. Salah satu faktornya, tidak ada catatan yang bisa diwariskan oleh generasi yang lahir jauh hari setelah tsunami terjadi.

Apalagi, tsunami raksasa umumnya terjadi ratusan tahun sekali, sehingga cerita turun-temurun yang diwariskan berubah menjadi legenda yang penafsirannya bisa berbeda dari maksud semula. Ketika tsunami raksasa datang suatu kali, tidak ada lagi orang yang pernah mengalaminya, sehingga syair turun-temurun itu diturunkan sekadar warisan.

Menurut Eko, mengaitkan pengetahuan lokal dengan penelitian tsunami purba merupakan kesengajaan yang dilakukannya. Soalnya, selama ini catatan sejarah yang dimiliki Indonesia sangat pendek, dan tidak ada catatan yang menyebut gelombang raksasa yang terjadi 400 tahun lalu, misalnya. Yang banyak ditemukan justru cerita turun-temurun yang bisa ditafsirkan sebagai pesan tentang tsunami.

Dengan mengumpulkan dan mempelajari pengetahuan tradisional, diharapkan membantu analisis kejadian tsunami di masa lalu.

Mengetahui tsunami masa lalu, katanya, akan membantu masyarakat sekitar untuk bereaksi secara tepat ketika menghadapi bencana serupa pada masa datang.

Eko mengatakan, penelitian tsunami di Meulaboh dan Thailand selatan menghasilkan temuan yang mengejutkan. Temuan yang dipublikasikan secara bersamaan dalam terbitan jurnal ilmiah internasional “Nature” edisi Oktober itu menunjukkan bahwa tsunami raksasa serupa dengan yang terjadi pada 2004 pernah terjadi di Aceh beberapa ratus tahun yang lalu.

Seandainya temuan itu sudah terungkap sebelum tahun 2004, katanya, maka usaha untuk menekan jumlah korban jiwa dan kerugian mungkin dapat dilakukan.

Untuk menekan kerugian seperti itu pula, menurut Eko, upaya penelitian paleotsunami harus ditingkatkan kapasitasnya. Upaya itu tidak lain untuk mengambil pelajaran dari kejadian masa lalu, termasuk dari penggalian daerah tsunami dan pengetahuan tradisional yang melingkupinya,

Menurut dia, selama ini penelitian serupa tidak sebanding dengan jumlah tsunami yang pernah terjadi di negeri ini. Hal itu bisa dilihat dari jumlah peneliti yang terjun dalam penelitian tsunami yang masih sedikit.

Maka, selain menggali tanah di daerah-daerah yang pernah dilanda tsunami untuk mencari bukti tsunami purba, Eko pun rajin menggali cerita lokal, yang mungkin ada kaitannya dengan gelombang besar yang senang masuk ke daratan itu. (*)

COPYRIGHT © 2008
Original Source :http://www.antara. co.id/arc/ 2008/11/13/ nyi-roro- kidul-dan- risiko-bencana- tsunami/


Tanggapan

  1. aku ingin mengetahui lebih banyak legenda -legenda tentang nyai roro kidul dengan sejelas – jelasnya, jadi tolong kirim balik ke email saya,,,

    thanks

  2. saya ingin mengetahui lagenda-lagenda
    nyi roro kidul secara dalaman .
    tolong kirim balik ke email saya
    ribuan terima kasih

  3. Bagi yang mengetahui Ratu Pantai Selatan adalah nyata dan ada bukan legenda. Sebenarnya tanah jawa ini seperti yang selalu diceritakan oleh para leluhur memiliki peradaban yang adiluhung ( maaf kalau salah nulis soalnya setengah jawanya setengah).

    Seperti diketahui bahwa manusia jawa adalah salah satu manusia tertua didunia. Maka tidak salah kalau manusia jawa disebut jawi yang artinya mengetahui. tidak lagi mempermasalahkan mengenai keTuhanan. Salah satu contoh pada saat terpisahnya pulau – pulau nusantara, seperti jawa – sumatera atau jawa – bali dan lain2nya. Tidak terdapat korban jiwa karena mereka rata rata sasmita terhadap gejala alam. Makanya jangan heran kalo mbah Marijan selamat saat gunung merapi mau meletus walaupun disekitar rumahnya berseliweran api.
    Dan yang lebih hebat lagi pada suatu jaman jauh sebelum jaman dinosaurus nenek moyang orang jawa tersebar hampir keseluruh dunia, terbukti baru baru ini di Jerman ditemukan fosil yang menyerupai penemuan fosil di trinil.

    Maka jangan juga heran kalau sebenarnya agama agama didunia ini asalnya dari jawa yang dikemas sesuai dengan daerahnya masing – masing. Apakah pernah mandengar bahwa perahu nabi Nuh kayunya terbuat dari kayu jati yang hanya ada di bumi nusantara ?

    Ada satu pertanyaan, mengapa Ka’bah diselimuti dengan kain hitam? hampir semua orang yang beribadah haji memakai warna putih sabagai lambang kesucian. Dan mengapa orang – orang bersusah payah ingin menyentuh batu hajar aswat yang juga warna hitam? dan yang terakhir pada saat menentukan tibanya hari raya Idul Fitri orang rame rame memperdabatkan waktu yang tepat untuk menyambutnya, yang tidak lain adalah purnama tilem yaitu gelap gelapnya bulan ?

    Tapi sayangnya seperti yang telah disabdakan oleh Jayabaya bahwa orang jawa tinggal separo bahka sekarang malah tinggal segelintir saja yang mengetahui keagungan budanya nenek moyangnya sendiri.

    China, Jepang dan banyak negara lainynya besar karena menjunjung tinggi adat dan budaya leluhurnya. Tapi kita menganggap leluhur kita sendiri musrik.

    thanks – rahayu

  4. Asw, alhamdulillah

    Mohon maaf saya numpang komentar.
    pertama adalah sangat sulit untuk menganalisa sesuatu dari sudut pandang yg beragam.

    Tsunami adalah hasil subduksi kata Mas Sapto yg digelar oleh Mas Wied. Subduksi dari Lempeng Australia di sepanjang Pantai Barat Sumatera dan Pantai Selatan Jawa sampai Timor jelas sangat bisa berakibat tsunami didukung oleh tekanan panas inti bumi yg proses akhirnya kita rasakan di sidoarjo. Proses subduksi ini jg mengakibatkan naiknya pantai selatan jawa dan turunnya pantai utara (nungging). tp jgn khawatir proses ini msh ratusan tahun lg br terasa. Jadi kanjeng Ratu kayaknya gak ikutan deh.

    menanggapi mbak Rahayu/Mahameru, Perahu Nabi Nuh dipercaya para Masyaikh terbuat dari kayu Kaukah/Koka yg hanya terdapat di Timur Tengah dan Columbia (sekarang sudah langka). Kain hitam penutup Ka’bah berasal dari Dinasti Abbasiyah yg mengikuti bendera dan pakaian Sayidina Abbas yg berwarna hitam. Hajar Aswad, batu dr surga dititipkan oleh Jibril as kepada Nabi Nuh untuk disampaikan kepada Nabi Ibrahim as, dsimpan di Jabal Rahmah sebelum diambil dan diletakkan di Ka’bah oleh Nabi Ibrahim as. Mengapa dicium??
    berikut petikan kalimat Sayidina Umar ra tatkala menciumnya “Hai batu hitam jelek, aku tahu kau tak akan memberikan manfaat apapun padaku, kalau saja aku tidak melihat Rasullah saw menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu”

    Harap kita pisahkan antara budaya dan musyrik, karena syariat Islam yg dibawa Rasulullah saw tidak berlaku bagi umat yg sebelumnya.

    Mohon maaf bila tak berkenan, karena kurangnya pengetahuan saya. Terima kasih

    Allahu’alam bissawab – Wassalam

  5. Persoalan mitos dan etos selalu saja menjadi medan magnet pembahasan yang tak ada hentinya.

    Pertama, sedikit koreksi. Kanjeng Ratu Kidul sangatlah berbeda dengan Nyi Roro Kidul seperti yang sering digambarkan secara salah oleh sinetron-sinetron kita.

    Informasi tentang Kanjeng Ratu Kidul memang berada di wilayah masa lalu yang tidak bisa dijangkau oleh pengetahuan sejarah modern. Hingga akhirnya lebih diposisikan sebagai legenda bukan sejarah.

    Tsunami di satu sisi, terkait dengan pergeseran lempeng bumi, adalah sebuah wacana ilmiah yang dikembangkan untuk mempelajari perilaku alam guna mendapatkan informasi sedini mungkin yang sangat bermanfaat bagi keselamatan manusia.

    Di sisi lain, kearifan lokal yang masih tertinggal di beberapa budaya lokal, justru merupakan bentuk pengetahuan alam yang mumpuni dalam proses interaksi antara manusia dan alam.

    Ketiga variabel diatas, berjalan sesuai dengan aras hukum causalitas dalam ranah yang berbeda. Mencoba mensublimasi ketiganya dalam satu pemahaman kesadaran justru akan menambah masalah baru ketika parameter dan benchmark yang digunakan diletakkan pada perspektif dan asumsi yang berbeda.

    Solusinya.., biarkan ketiganya berjalan pada arasnya masing-masing sehingga setiap orang boleh meramunya dengan pemahaman kesadaran subyektifnya masing-masing sesuai dengan maqam kebutuhannya.

  6. Persoalan mitos dan etos selalu saja menjadi medan magnet pembahasan yang tak ada hentinya.

    Pertama, sedikit koreksi. Kanjeng Ratu Kidul sangatlah berbeda dengan Nyi Roro Kidul seperti yang sering digambarkan secara salah oleh sinetron-sinetron kita.

    Informasi tentang Kanjeng Ratu Kidul memang berada di wilayah masa lalu yang tidak bisa dijangkau oleh pengetahuan sejarah modern. Hingga akhirnya lebih diposisikan sebagai legenda bukan sejarah.

    Tsunami di satu sisi, terkait dengan pergeseran lempeng bumi, adalah sebuah wacana ilmiah yang dikembangkan untuk mempelajari perilaku alam guna mendapatkan informasi sedini mungkin yang sangat bermanfaat bagi keselamatan manusia.

    Di sisi lain, kearifan lokal yang masih tertinggal di beberapa budaya lokal, justru merupakan bentuk pengetahuan alam yang mumpuni dalam proses interaksi antara manusia dan alam.

    Ketiga variabel diatas, berjalan sesuai dengan aras hukum causalitas dalam ranah yang berbeda. Mencoba mensublimasi ketiganya dalam satu pemahaman kesadaran justru akan menambah masalah baru ketika parameter dan benchmark yang digunakan diletakkan pada perspektif dan asumsi yang berbeda.

    Solusinya.., biarkan ketiganya berjalan pada arasnya masing-masing sehingga setiap orang boleh meramunya dengan pemahaman kesadaran subyektifnya masing-masing sesuai dengan maqam kebutuhannya.

    Tabik….

  7. Ada tambahan sedikit.. Sebelumnya mohon maaf tidak sengaja dua kali posting komentar yang sama.

    @ abee
    Sekedar info.., Rahayu bukanlah nama. Jadi tidak perlu disebut mbak.. Rahayu adalah uluk salam bagi orang Jawa yang memiliki pemaknaan yang sama dengan Assalamualaikum.

    Keislaman yang ada sekarang ini memang pada akhirnya menggiring kita menjadi ke-Arab2an. Sehingga semua kebenaran islami akhirnya dimaknai secara Arab. Mulai dari penampilan sampai dengan cara bicara serba ke Arab2an, hanya untuk menunjukkan keislaman kita.

    Bagi orang Arab, tentu harus demikian adanya. Tapi bagi orang Jawa, Sunda, Batak, dllnya; kebenaran islami semestinya dimaknai sesuai dengan jati diri kebudayaannya.

    Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan hanya rahmatan lil Arab. Allah juga tidak berasal dari Arab dan hanya mengerti bahasa Arab. Jadilah seorang muslim tanpa menjadi orang Arab.

    Saya setuju dengan Mahameru, jauh sebelum agama-agama import masuk ke Nusantara, sesungguhnya kita sudah lebih dulu mengenal Tauhid.

    Itu sebabnya pada abad ke 6 islam tidak turun di Nusantara melainkan di Arab karena kita disini sudah jauh lebih beradab ketimbang Arab yang jahiliyah.

    Tabik….

  8. yup… saya setuju islam bukan rahmatan lil Arab tapi rahmatan lil alamin.. jangan karena mau dilihat muslim jadi kearab-araban.. biarlah kita dengan budaya kita dan menjadi muslim yang mukmin….

  9. nyi roro kidul. sudahkah kita memliki referensi keilmuan obyektif yg berakar di tanah ilmu-ilmu jawa untuk memahaminya?

  10. @ mahendra & mahameru

    setuju…..

  11. asw,

    alhamdulillah, mohon saya dimaafkan atas kurangnya pengetahuan saya.

    Insya Allah saya akan lebih instropeksi.

    lainnya saya sangat setuju dengan pendapat saudara

    wass

  12. ah infonya keren..terbukti kan jika ternyata memang tsunami tak sekali saja terjadi.. :D hebat!! di link ah

  13. PERNYATAAN NYI RORO KIDUL, DEWA BRAHMANA, DEWA WISHNU,
    DEWI KWAN-IM, DEWI KALI DAN SELURUH DEWA DEWI
    Banyak hal yang telah dilakukan oleh ribuan dukun (Paranormal), Kyai, Pendeta2, dan Tokoh agama sesat lainnya yang bersekutu dengan setan hanya untuk menghalangi kebangkitan Nyi Roro Kidul. Namun Kamu semua telah Gagal Total.Usaha yang dilakukan manusia iblis tersebut adalah :
    1. Menyebar kisah jelek bahwa nyi roro Kidul
    tangan kanan Lucifer, santet, susuk, kawin
    dgn sultan2, Kekuasaan, harta dsb.
    2. Mengadakan Upacara Penutupan Batu Hobon thn
    1986 yang merupakan Kuburan Ayah dan
    Saudara Nyi roro kidul yaitu raja Tea-Tea
    Bulan, Raja Huti, Saribu Raja dll. Mereka
    membuat Batu Hobon Kotor dan Bau busuk
    dengan memecahkan puluhan ribu telor dan
    menyiramnya dengan jeruk purut. Coba Kepala
    Kalian aja yang dilempar kotoran itu.
    3. Melakukan Upacara thn 1987 di pantai
    selatan untuk menghancurkan istana Nyi Roro
    Kidul…. Dasar kalian manusia hina dan
    bodoh..Bocah-bocah edan… Baru belajar
    ilmu mau menantang saya………..
    4. Dengan disokong Susilo Bambang Yudhoyono
    Melakukan lagi upacara penghinaan di Taman
    Mini Jakarta dengan dalili Kebudayaan.
    Tujuan Sebenarnya Memancing Agar Saya
    Keluar untuk di bunuh.

    Sadarlah Manusia-Manusia Sesat. Sekuat apapun upaya kalian mencari dan membunuh Saya, pasti gagal. Karena semua yang dinubuatkan Tuhan Pencipta Alam tidak dapat digagalkan oleh apapun. Kebangkitan Ratu Pantai Selatan, bersama orang-orang niniwe telah terjadi.

    Kamu Semua Manusia sadarlah Kembalilah ke jalan Tuhan. Jangan percaya hal2 gaib dukun-dukun dsb. terutama yang berada didunia keagamaan, apalagi mengaku-aku Roh kudus atau apapun namanya. Itu semua Iblis Penipu.

    Percaya aja ama hati kamu yang bersih dan tulus dan Tuhan Sang Pencipta. CUKUP

    Saya tegaskan.
    Tidak ada Roh Kudus yang bisa turun ke bumi tanpa sesizin saya.

    Jadi Semua Roh yang selama ini kesurupan dan mengaku aku raja huti, tea tea bulan, saribu raja, Roro Kidul, Dewa Wishnu, Dewi Kwan-In dll atau mengaku-aku leluruh kamu baik suku batak, jawa, China, India, Barat, dsb adalah Iblis Penipu.

    Salam Hormat Saya Pada Semua Umat Beragama.

    Semua Agama Itu sama. Semuanya berasal dari sang pencipta. Jadi berdamailah. Jangan Sekali-kali Kamu merasa agama kamu yang paling benar. Agama yang kamu anut benar, tapi kamu manusia yang salah menjalankan karena mudah terpengaruh hal-hal ajaib atau gaib yang semata-mata permainan setan yang telah menguasai seluruh sisi kehidupan manusia.

    Tugas dan janji saya untuk menyatakan kebenaran sang pencipta. Selanjutnya terserah Kamu manusia memilih jalanmu sampai hari penghakiman kami tetapkan.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori