Oleh: wied | September 9, 2008

Cerita Rakyat Tentang Layang-Layang Tradisional Muna

Layang-Layang Tradisional Muna (Kaghati)

Sumber : www.munakab.go.id

Mengapa layang-layang tradisional Muna Kaghati tetap dilestarikan oleh mayarakat Muna. Salah satunya karena disamping sebagai hiburan dikala sesudah menanam dan dikala setelah selesai panen, tapi juga berlatar belakang yang sangat sakral dan keyakinan mendalam bagi masyarakat tradisional Muna dahulu kala serta mempunyai nilai ritual tersendiri berikut penjelasan dari nara sumber tentang cerita rakyat dari turun-temurun yang tidak tetulis sebagai berikut.

Peradaban Nusantara Update



Nara Sumber :
Nama : LA HADA
Jenis kelamin : laki-laki
Usia : 65 Tahun
Pekerjaan : Penjaga Gua-gua purbakala Kab. Muna
Alamat : Desa Liyang Kobori Kec. Lohia Kab. Muna Propinsi Sulawesi Tenggara

Bahwa sesuai cerita turun temurun,masyarakat terutama yang mendiami pulau muna ada dua kelompok, kelompok pertama yang tnggal dalam gua dan kelompok ke dua yang tinggal di atas pohon. Kelompok masyarakat yang tinggal di gua-gua dipimpin oleh seorang kepala kelompok yang bernama:LAPASINDAEDAENO dengan istrinya yang bernama WA NTIWOSE, mereka mempunyai anak laki-laki yang bernama: LA RANGKU. Pada saat itu ke dua kelompok masyarakat ini hidup bersamaan dan tidak pernah ada pertengkaran diantara mereka. Mereka belum mengenal pakayan dan api, makanannya hanya binatang-binatang,buruan berupa babi hutan, biawak, ular dan lain-lain. Mereka juga memakan makanan yang serba mentah.

Pada suatu ketika istri kepada kelompok yang tinggal di gua-gua berkata kepada suaminya bahwa ia ingin makanan yag bukan hanya dari binatang hasil buruan hutan,tapi ingin mengganti dengan jenis makanan dari tumbuh-tumbuhan.Mendengar ucapan istrinya tersebut LA PASINDAEDAENO atau kepala kelompok masyarakat gua pergi untuk bermeditasi. Beberapa hari kemudian selesailah meditasinya dan beliau mendapat petunjuk yakni harus mengorbankan anak laki-laki mereka, kemudian jasadnya dibagi empat dan dikuburkan di empat penjuru di tenga hutan. Petunjuk tersebut di laksanakan oleh Kepala kelompok masyarakat gua. Empat puluh hari kemudian di panggil istrinya untuk masuk hutan, dan setelah tiba di tempat di mana anak mereka dikuburkan jasadnya, mereka melihat tumbuhan menjalar berupa umbi- umbian termasuk “KOLOPE” (gandung). Dengan melihat tumbuhan tersebut maka gembiralah hati sang istri dan sang suami berkata : bahwa sesungguhnya itulah anak laki-laki mereka.

Masyarakat pada waktu itu hanya bersenag-senag pada waktu siang hari karena terdapat matahari, tapi bila pada malam hari mereka sangat susah dan sedih,sehingga mereka berkeyakinan bahwa mataharilah yang membuat mereka bisa hidup.

Selanjutnya kepala kelompok masyarakat gua bermeditasi lagi guna mendapatkan petunjuk untuk kelanjutan kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Dalam perjalanan beliau melihat angin yang sangat kencang bertiup dan melihat daun-daun gandung beterbangan di langit sejak saat itu beliau merenung dan dalm renungannya beliau mendapatkan petunjuk untuk naik ke mata hari, sehingga beliau menggerakkan seluruh masyarakatnya untuk memetik daun gandung dan membuat tali sepanjang-panjangnya.Daun gandung tersebut disusun di atas rangkayan bambu yang sudah diraut dan dibuatkan layang-layang seperti model segi empat,lalu diikat dengan tali dan diterbangkan secara beramai-ramai.Setelah layang-layang sudah terbang mereka bersorak-sorak gembira dan masing-masing berpegang di tali layang-layang agar mereka dapat terbang ke langit dan sampai ke matahari.

Tetapi niat tersebut tidak mungkin tercapai hingga pada akhirnya mereka putus asah, namun mereka tetap yakin bahwa layang-layang merupakan sarana penolong mereka dan memayungi mereka agar tidak terkena sengatan matahari di hari kemudian setelah mereka meninggal dunia.Keyakinan ini masih dianut oleh sebagian kecil masyarakat di Pulau Muna hingga sampai sekarang ini.Sehingga setiap petani membuat layang-layang dan layang-layang tersebut bukan hanya suatu benda untuk bermain tapi ada nilai-nilai tersendiri yang sangat sakral terutama pasa upacara-upacara sesudah panen.

Layang-layang biasanya menjadi hiburan mereka yang di naikan sejak sore hari hingga pagi. dibuatlah suatu upacara dengan memutuskan tali layangan tersebut dengan niat bahwa seluruh halangan dan rintangan yang tidak baik (kesialan) terbawa oleh layang-layang yang telah putus itu disertai sesajen berupa ketupat dan makanan-makanan lain yang di gantung ditali layang-layang.

Fakta sejarah tentang keberadaan layang-layang di Muna yang telah menjadi polemik dunia yaitu dengan adanya lukisan orang bermain layang-layang yang ada di salah satu Gua Purbakala sesuai hasil penelitian Arkeologi Nasional tahun 1981,1986,1991:
•Periodik : Epi – Paleotik (Mesolitik) atau zaman pra-sejarah,peralihan peradaban manusia
zaman batu.
•Lokasi : 8 km dari kota raha kemudian menempuh jalan raya pengerasan 5 km
selanjutnya tracking (jalan kaki) sejauh 4 km ke arah tenggara.Berada di atas bukit
batu ketinggian ± 80 km dengan kemiringan 90°.

Layang-layang yang seidentik dengan kaghati juga ada di kepulauan pacifik yang di miliki oleh suku maori yang mereka sebut MANU sedang di Muna ada juga jenis layang-layang untuk mainan anak-anak kecil yang disebut KAMANU-MANU KADAO yang hanya terdiri dari satu helai daun ubi gandung (kolope).


Tanggapan

  1. Indonesia adalah negeriku yang paling aku cintai. apapun yang dikatakan orang aku tetap bangga dengan negeri ini. Karena aku lahir, besar dan mati di bumi yang kaya ini. Hidup Inonesia.

    sukses terus mas

  2. saya kuliah d perencanaan wilayah dan kota universitas 45 makassar…..u perencanaan kab muna ke depan sya lgi cari bahan….berkaitan dengan sejarah layang2 yang memiliki nilai filosofi yg tinggi menjadi sebuah referensi yg cukup baik bwt sya…..tpi u lebih menambah referensi sya butuh banyak cerita2 ttg prilaku masyarakat d muna…knp…terus terang sja sejarahh kabupaten muna itu mmg susah dapat d ketaui yg pasti…klw u anak mudah sangat susah..u berbincang2 sma orang tua sja menyangkut sejarah….biasa d bilang kamu masi anak2 belum punya sesuatu yg cukup u bsa mengetahui sejarah……gmna …..?

  3. apik mas critane

  4. trims atas ceritanya. sy orang muna yang baru tau klw crita ttg “kaghati” spt itu. salam hormat unk bapak La Hada. mudah2an sy msh diberi wktu untk ktemu beliau untk mengantrkan FOTO BERSAMA.he..cerita ttg lia ngkobori, sy msh ingat. skrg sy di bogor, rindu pulang…………

  5. untuk teman2 mieno wuna. nobhari tula2no liwu so nidawu2 ne mie bhari. legenda gunung kansabha polulu, oe fitu kanteeno, oe kalimbungo, oe kandoli, dan masih bnyk cerita lain.
    pak Asis yang di 45 makasar, tetap smangat ya……saya akan bagga dengan anda.!!

  6. Seharusnya kaghati Muna jadi inspirasi orang muna untuk buat pesawat jangan hanya delowu-lowu, samentaeno we koro kowalamu.

  7. Alhamndulillah nobari dua mieno Wuna maka mina naobari mebutuno tula=tulano wuna terimakasi babak

  8. sy mahasiswa itenas bandung, jurusan arsitektur…sy lgi cari tau bagai mana bentuk rumah adat muna!!! sayangnya susah sekali di dapat….mengenai layang2, sy lgi design bangunan bermotif & beranalogi layang2 daun kolope…. mudah2an bisa jdi rumah contoh di raha….amin….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori