Oleh: wied | Oktober 29, 2008

Pernikahan Dalam Perspektif Jawa

Salah satu falsafah jawa yang bermanfaat memberikan bekal bagi seorang laki-laki sebelum menikah adalah agar memiliki lima “ngo” terlebih dahulu. Lima “ngo” tersebut adalah harus mampu ngopeni (memelihara), mampu nglambeni (memberikan pakaian), mampu ngomahi (membangunkan rumah), mampu ngayomi (mampu melindungi/mengayomi) dan mampu ngeloni (mampu berhubungan seksual).

Lima ngo ini meliputi dimensi materi dan rohani. Tiga ngo yang pertama yaitu ngopeni, nglambeni dan ngomahi lebih bersifat material. Sehingga harus dipenuhi secara material juga. Sedangkan dua ngo selanjutnya yaitu ngayomi dan ngeloni lebih bersifat rohani. Perasaan bahagia dan tenang berada dalam sebuah keluarga hanya bisa kita rasakan dalam hati saja.

Seperti apakah lima ngo tersebut, mari kita bahas sedikit saja dari masing-masing lima ngo ini.

Ngo yang pertama, kedua dan ketiga adalah ngopeni, nglambeni dan ngomahi. Tiga ngo pertama ini berarti laki-laki sebagai pemimpin keluarga harus mampu memenuhi kebutuhan primer isterinya yaitu pangan (makanan), sandang (pakaian) dan papan (rumah). Darimana kita bisa memenuhi kebutuhan primer itu, tentunya berasal dari sumber penghasilan. Sumber ini bisa berupa apa saja dan bisa berasal darimana saja. Hanya saja sebagai makhluk ciptaan Allah, mungkin lebih baik apabila kita tahu diri untuk mencari sumber penghasilan yang halal dan dalam koridor yang diperintahkan oleh Allah. Karena perjalanan hidup kita akan menjadi lebih tenang apabila makanan yang dimakan, pakaian yang digunakan dan rumah yang ditinggali oleh isteri dan anak kita berasal dari sumber yang halal.

Ngo yang keempat adalah ngayomi. Seorang laki-laki yang memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan harus mampu memberikan perlindungan atau ayoman kepada isterinya baik secara fisik maupun mental. Laki-laki tersebut harus mampu melindungi keluarganya dari bahaya. Pada saat ada rampok misalnya, maka laki-lakilah yang memiliki kewajiban untuk berada di depan keluarganya untuk membela dan mempertahankan harta keluarganya. Pada saat sang isteri sedang sedih, maka si suami harus mampu dan bersedia memberikan bahunya sebagai tempat bersandar dan berkeluh kesah. Suami juga harus mampu mengatur waktunya sebaik mungkin untuk bekerja, keluarga dan sosial, sehingga isteri tidak merasa diabaikan atau ditinggalkan. Pada saat isteri sedang marah, maka suami harus mampu meredam dan mendinginkan emosi sang isteri. Pada saat keluarga sedang dilanda masalah, suamipun harus mampu memberikan solusi riil dan realistis.

Mengayomi ini sebenarnya lebih banyak berada dalam dimensi immaterial, karena lebih banyak dirasakan oleh hati dibandingkan dirasakan secara fisik. Namun efek yang ditimbulkan oleh kenyamanan secara immaterial ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan kenyamanan secara material. Isteri kita pasti akan lebih menerima apabila berada dalam kondisi kekurangan secara material namun kaya hati dibandingkan kaya secara material namun hatinya tertekan karena tidak pernah merasakan kehangatan kasih sayang seorang suami.

Ngo yang terakhir adalah ngeloni. Artinya kelengkapan sebagai seorang laki-laki yang mutlak harus dimilki oleh suami adalah kemampuan untuk berhubungan seksual. Memang sih seks bukanlah hal yang paling penting dalam sebuah rumah tangga, namun seks-lah yang menjadi bumbu pemanis dan penikmatnya. Tanpa seks, rumah tangga akan menjadi seperti sayur tanpa garam. Hambar. Bahkan romantisme juga merupakan sebagian dari prosesi hubungan seksual antara suami dan isteri.

Sumber : Tulisan Sdr. fajar AriWibowo dari Milis Air putih @ yahoogroups.


Tanggapan

  1. humm bener juga…saya baru mengerti jadi saya disni harus bener memilih pria yang bisa NGO 5 ke saya ya pak :D

    • ngo 5 yang mn????


Beri tanggapan

Your response:

Kategori