Oleh: wied | September 5, 2008

Prasasti Kedukan Bukit (Sriwijaya)

MENELUSURI MAKNA PRASASTI KEDUKAN BUKIT

oleh
NIA KURNIA SHOLIHAT IRFAN

DI ANTARA prasasti-prasasti Kerajaan Sriwijaya, prasasti Kedukan Bukit paling menarik diperbincangkan. Di samping banyak mengandung kata yang tidak mudah ditafsirkan, prasasti tersebut oleh beberapa sarjana dianggap mengandung kunci pemecahan masalah lokasi ibukota kerajaan besar itu, yang mendominasi pelayaran dan perdagangan internasional selama empat abad. Dari segi ilmu bahasa, prasasti Kedukan Bukit merupakan pertulisan bahasa Melayu-Indonesia tertua yang pernah ditemukan sampai saat ini.

Peradaban Nusantara Update



Alkisah, di daerah Kedukan Bukit, Palembang, terdapat batu bertuliskan huruf kuno yang dikeramatkan penduduk. Jika diadakan perlombaan berpacu perahu bidar di Sungai Musi, perahu yang akan dipakai ditambatkan dulu pada batu itu dengan harapan memperoleh kemenangan. Pada bulan November 1920, Batenburg seorang kontrolir Belanda mengenali batu itu sebagai prasasti. Penemuan itu segera dilaporkan pada Oudheidkundigen Dienst (Dinas Purbakala). Akhirnya, prasasti itu tersimpan di Museum Pusat Jakarta dengan nomor D.146.

Pada tahun itu juga, Residen Palembang L.C. Westenenk menemukan prasasti lain di daerah Talang Tuwo. Di Museum Pusat prasasti itu bernomor D.145. Kemudian kedua prasasti itu ditranskripsikan dan diterjemahkan oleh Philippus Samuel van Ronkel dalam tulisannya, “A Preliminary Notice Concerning Two Old Malay Inscriptions in Palembang”, pada majalah ilmiah Acta Orientalia, Volume II, 1924, hh. 12-21.

ISI PRASASTI

Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 604 Saka (682 M) dan merupakan prasasti berangka tahun yang tertua di Indonesia. Terdiri atas sepuluh baris, tertulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno, masing-masing baris berbunyi sebagai berikut:

1 Swasti, sri. Sakawarsatita 604 ekadasi su-
2 klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di
3 samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
4 wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
5 tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa
6 dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu
7 telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
8 sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
9 laghu mudita datang marwuat wanua …..
10 Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa

Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:
1 Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas
2 paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
3 perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang
4 bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga
5 tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
6 dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
7 tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
8 sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada
9 lega gembira datang membuat wanua …..
10 Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna

Prasasti Kedukan Bukit menguraikan jayasiddhayatra (perjalanan jaya) dari penguasa Kerajaan Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang (Yang Dipertuan Hyang). Oleh karena Dapunta Hyang membawa puluhan ribu tentara lengkap dengan perbekalan, sudah tentu perjalanan itu bukanlah piknik, melainkan ekspedisi militer menaklukkan suatu daerah. Dari prasasti Kedukan Bukit, kita mendapatkan data-data:

1. Dapunta Hyang naik perahu tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682). Tidak ada keterangan dari mana naik perahu dan mau ke mana.
2. Dapunta Hyang berangkat dari Minanga tanggal 7 Jesta (19 Mei) dengan membawa lebih dari 20.000 balatentara. Rombongan lalu tiba di Muka Upang (sampai kini masih ada desa Upang di tepi Sungai Musi, sebelah timur Palembang).
3. Dapunta Hyang membuat ‘wanua’ tanggal 5 Asada (16 Juni).
(Penyesuaian tarikh Saka ke tarikh Masehi diambil dari Louis-Charles Damais, “Etude d’Epigraphie Indonesienne III: Liste des Principales Datees de l’Indonesie”, BEFEO, tome 46, 1952).

Prasasti Kedukan Bukit hanya menyebutkan gelar Dapunta Hyang tanpa disertai nama raja tersebut. Dalam prasasti Talang Tuwo yang dipahat tahun 606 Saka (684 M) disebutkan bahwa raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menitahkan pembuatan Taman Sriksetra tanggal 2 Caitra 606 (23 Maret 684). Besar kemungkinan dialah raja Sriwijaya yang dimaksudkan dalam prasasti Kedukan Bukit.

Timbul setumpuk pertanyaan: Di manakah letak Minanga? Benarkah Minanga merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya, ataukah hanya daerah taklukan Sriwijaya? Apakah arti kalimat ‘marwuat wanua’? Benarkah kalimat itu menyatakan pembangunan sebuah kota seperti pendapat banyak ahli sejarah? Benarkah peristiwa itu merupakan pembuatan ibukota atau perpindahan ibukota Sriwijaya? Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yang tidak sederhana. “This text has caused much ink to flow,” kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.

BEBERAPA TAFSIRAN

Pada tahun 1975 Departemen P dan K menerbitkan enam jilid buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditetapkan sebagai buku standar bagi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Jilid II membahas Zaman Kuna, disusun oleh Ayatrohaedi, Edi Sedyawati, Edhie Wuryantoro, Hasan Djafar, Oei Soan Nio, Soekarto K. Atmojo dan Suyatmi Satari, dengan editor Bambang Sumadio. Tafsiran mereka terhadap isi prasasti Kedukan Bukit adalah sebagai berikut: Dapunta Hyang memulai perjalanan dari Minanga Tamwan, kemudian mendirikan kota yang diberi nama Sriwijaya. Mungkin sekali pusat Sriwijaya terletak di Minanga Tamwan itulah, daerah pertemuan sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri (Sejarah Nasional Indonesia, II, Balai Pustaka, Jakarta, 1977, h. 53).

Dr. Buchari, ahli epigrafi terkemuka, dalam tulisannya “An Old Malay Inscription of Srivijaya at Palas Pasemah (South Lampung)”, Pra Seminar Penelitian Sriwijaya, Pusat Penelitian Purbakala dan Peninggalan Nasional, Jakarta, 1979, hh. 26-28, memberikan penafsiran yang berbeda: Pada mulanya Kerajaan Sriwijaya berpusat di Minanga yang terletak di Batang Kuantan, di tepi Sungai Inderagiri, dengan alasan minanga = muara = kuala = kuantan. Lalu pada tahun 682 Dapunta Hyang menyerang Palembang dan membuat kota yang kemudian dijadikan ibukota kerajaannya yang baru. Jadi pada tahun 682 terjadi perpindahan ibukota Sriwijaya dari Minanga ke Palembang.

Dr. Slametmulyana, ahli filologi ternama, dalam bukunya Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi, Idayu, Jakarta, 1981, hh. 73-74, berpendapat bahwa Kerajaan Sriwijaya selamanya beribukota di Palembang dan tidak pernah berpindah-pindah. Isi prasasti Kedukan Bukit tidak ada hubungannya dengan pembuatan kota Sriwijaya, dan Minanga yang disebutkan dalam prasasti itu hanyalah sebuah daerah taklukan Sriwijaya. Slametmulyana melokasikan Minanga di Binanga, yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur.

LOKASI SRIWIJAYA

Pendeta I-tsing (634-713), dalam pelayarannya dari Cina ke India tahun 671, singgah di negeri Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya (tatabahasa Sansekerta). Ketika pulang dari India tahun 685 I-tsing bertahun-tahun tinggal di Sriwijaya untuk menerjemahkan naskah-naskah Buddha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. I-tsing kembali ke Cina dari Sriwijaya tahun 695. Selama di Sriwijaya dia menulis dua buah bukunya yang termasyhur, Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan (Catatan Ajaran Buddha yang dikirimkan dari Laut Selatan) serta Ta-T’ang Hsi-yu Ch’iu-fa Kao-seng Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India zaman Dinasti Tang).

Kedua karya I-tsing masing-masing diterjemahkan oleh Junjiro Takakusu, A record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago AD 671-695, by I-tsing, Oxford, London, 1896, dan oleh Edouard Chavannes, Memoire compose a l’epoque de la grande dynastie Tang, sur les Religieux Eminents qui allerent chercher la loi dans les pays d’Occident, par I-tsing, Ernest Leroux, Paris, 1894. Cuplikan uraian I-tsing juga terdapat dalam karya Gabriel Ferrand, L’Empire Sumatranais de Crivijaya, Imprimerie Nationale, Paris, 1922, Bab “Textes Chinois”, serta karya Paul Wheatley, The Golden Khersonese, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1961, Bab “Towards the Holy Land”. Kemudian Oliver W. Wolters dalam bukunya Early Indonesian Commerce, Cornell University Press, Ithaca, 1967, mengoreksi kekeliruan terjemahan Takakusu dan Chavannes.

Dalam kedua karyanya itu I-tsing memberikan informasi berharga mengenai letak dan keadaan Sriwijaya. Oleh karena dia lama berdiam di Sriwijaya, sudah tentu keterangannya sangat dapat dipercaya. I-tsing menyaksikan keadaan Sriwijaya dengan mata kepala sendiri. Uraian-uraiannya merupakan sumber berita dari tangan pertama. Tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan pernyataan I-tsing itu.

Kisah pelayaran I-tsing dari Kanton tahun 671 diceritakannya sendiri sebagai berikut: “Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan …. Setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama enam bulan untuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Beliau menolong mengirimkan saya ke negeri Malayu, di mana saya singgah selama dua bulan. Kemudian saya kembali meneruskan pelayaran ke Kedah …. Berlayar dari Kedah menuju utara lebih dari sepuluh hari, kami sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar) …. Dari sini berlayar ke arah barat laut selama setengah bulan, lalu kami sampai di Tamralipti (pantai timur India).” (Chavannes, h. 119; Ferrand, h. 4; Wheatley, hh. 41-42; Wolters, hh. 207-208).

Perjalanan pulang dari India tahun 685 diceritakan oleh I-tsing sebagai berikut: “Tamralipti adalah tempat kami naik kapal jika akan kembali ke Cina. Berlayar dari sini menuju tenggara, dalam dua bulan kami sampai di Kedah. Tempat ini sekarang menjadi kepunyaan Sriwijaya. Saat kapal tiba adalah bulan pertama atau kedua …. Kami tinggal di Kedah sampai musim dingin, lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah kira-kira sebulan, kami sampai di negeri Malayu, yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal itu senantiasa tinggal di Malayu sampai pertengahan musim panas, lalu mereka berlayar ke arah utara, dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan.” (Takakusu, h. 34; Wheatley, hh. 41-42; Wolters, hh. 227-228).

Dari uraian I-tsing jelas sekali bahwa Malayu terletak di tengah pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah. Jadi Sriwijaya terletak di selatan atau tenggara Malayu. Hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa negeri Malayu berlokasi di Jambi, sebab pada alas arca Amoghapasa yang ditemukan di Jambi terdapat prasasti bertarikh 1208 Saka (1286 M) yang menyebutkan bahwa arca itu merupakan hadiah raja Kertanagara (Singhasari) kepada raja Malayu. (Lihat: R.Pitono Hardjowardojo, Adityawarman, Sebuah Studi tentang Tokoh Nasional dari Abad XIV, Bhratara, Djakarta, 1966, hh. 36-38). I-tsing juga mengatakan bahwa Sriwijaya terletak di muara sungai yang besar (Chavannes, h. 176; Ferrand, h. 6; Wolters, h. 226). Maka satu-satunya tempat yang memenuhi syarat sebagai lokasi negeri Sriwijaya adalah PALEMBANG.

Ditinjau dari data arkeologi, pelokasian Sriwijaya di Palembang memperoleh pembuktian yang sangat kuat. Sebagian besar prasasti Sriwijaya ditemukan di Palembang: Kedukan Bukit, Talang Tuwo, Telaga Batu, lima buah pecahan prasasti, dan batu-batu mengenai ‘siddhayatra’. Pada salah satu pecahan prasasti terdapat keterangan mengenai pardatuan (istana raja). Yang lebih meyakinkan, prasasti Telaga Batu menyebutkan berbagai pembesar tinggi yang hanya mungkin ada di ibukota atau pusat pemerintahan suatu kerajaan, seperti putra mahkota, selir raja, senapati, hakim, para menteri, sampai pembersih dan pelayan istana. Lihat: George Coedes, “Les Inscriptions Malaises de Crivijaya”, BEFEO, tome 30, 1930, hh. 29-80; Johannes Gijsbertus de Casparis, Prasasti Indonesia II, Dinas Purbakala Republik Indonesia, Masa Baru, Bandung, 1956, hh. 1-46.

Ir. J.L. Moens, dalam karangannya “Crivijaya, Yava en Kataha”, dalam TBG, deel 77, 1937, melokasikan Sriwijaya di Muara Takus yang terletak pada garis khatulistiwa, berdasarkan uraian I-tsing bahwa di Sriwijaya orang yang berdiri pada tengah hari tidak mempunyai bayang-bayang. Tetapi di Muara Takus tidak ada bukti arkeologis yang lebih kuat daripada di Palembang. Pernyataan I-tsing itu tidak harus berarti Sriwijaya pada lintang nol derajat, melainkan dapat ditafsirkan bahwa Sriwijaya terletak di sekitar khatulistiwa. Palembang pun memenuhi syarat, sebab terletak pada posisi tiga derajat lintang selatan (masih dekat dengan khatulistiwa). Patut diingat, I-tsing biasa hidup di negeri Cina di mana bayang-bayang tengah hari cukup panjang. Dapat difahami jika dia mengatakan di Sriwijaya (Palembang) tidak ada bayang-bayang tengah hari.

Bahwa negeri Sriwijaya tidak terletak pada garis khatulistiwa, melainkan di selatan khatulistiwa, terbukti dari keterangan Al-Biruni yang menyatakan bahwa garis khatulistiwa terletak antara Kedah dan Sriwijaya. (Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi Persia, mengunjungi Asia Tenggara tahun 1030 dan menulis catatan perjalanan Tahqiq ma li l-Hind (Fakta-fakta di Hindia). Paul Wheatley, h. 219, menerjemahkan keterangan Al-Biruni: “The equator runs between Kedah and Srivijaya”).

Pada tahun 1954, atas perintah Menteri PP&K Muhammad Yamin, Dinas Purbakala mengadakan penelitian geomorfologi pantai timur Sumatera. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa pada abad ketujuh Jambi dan Palembang masih terletak di tepi laut. Jambi mempunyai kedudukan yang lebih strategis dalam menguasai lalu lintas pelayaran. Kapal-kapal dari arah India, Cina dan Jawa harus melewati Jambi, sedangkan Palembang hanya dilewati kapal-kapal yang berlayar antara Selat Malaka dan Jawa. Lagi pula, letak pelabuhan Jambi menghadap ke laut bebas, sedangkan pelabuhan Palembang hanya menghadap ke Selat Bangka.

Berdasarkan hasil penelitian itu, Dr. Sukmono dalam tulisannya “Tentang Lokalisasi Criwijaya”, Laporan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional Pertama, Jilid V, Madjelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, Djakarta, 1958, cenderung melokasikan Sriwijaya di Jambi. Kiranya pendapat Dr. Sukmono ini terlalu tergesa-gesa. Meskipun Jambi lebih strategis, tidaklah berarti Sriwijaya harus di Jambi, sebab tidak ada sumber sejarah yang mengatakan letak Sriwijaya strategis. Kata I-tsing, yang selalu disinggahi kapal-kapal adalah Malayu, bukan Sriwijaya. Jadi hasil penelitian geomorfologi itu justru membuktikan Jambi sebagai lokasi negeri Malayu!

Sewaktu Kerajaan Sriwijaya baru berdiri pada pertengahan abad ketujuh, negeri itu hanya sering disinggahi pendeta-pendeta Cina untuk urusan keagamaan. Kata I-tsing, pendeta Cina yang ingin mempelajari ajaran Buddha di India sebaiknya berdiam dulu di Sriwijaya untuk berlatih (Takakusu, h. 34; Coedes, The Indianized States, h. 81). Ditinjau dari segi keagamaan Sriwijaya memang menonjol. Tetapi dari segi ekonomi dan perdagangan Sriwijaya tertinggal oleh Malayu dan Kedah yang letaknya strategis. Itulah sebabnya pada akhir abad ketujuh Sriwijaya melancarkan ekspansi teritorial untuk menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis di Selat Malaka. Ketika I-tsing pulang dari India tahun 685, dia mengatakan bahwa Kedah dan Malayu sudah menjadi daerah kekuasaan Sriwijaya. Jelaslah bahwa dominasi Kerajaan Sriwijaya atas Selat Malaka bukanlah karena letak ibukotanya strategis, melainkan karena kerajaan itu mampu menguasai pelabuhan Malayu dan Kedah.

Kesimpulannya, ditinjau dari segi manapun (data arkeologi, uraian I-tsing, penelitian geomorfologi), tidak ada tempat lain yang cocok sebagai lokasi negeri Sriwijaya selain Palembang. Seperti kata Prof. Oliver W. Wolters, “Srivijaya had its capital at Palembang and nowhere else. In support of this location, there is an impressive consistency between the epigraphic evidence and I-tsing’s records” (Wolters, h. 208. Kesimpulan yang sama dikemukakan oleh Coedes, 1968, h. 92).

“MARWUAT WANUA”

Banyak ahli sejarah yang mengartikan ungkapan “marwuat wanua” pada prasasti Kedukan Bukit dengan “membuat kota”, sehingga timbul anggapan bahwa pada tahun 682 Dapunta Hyang datang ke Palembang untuk membuat kota Sriwijaya. Padahal pada tahun 671 I-tsing telah singgah di Sriwijaya. Menurut Hsin-T’ang-shu (Sejarah Baru Dinasti Tang), Kerajaan Sriwijaya telah mengirimkan utusan ke Cina pada periode 670-673. Lihat: Paul Pelliot, “Deux Itineraires de Chine en Inde a la Fin du VIIIe Siecle”, BEFEO, tome 4, 1904, h. 334. Hal ini berarti bahwa peristiwa “marwuat wanua” tahun 682 itu bukanlah menyatakan pembentukan negeri Sriwijaya.

Kata wanua memiliki arti ganda: kota (negeri) dan rumah (bangunan). Dalam beberapa bahasa daerah di Sumatera bagian selatan, sampai sekarang kata wanua berarti “rumah”, sering disingkat menjadi nua atau nuo. Prof. George Coedes, dalam karangannya Les Inscriptions Malaises de Crivijaya tahun 1930, memberikan arti: wanua = pays, royaume, forteresse (kota, kerajaan, rumah pertahanan). Lihat Coedes, 1930, h. 77. Ketika Van Ronkel mula-mula menerjemahkan prasasti Kedukan Bukit, dia mengartikan wanua dengan fortress (rumah pertahanan). Lihat Van Ronkel, hh. 20-21.

Jadi kalimat “marwuat wanua” dapat berarti “membuat kota” atau “membuat rumah”. Jika kita artikan membuat kota, kita terbentur pada kenyataan bahwa kota Sriwijaya sudah ada pada tahun 671. Maka satu-satunya pilihan adalah mengartikannya membuat rumah. Pada pecahan prasasti nomor D.161 yang ditemukan di Palembang, yang isinya serupa dengan isi prasasti Kedukan Bukit, tertulis: … wihara ini, di wanua ini (J.G. de Casparis, 1956, hh. 14-15). Jelaslah bahwa wanua (rumah) yang dibuat Dapunta Hyang tahun 682 adalah sebuah wihara (rumah peribadatan).

PERSOALAN MINANGA

Prasasti Kedukan Bukit mengatakan pada tanggal 7 Jesta 604 (19 Mei 682) Dapunta Hyang berangkat (marlapas) dari Minanga. Oleh karena dia meninggalkan Minanga dengan tentara yang bersukacita, mudahlah disimpulkan bahwa Minanga merupakan daerah yang baru saja ditaklukkan Sriwijaya. Mereka berangkat dari Minanga dengan sukacita—karena baru menang perang—untuk kembali ke ibukota di Palembang.

Di manakah letak Minanga? Anggapan para penyusun Sejarah Nasional Indonesia Jilid II bahwa Minanga terletak di pertemuan sungai Kampar Kiri dan Kampar Kanan bersumber pada pendapat Prof. Dr. R.M.Ng. Purbatjaraka dalam Riwajat Indonesia, I, Jajasan Pembangunan, Djakarta, 1952, h. 35. Alasannya, “tamwan” berasal dari kata “temu”, lalu Purbatjaraka menafsirkannya “daerah tempat sungai bertemu”. Mengapa harus di Kampar, Purbatjaraka tidak memberikan alasan. Pendapat ini dibantah dengan jitu oleh Prof. Dr. J.G. de Casparis yang membuktikan bahwa”tamwan” tidak ada hubungannya dengan “temu”, sebab kata yang terakhir ini sudah dipakai pada zaman Sriwijaya. Dalam prasasti Talang Tuwo terdapat enam buah kata “temu” (J.G. de Casparis, 1956, h. 13). Penelitian para ahli bahasa menyatakan bahwa kata “tamwan” pada prasasti Kedukan Bukit bukanlah nama tempat, melainkan kata biasa yang sekarang menjadi “tambahan”, sebagaimana kata wulan, sariwu, wanyak dan marwuat menjadi bulan, seribu, banyak dan membuat.

Pendapat Dr. Buchari yang mengatakan Minanga adalah Batang Kuantan (minanga = muara = kuala = kuantan) juga perlu diragukan. Kata “minanga” tidak ada hubungannya dengan “muara”, sebab kata “muara” juga sudah dipakai pada zaman Sriwijaya. Pada pecahan prasasti A baris ke-16 yang ditemukan di Palembang terdapat kata “muara”. Lihat: J.G. de Casparis, 1956, h. 5. Buchari sendiri mengakui bahwa di Batang Kuantan belum ditemukan peninggalan arkeologis yang menunjang pendapatnya, dengan mengatakan (1979, h. 28), “Memang di Batang Kuantan belum ditemukan peninggalan arkeologis. Tapi kan di sana belum diadakan penggalian? Siapa tahu nanti ada kejutan di sana.”

Untuk menetapkan daerah yang cocok bagi lokasi Minanga, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi:
(1) Daerah tersebut namanya mirip dengan Minanga.
(2) Daerah itu menurut prasasti Kedukan Bukit berjarak kira-kira sebulan pelayaran dari Palembang.
(3) Daerah itu lokasinya strategis mengingat ekspansi Sriwijaya bertujuan menguasai lalu lintas pelayaran dan perdagangan.
(4) Pada daerah itu terdapat peninggalan arkeologis yang membuktikan bahwa daerah itu pernah berperan dalam sejarah.

Kiranya daerah yang cocok bagi pelokasian Minanga adalah Binanga yang terletak di tepi Sungai Barumun, Sumatera Timur, seperti pendapat Dr. Slametmulyana. Daerah Binanga memenuhi persyaratan ditinjau dari segala aspek:
1. Pada abad ketujuh Binanga masih terletak di tepi laut.
2. Tempat itu ideal untuk mengawasi lalu lintas Selat Malaka.
3. Tempat itu dapat digunakan batu loncatan oleh armada Sriwijaya untuk menyerang Semenanjung. Seperti dikatakan I-tsing, pada tahun 685 (tiga tahun setelah penaklukan Minanga, 682) Kedah sudah ditaklukkan Sriwijaya.
4. Di daerah Padang Lawas, dekat Binanga, sampai kini terdapat biaro (wihara) Bahal, Sitopayan dan Sipamutung. Ini berarti Binanga pernah berperan dalam sejarah.
5. Perubahan nama Minanga menjadi Binanga sangat mungkin terjadi, sebab fonem m dan b sama-sama huruf bibir (bilabial). Kata mawa dan marlapas pada prasasti Kedukan Bukit kini berubah menjadi bawa dan berlepas (berangkat).

KESIMPULAN

Berdasarkan seluruh uraian di atas, isi prasasti Kedukan Bukit dapat ditafsirkan sebagai berikut:

Pada tanggal 11 Waisaka 604 (23 April 682) raja Sriwijaya yang bergelar Dapunta Hyang naik perahu dari suatu tempat untuk bergabung dengan tentaranya yang baru saja menaklukkan Minanga (Binanga). Lalu pada tanggal 7 Jesta (19 Mei) Dapunta Hyang memimpin laskarnya meninggalkan Minanga untuk pulang ke ibukota. Mereka bersukacita karena pulang dengan membawa kemenangan. Mereka mendarat di Muka Upang, sebelah timur Palembang, lalu menuju ibukota. Kemudian pada tanggal 5 Asada (16 Juni) Dapunta Hyang menitahkan pembuatan sebuah wanua (bangunan) berupa wihara di ibukota sebagai manifestasi rasa syukur dan gembira.

Boleh dipastikan bahwa pembuatan Taman Sriksetra pada tahun 606 Saka (684 Masehi), sebagaimana tercantum pada prasasti Talang Tuwo, masih merupakan rangkaian manifestasi rasa gembira akibat suksesnya siddhayatra (ekspedisi militer) dua tahun sebelumnya.

Oleh karena isi prasasti Kedukan Bukit (juga prasasti Talang Tuwo) menceritakan peristiwa penting dalam perkembangan Kerajaan Sriwijaya, sudah sewajarnya prasasti itu ditempatkan di ibukota kerajaan. Dengan demikian, prasasti Kedukan Bukit memperkuat bukti bahwa pusat pemerintahan Sriwijaya berlokasi di Palembang.***

Penulis adalah alumnus Jurusan Sejarah FKIS IKIP (sekarang FP-IPS UPI) Bandung tahun 1980 dengan skripsi “Kerajaan Sriwijaya” yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Girimukti Pasaka, Jakarta, 1983.


Tanggapan

  1. Sebuah pencerahan sajarah. Trima kasih.
    Setuju… benda sejarah di tempatkan di tempatnya dan harus dilestarikan untuk menunjukkan budaya bangsa.
    salam

  2. Benda2 sejarah mestina ada di museum sejarah nasioNal,,agar bza lbh tr

  3. prasasti seharusnya didirikan di tempat yang ditaklukkan, bukan di ibukota kerajaan. Melayu lah yg sebenarnya menaklukkan Sriwijaya. Buktinya bahasa Melayu tersebar di Semananjung Malaya dan sebagian Sumatra.

  4. Sriwijaya yang di sebut dalam prasasti kedukan bukit adalah kerajaan dari Wangsa Proto Malayu atau Melayu Kuno bukan wangsa Melayu. Di Daerah Sumatera selatan suku yang masih menggunakan bahasa proto melayu atau bahasa Melayu Kuno berasal dari rumpun Seminung yaitu Suku Komring, Ranau dan Lampung.
    Minanga adalah Minanga…!!!
    Di Daerah Uluan komring ulu sumatera selatan masih tertinggal nama dusun Minanga.
    Ada yang menarik tentang nama-nama tempat sebagai petanda monumen sejarah yang terdapat di Desa Minanga Komring Ulu denganmenamai kampungnya dengan nama-nama yang memberi kesan seolah-olah tersebut ada bekas pusat suatu pemerintahan antara lain :
    1. Kampung Ratu — Menggambarkan komplek perumahan para Raja-raja
    2. Kampung Kadalom — menggambarkan adanya kompleks perkampungan para abdi dalam.
    3. Kampung Balak — berasal dari kata Bala atau Laskar kedaton
    4. Kampung Binatur — berasal dari kata Batur yang berarti pelayan keraton
    5. Pasar Malaka — yang sekarang merupakan ladang penduduk yang di yakinin oleh penduduk setempat dulunya merupakan tempat orang memperdagangkan dagangan dari Malaka.
    Nama nama tersebut sudah ada sama tuanya dengn nama Minanga komring ulu yang sudah ada sejak sebelum tahun 1629 Masehi

  5. The Rise of Sriwijaya Empire
    ( The Legend of Jaya Naga )

    Pada tahun 600 Masehi terdapat suku di pedalaman Sumatera Selatan yang di kenal dengan nama Suku Sakala Bhra ( purba ) yang berarti Titisan Dewa , suku ini mendiami daerah pegunungan dan lembah bagian utara di sekitar gunung Seminung daerah perbatasan Sumatera Selatan dengan Lampung .
    Suku ini terpecah menjadi dua kelompok masyarakat, yang pertama yang mendiami kawasan sekitar gunung Seminung dan turun ke lembah bagian utara sampai ke Lampung kemudian sebagian lagi turun ke daerah bawah dengan mengikuti aliran sungai di bagian huluan sumatera bagian selatan yang di sebut juga dengan suku SAMANDA_DI_ WAY yang berarti orang yang mengikuti aliran sungai dan berakhir di Minanga ( Purba ), Suku ini yang kelak kemudian asal mula suku Daya, komring, dan Pasemah. ( Van Royen -1927 )
    Minanga karena kedudukannya di tepi Pantai di tinjau dari berbagai segi memikul beban sebagai ibukota negara. Adapun bahasa yang mereka pergunakan adalah Bahasa Malayu Kuno atau Proto Malayu yang merupakan cikal bakal bahasa komring di daerah uluan sumatera selatan.

    Kerajaan tersebut di pimpin oleh seorang Raja yang hebat , sakti , yang bernama JAYA NAGA kemudian oleh masyarakat pedalaman di beri Gelar DA-PUNTA-HYANG yang berarti Maha Raja yang Keramat , sekarang pun di daerah uluan sumatera selatan masih dapat kita kenal gelar Pu-Yang untuk orang yang kita anggap sesepuh maupun orang yang mempunyai kesaktian tinggi..
    Nama kerajaan tersebut adalah SRIWIJAYA yang disebut juga dalam kronik china yaitu kerajaan Shi Li Fo Shih
    Kerajaan ini setiap tahun nya mengirim utusan ke negeri china tercatat sejak tahun 670 s/d 742 yang saat itu di negeri China sedang berkuasa Dinasti Tang ( 618 – 907 ).
    Disebut pada satu tulisan di negeri China bahwa ada kerajaan dari laut china selatan yang selalu mengirim utusannya ke Tiongkok, kerajaan itu bernama Shi-Li-Fo-Shih yang di translerasikan menjadi Sriwijaya.
    Pada tahun 671 Masehi seorang pendeta China yang bernama It-Tsing mengunjungi negara ini dalam perjalanan menuju India untuk memperdalam ajaran Budha.
    It-Tsing menetap 6 bulan di Minanga ibukota kerajaan Sriwijaya untuk memperdalam bahasa Sansekerta , dengan bantuan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga , It-Tsing Berangkat menuju tanah Melayu ( Jambi ) dan menetap selama 2 bulan sebelum melanjutkan perjalanan melalui Kedah terus keutara menuju India.

    Dapunta Hyang Sri JayaNaga sangat di sayangi dan di sanjung oleh rakyatnya karena selain mempunyai kesaktian tinggi juga merupakan pemimpin yang arief , bijaksana dan adil terhadap rakyatnya. Jaya Naga juga seorang penganut Budha yang taat.
    Setiap daerah yang dia taklukkan selalu menunjuk pemimpin setempat yang di ambil dari Jurai Tua ( sesepuh masyarakat ) untuk menjadi Datu ( Ratu – pemimpin ) di daerahnya sendiri tetapi tetap terikat sebagai bagian dari daerah kerajaan Sriwijaya. Jaya Naga juga mampu menyatukan beberapa rumpun suku yang ada di daerah pedalaman atau uluan sumatera selatan yang awalnya semua penduduk berasal dari tiga rumpun yang mendiami Gunung Seminung, Gunung Dempo dan Bukit Kaba, System pemerintahan inilah yang kelak menjadi cikal asal mula system pemerintahan Marga yang ada di daerah uluan sumatera selatan.

    Kerajaan Sriwijaya terkenal merupakan kerajaan yang makmur dengan hasil alamnya berupa kayu kamper, kayu gaharu, Pinang, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Selain itu juga kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kebudayaan agama Budha Mahayana yang mana daerah ini merupakan perlintasan perjalanan para pendeta budha yang ingin memperdalam pertapaannya dari India ke China maupun sebaliknya,dan dalam perkembangannya kerajaan Sriwijaya merupakan pusat Studi agama Budha di kawasan Asia tenggara terutama saerah semenanjung Selat Malaka dan Selat Sunda terbukti dari catatan It-Tsing , kerajaan Sriwijaya mempunyai 1.000 pendeta Budha, pendeta Budha yang cukup terkenal dari kerajaan Sriwijaya ini bernama Sakyakirti.
    Penduduk kerajaan ini sebagian merupakan petani dan sebagian lagi merupakan saudagar yang melakukan perdagangan dengan India , Arab dan China .

    Kerajaan ini di aliri oleh sungai-sungai( kanal-kanal) kecil yang memasuki perkotaan sehingga perahu merupakan sarana transportasi penting masyarakat kota tersebut sehingga kerajaan ini terkenal dengan armada kapal – kapal yang menguasai kawasan pelayaran di selat Malaka dan selat Sunda .

    Seiring itu juga bermunculan para perompak kapal kapal niaga yang membawa barang dagangan yang melintas di perairan pantai timur pulau Sumatera yang membuat risau para pedagang yang melintasi daerah tersebut.Di Daerah sekitar kerajaan juga bermunculan kelompok masyarakat yang satu sama lain saling bertempur dan mulai menggangu lalu lintas perdagangan di daerah sekitar kerajaan Sriwijaya.

    Pada saat itu pelabuhan Palembang yang merupakan pintu masuk ke perairan sungai-sungai yang ada di uluan sumatera selatan banyak di kuasai perompak-perompak.
    Kondisi seperti ini membuat kapal kapal yang berlayar di pantai timur pulau sumatera berlabuh di pelabuhan Melayu ( Jambi ) kemudian melanjutkan pelayaran tanpa memasuki pelabuhan Palembang.

    Kisah perkembangan kerajaan Sriwijaya ini dimulai dari apa yang diutarakan dalam Prasasti Kedukan Bukit. Pada Hari kesebelas bulan terang bulan Wai Saka tahun 605, Dapunta Hyang Jayanaga berperahu kembali ke Minanga selepas melakukan pertapaan di gunung Seminung. Dalam pertapaannya Jaya Naga meminta restu dan memohon petunjuk dari sang Gaib di Gunung Seminung untuk menaklukkan tempat-tempat yang strategis agar dapat menguasai jalur pelayaran di Laut Cina Selatan di karenakan pada waktu itu Minanga ( ibukota kerajaan ) terletak dalam suatu teluk dimana sungai komring bermuara kurang strategis di pandang dari sudut perdagangan.

    Untuk Mewujudkan cita – citanya tersebut Dapunta Hyang Sri Jaya Naga melakukan konsolidasi dengan daerah belakang yang satu rumpun yaitu rumpun Sakala Bhra (Purba).Kemudian Dapunta Hyang Sri Jaya Naga menaklukan daerah yang juga satu Rumpun tersebut yang terletak di sekitar bukit Pesagih di Hujung Langit Lampung Barat dan kemudian semua penduduk di ikat oleh Sumpah setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya. ( Prasasti Hujung Langit – Lampung Barat )

    Sepulang dari penaklukan daerah belakang makin kuatlah pasukan kerajaan Sriwijaya yang di dukung oleh pasukan tambahan dari satu rumpun.

    Dapunta Hyang Sri Jaya Naga mulai melakukan expansi pertamanya yaitu dia harus menaklukan Tanjung Palembang dan menunjuk Mukha Upang ( Kedukan Bukit ) di daerah Po-Lim-Fong ( palembang ) biasa kita sebut sekarang adalah Bukit Siguntang Mahameru. sebagai titik temu. Palembang pada jaman itu merupakan kota di pinggir pantai di mana bukit Sigiuntang merupakan tanjung palembang yang menjorok ke laut. Tempat ini merupakan dataran tinggi yang merupakan mercu suar atau tempat pintu masuk ke tanjung Palembang yang merupakan akses laut menuju ke sungai sungai yang ada di sumatera.selatan.
    Pada peta pantai purba Jambi dan Palembang di tepi timur teluk purba terdapat 2 tanjung yang menjorok jauh kearah laut , kearah utara dengan jambi di ujungnya, dan yang timur menjorok kearah tenggara dengan Palembang berada diujungnya. Tanjung Palembang terbentuk oleh Bukit Siguntang sedang di selatan bukit ini terdapat teluk yang menjorok dalam lagi di mana sungai Musi bermuara.

    Kemudian Dapunta Hyang Sri Jaya Naga membawa 20.000 ( Dua Puluh Ribu ) pasukannya dengan 1.312 berjalan kaki melalui daratan atau hutan dan sebagian lagi membawa perahu mengikuti perairan sungai Komring.

    Selama dalam perjalanan terjadilah pertempuran – pertempuran kecil yang tidak terlalu berarti yang merupakan perlawanan dari daerah daerah yang di lintasi oleh pasukan Kerajaan Sriwijaya.

    Pada tanggal 16 Juni 682 Masehi atau sekitar tujuh hari perjalanan sampailah rombongan pasukan yang di pimpin Dapunta Hyang Sri Jaya Naga di Muka Uphang. Perjalanan pasukan Sriwijaya mendapat kemenangan besar sehingga memberikan kepuasan bagi Sang Raja Dapunta Hyang Sri Jaya Naga, untuk mengabadikan kemenangan tersebut di pahatlah Prasati Kedukan Bukit .

    Setelah Mengadakan konsolidasi di daerah Mukha Upang ( Kedukan Bukit )dan menguasai pelabuhan palembang , maka kemudian yaitu “ pada hari kedua bulan terang bulan Caitra tahun 606 Saka ( 23 Maret 684 M) Dapunta Hyang Sri Jaya Naga sangat puas akan kesetiaan rakyat setempat. Oleh karena itu di bangunlah Taman Sriksetra dengan pesan agar semua hasil yang di dapat di dalam taman ini seperti Nyiur, Pinang, Enau, Rumbia dan semua yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, demikianla pula halnya dengan tebat dan telaga agar dapat di pelihara sehingga berguna bagi sekalian makhluk.. Untuk itu Dapunta Hyang Sri Jaya Naga memohon restu agar ia selalu sehat sentosa terhindar dari para penghianat yang tidak setia, termasuk para abdi bahkan oleh istri-istri beliau. Karena beliau tidak akan menetap lama beliau menambah pesannya : “ Walaupun dia tidak berada di tempat dimanapun dia berada janganla hendaknya terjadi Curang,Curi, Bunuh dan Zinah di situ. Akhirnya di harapkan doa agar beliau mendapatkan Anuttara bhisayakasambodhi “
    ( Parasasti Talang Tuo )

    Setahun kemudian terjadilah pemberontakan yang di pimpin oleh Perwira Lokal yaitu Kandra Kayet sehingga menimbulkan korban termasuk salah satu Panglima Perang Sriwijaya terbunuh yaitu Tan Drun Luah, walaupun demikian Kandra Kayet yang gagah perkasa dapat di di bunuh oleh Dapunta Hyang Sri Jaya Naga dan mati sebagai penghianat.

    Untuk mengingat hal ini maka di buatlah suatu prasasti persumpahan untuk mengikat setiap para pejabat lokal yang ada di daerah taklukan agar dapat tetap setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kalau tidak maka akan terkutuklah dan di makan sumpah ( Prasasti Telaga Batu ).

    Secara Geografis palembang adalah tempat yang strategis untuk menguasai lalu lintas pelayaran di laut Selatan. Namun kebanyakan pada waktu itu kapal – kapal berlayar singgah di kerajaan Melayu ( jambi ) yang juga merupakan pelabuhan strategis di pantai timur sumatera kemudian kapal kapal tersebut melanjutkan perjalanannya ke utara tanpa singgah lagi di pelabuhan palembang.
    Melihat kondisi seperti ini Dapunta Hyang Jaya Naga berencana untuk menaklukan kerajaan Melayu ( Jambi ) untuk di jadikan wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

    Dapunta Hyang Sri Jaya Naga bersama pasukannnya segera menuju Melayu, yang dari semula tanah Melayu sudah di rencanakan untuk di tundukkan.

    Pada tahun 685 di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga, Kerajaan Melayu takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. [13] . Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya.
    Untuk meneruskan perjalanan ke Selatan dengan tujuan akhir adalah bumi Jawa tentu saja Melayu harus segera pula di tinggalkan. Peristiwa pemberontakan Kandra Kayet terus saja terbayang oleh sri baginda dan ini di jadikan sebagai contoh oleh Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kepada setiap pejabat lokal bahwa setiap penghianatan, walau di lakukan oleh seorang perkasa sekalipun dapat di tumpas . kemudian penduduk kerajaan Melayu pun di ikat dengan Sumpah maka di pahatlah prasasti Karang Birahi.
    Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kembali berangkat dengan melalui lautan berarti harus melalui selat Bangka . Oleh Karena itu kerajaan Bangka harus pula di tundukkan lebih dahulu. Setelah menaklukan Bangka Dapunta Hyang Jaya Naga bersiap melanjutkan perjalanannya ke Bumi Jawa, namun sebelum keberangkatan Sri Baginda Penguasa Lokal dan rakyatnya harus di beri peringatan dan di ikat dengan persumpahan untuk selalu setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga.Demikianlah pada akhirnya : “ Pada hari pertama bulan terang Waiseka tahun 608 Saka atau tahun 686 Masehi Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga meninggalkan Batu Prasasti Persumpahan yang kita kenal sebagai Parasasti Kota Kapur dan segera menuju Bumi Jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.
    Dalam perjalanan Sri Baginda menuju Bumi Jawa masih ada daerah yang berdiri sendiri di pantai timur Sumatera Bagian Selatan, untuk kepentingan keamanan penguasaan laut selatan, kerajaan itu harus pula di tundukan. Kerajaan itu sebenarnya berasal dari satu rumpun wangsa Sakala Bhra. Kerajaan itu adalah kerajaan Ye-Po-Ti ( Way Seputih ) di lampung Selatan. Sama dengan peristiwa- peristiwa lainnya, setiap beliau meninggalkan daerah – daerah yang rawan pemberontakan harus diadakan sumpah setia terlebih dahulu. Sumpah tersebut terpahat dalam Prasasti Palas Pasemah.
    Dari Way Seputih Rombongan langsung menuju Bumi Jawa, Dapunta Hyang Sri Jaya Naga Mengutus salah Satu Panglima terbaiknya yang juga merupakan kerabat dekat kerajaan yaitu Dapunta Syailendra untuk memimpin pasukan Sriwijaya menuju Bumi Jawa. Dari Data yang ada tampaknya mereka menuju Jawa tengah bagian Utara .
    Di Jawa tengah rombongan pasukan yang di pimpim Dapunta Syailendra mendirikan kerajaan sendiri dengan pemerintahan sendiri terpecah dengan kerajaan Sriwijaya. Pada saat inilah di nyatakan oleh berita di China ( Dinasti Tang ) menyebutkan bahwa kerajaan Sriwijaya terpecah menjadi dua bagian masing- masing mempunyai pemerintahan sendiri. ( Kronik Dinasti Tang ).
    Hal ini awalnya membuat Dapunta Hyang Jaya Naga gusar akan akan sikap Dapunta Syailendra untuk mendirikan Negara yang terpisah pemerintahan dengan kerajaan Sriwijaya , namun akhirnya Jaya Naga membiarkannya dengan syarat Syailendra untuk membangun suatu Candi di Ligor ( Muangthai ) atas permintaan Raja Sriwijaya.
    Pada periode perkembangan kerajaaan Wangsa Syailendra di Jawa Tengah harus melaksanakan pesan Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk membangun candi di Ligor ( Muangthai ) candi tersebut baru selesai tahun 775 di resmikan oleh raja Wisnu dari Wangsa Syailendra.
    Sementara itu Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kembali ke Minanga untuk melanjutkan memerintah kerajaan Sriwijaya yang menguasai lalu lintas perdaganan di Selat Malaka dan Laut China Selatan .
    Berdasarkan prasasti Kota Kapur, Kerajaan Sriwijaya menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. [15].
    akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Budha Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya. [14].
    Masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
    Di akhir Abad ke 7 ibukota Minanga telah mengalami malapetaka hingga Silap atau hilang secara misterius di telan bumi. Keadaan ini membuat Sri Baginda Dapunta Hyang Jaya Naga bersedih sehingga mengasingkan diri ke Gunung Seminung untuk bertapa sampai akhir hayatnya.( Legenda Minanga Sigonong-Gonong )

    Di angkat dari Buku :
    Periodisasi Kerajaan Sriwijaya
    Karangan : H.M. Arlan Ismail, SH ( 2003 )

  6. kren

  7. Alhamdulillah, kupasan saudara2 sangatlah menarik dan saya yakin dapat mengisi kekosongan pd ruang-ruang sejarah nusantara terutama Sriwijaya.
    - Kota Minanga terdapat di Sumatra Selatan juga di Sumatra Barat, tp saya lebih condong dengan keterangan saudara Agung.
    - Missing link saya tentang kepergian Syailendra ke Jawa dapat terobati oleh saudara Agung, terima kasih.
    - Mungkin kita perlu cermati, kekosongan sejak Raja Terakhir Sriwijaya Vijayatunggawarman/1044 sampai dengan munculnya Prameswara yg mengaku pewaris Sriwijaya/1401, karena teka-teki ini mungkin dapat menyingkap sisa peninggalan Sriwijaya lainnya yg belum ditemukan.
    - Nama Tunggawarman mungkin membuktikan bahwa masa akhir Sriwijaya telah terkolaborasi akibat perkawinan dengan Wangsa Warman yg lebih dahulu di Salakanagara/banten 130 M, sebagaimana Tarumanagara dan Kutai.
    - Saya pernah membaca bahwa Batak, Ranau dan Toraja adalah proto melayu yg berasal dari suku pegunungan di Birma, berbeda dngan suku nusantara lain yg neo malayu.

    Semoga bermanfaat, soal kebenaran Allahu’Alam bissawab, karena saya bukanlah ahli sejarah.

    Wass

  8. SRIWIJAYA DI SWARNABUMI………………

    Sejak pertapaan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga di Gunung Seminung sekitar tahun 742 sebagian besar anggota pasukan dan rombongan yang mengikutinya terpecah masing-masing mencari tempat sendiri-sendiri, ada yang kemudian mendirikan Minanga baru dan ada juga yang lari kepulau jawa. Sementara kota Minanga sendiri menjadi mitos kota yang hilang yang sampai sekarang menjadi suatu kawasan yang paling angker yang di namakan penduduk sekitar menjadi SiGonong-Gonong yang tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang tanpa seijin ghaib disana , siapa yang masuk ke daerah itu tanpa izin akan ikut hilang tak tampak oleh kasat mata.( Legenda Minanga sigonong-gonong ).

    Sementara itu menurut anailsis Paleografi , teluk Minanga di mana sungai komering bermuara telah mengalami pendangkalan akibat dari pengendapan lumpur dari sungai komering. Pantai Timur di bagian sumatera selatan mengalami pendakalan 125 meter per tahun, dimana sejak keberangkatan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga ke Mukha Upang ( Kedukan Bukit )pada tahun 683 Masehi sampai dengan kepulangan tahun 742 Masehi Teluk Minanga telah mendangkal sepanjang 6 kilometer. Membuat kedudukan Minanga sudah jauh dari garis pantai timur Sumaetra , dengan posisi seperti itu maka Kerajaan Sriwijaya tidak mungkin lagi mengawasi daerah-daerah bawahannya secara efektif, sehingga lambat laun daerah yang ditaklukan dan diikat dengan persumpahan itu menjadi lepas berdiri sendiri.
    Daerah daerah tersebut kemudian membentuk pemerintahan lokal yang berdiri sendiri, palembang kemudian menjadi kota pelabuhan yang berdiri sendiri yang terkenal dengan nama Swarna Bhumi , Jambi menjadi kerajaan lokal dan menjadi kota pelabuhan terbesar pada saat itu. Sementara daerah uluan di sumatera selatan mereka membuat kelompok masyarakat seketurunan dan hidup menyebar di pedalaman sumatera selatan membuat masyarakat hukum dengan azas pertalian darah ( Geneologische Rechtgemeenschap ) Dalam masyarakat hukum dengan azas seperti ini maka kekuasaan dengan sendirinya di pegang oleh seorang “Jurai Tua” yang di sebut Pase-lurah atau Pasirah yang dikenal sekarang ini yang berkedudukan sebagai pemimpin ( primus inter pares ). Kewajiban pemimpin tidak lebih dari memelihara dan mempertahankan hukum yang mereka sepakati dan di jadikan adat bagi sesama mereka, menjaga batas – batas wilayah dan menjaga batas-batas antara yang boleh dan yang terlarang. Di daaerah Batanghari Komring kelompok seketurunan ini menempati daerah yang disebut “ Morga “ di kepalai oleh seorang sepuh yang berfungsi sebagai Ratu Morga dengan gelar KAI-PATI .
    Di daerah Rejang kelompok seketurunan ini dinamai Petulai yang dipimpin seorang sesepuh dengan sebutan DEPATI . ( Marga di Bumi Sriwijaya – H.M.Arlan Ismail, SH – 2005 ).
    Masa inilah atau selama 218 tahun terjadi kekosongan pemerintahan di Sriwijaya , tercatat oleh berita di negeri China, Sriwijaya tidak pernah lagi mengirim utusan ke negeri China sejak tahun 742 Masehi ( Kronik Dinasti Tang ) sampai tahun 960 Masehi ( kronik Dinasti Sung )

    Sementara itu di Jawa Tengah berkembang dinasti Dapunta Sailendra yang merupakan Raja-Raja dari Bumi Sriwijaya yang diutus Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk menaklukan Bhumi Jawa. Nama Dapunta Sailendra di kumandangkan dimana-dimana sementara Sriwijaya tetap di Puja-Puja oleh Dinasti Sailendra..
    Pada tahun 775 Masehi terpahat sebuah prasasti di Ligor ( Muangthai ) menandai peresmian sebuah bangunan candi yang terdiri beberapa bagian yang intinya adalah pujian terhadap Raja Sriwijaya yang dikatakan laksana bulan di musim rontok yang sinarnya menyuramkan segala sinar bintang, raja yang berkuasa gemilang dan yang paling baik di antara segenap raja dipermukaan Bhumi, kemudian menyatakan bahwa raja Sriwijaya yang memerintahkan untuk membangun batu Trisamaya Caitya untuk Padmapani, Sakyamuni dan Wajrapani guna di persembahkan kepada semuaJina yang menduduki sepuluh tempat diangkasa dan memerintahkan Jayanta membangun Stupa Trayamasi.kemudian yang terakhir menyatakan raja Wisnu dari wangsa sailendra yang berkuasa pada masa itu kemudian di tutup dengan pujian kembali kepada raja Sriwijaya yang dikatakan menyerupai Indra. ( Prasasti Ligor–Muangthai ).

    Balaputra Dewa yang merupakan Putera Bungsu Raja Samaragrawira dari Wangsa Sailendra kehilangan haknya untuk memerintah negeri di Bhumi Jawa di karenakan Putera tertua adalah Pangeran Samaratungga sehingga Pangeran Samaratungga lah yang berhak memimpin kerajaan di Bhumi Jawa, yang kemudian Rakai Pikatan Mpu Manuku menikah dengan Pramodawardhani putri Raja Samaratungga sehingga kemudian mewarisi takhta atas kerajaan di Bhumi Jawa.
    Pada tahun 850 Masehi Balaputra Dewa dan pengikutnya kembali ke daerah Sumatera Selatan untuk malakukan pertapaan di Gunung Seminung guna memperdalam ilmu dan kesaktian. Sepanjang perjalanan di daerah uluan sumatera selatan sampai ke gunung Seminung Balaputra Dewa di sambut baik oleh penduduk di wilayah bekas kerajaan Sriwijaya karena Balaputra Dewa merupakan keturunan dari wangsa Sailendra Raja-Raja di Bhumi Jawa yang berasal dari Bumi Sriwijaya yang mereka anggap sebagai titisan Jaya Naga sang Maha Raja yang mereka Puja Puja selama ini. Pada saat selesai dari pertapaannya Balaputra Dewa diangkat oleh para sesepuh adat yang terdiri dari pemimpin – pemimpin kelompok Marga untuk menjadi Raja dan kembali mempersatukan wilayah-wilayah Sriwijaya yang telah berdiri sendiri akibat kekosongan pemerintahan selama periode 100 tahun lebih sejak di tinggal Dapunta Hyang Sri Jaya Naga bertapa dan menghilang di Gunung Seminung, dimana daerah-daerah itu hanya di ikat oleh sumpah setia yang mereka percayai selama ini sebagai alat pemersatu semua rumpun suku..

    Setelah terjadi kekacauan perdagangan di Kanton antara tahun 820 – 850, pemerintahan Jambi menyatakan diri sebagai kerajaan merdeka dengan mengirimkan utusan ke China pada tahun 853 Masehi.

    Kemudian Balaputra Dewa dapat membangun kejayaan Kerajaan Sriwijaya kembali yang berpusat di Palembang dengan dukungan oleh masyarakat di bekas wilayah Kerajaan Sriwijaya . Bahasa yang di pakai oleh kerajaan ini yaitu bahasa Sansekerta dan Tamil.Hal ini membuat kerajaan di Jambi kawatir akan penguasaan kembali oleh dinasti Sailendra kemudian kerajaan Jambi mengirim utusan ke negeri China pada tahun 871 untuk mendapatkan perlingdungan dari Negeri China namun hal ini berlangsung tak lama kemudian pasukan Balaputra Dewa dapat menguasai Jambi , adapun politik dalam negeri yang dipakai sebagai alat persatuan untuk wilayah-wilayah taklukan kerajaan ini memakai nama Sriwijaya.

    Setelah menguasai pulau sumatera sampai ke langkasuka dan keddah semakin kuatlah dinasti Balaputera Dewa di Swarna Bhumi sebagai kerajaan maritim di pantai timur Sumatera . Dinasti Balaputera Dewa di Swarna Bhumi meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan Sriwijaya di abad yang sama.[16]
    Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan dinasti Balaputera Dewa di Swarna Bhumi sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat Palembang dan mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, Melayu, dan India.
    Dinasti Balaputra Dewa di Swarna Bhumi juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Kalimantan bagian Barat. Dinasti Balaputra Dewa juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, dan sebuah prasasti tertahun 860 Masehi mencatat bahwa raja Balaputra Dewa mendedikasikan sebuah biara kepada Universitas Nalanda, Pala. Relasi dengan dinasti Chola di India selatan di bawah pemrintahan Raja Kesawariwarman Rajaraja pada mulanya cukup baik dan menjadi buruk setelah terjadi peperangan di abad ke-11.
    Pada tahun 960 Masehi Raja Sri Udayadityawarman yang merupakan keturunan dari Balaputra Dewa dari Dinasti Sailendra pada saat memerintah Sriwijaya di SwarnaBhumi mengirim utusan ke China dan mengirimkan berita telah kembali kerajaan Sriwijaya penguasa laut China Selatan yang berada di Swarna Dwipa ( Pulau Sumatera ) dan beribukota di Swarna Bhumi ( Palembang ) , kerajaan ini kemudian terkenal di China dengan nama San-Fo-Tsi yang di artikan Sriwijaya di Swarna Bhumi.

    Pada tahun 962 datang lagi utusan kerajaan San-Fo-Tsi di bawah dinasti Sailendra yang merupakan keturunan Raja Balaputra Dewa ke tiongkok berturut-turut sampai dengan tahun 1097 masehi.

    Pada tahun 992 mulai terjadi peperangan antara Dinasti Sailendra di Swarna Bhumi dengan dinasti Sanjaya penguasa Bhumi Jawa. Pada masa itu yang memerintah di Bhumi Jawa adalah Raja Dharmawangsa dari dinasti Sanjaya sedang di San-Fo-Tsi yang memerintah adalah Raja Sri Cudamaniwarmadewa keturunan Balaputra Dewa dari Dinasti Sailendra. Kemudian Armada pasukan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) dapat memukul mundur pasukan Raja Dharmawangsa.

    Kemudian pada tahun 1003 Raja Sri Cudamaniwarmadewa dari Sriwijaya San-Fo-Tsi mengirim dua orang utusan ke negeri China untuk mempersembahkan upeti pada Kaisar.. Kedua utusan ini menceritakan bahwa di negerinya telah selesai di bangun sebuah candi Budha tempat berdoa , dan mendoakan agar Kaisar di karuniai panjang usia, kemudian kaisar memberikan nama Candi tersebut dengan Cheng-Tien-Wan-Show dan memberikan hadiah Lonceng untuk Candi tersebut.

    Pada tahun 1006 Masehi Raja Sri Cudamaniwarmadewa di gantikan oleh penerusnya yaitu Raja Sri Marawijaya Tunggawarman dari Dinasti Sailendra dan menghadiahkan sebuah desa sebagai persembahan kepada Budha dalam Wihara yang di bangun oleh ayahnya Raja Sri Cudamaniwarmadewa .

    Tahun 1012 Raja Kasawariwarman Rajaraja Mangkat, kemudian di gantikan putranya yang bernama Rajendra Cola naik tahta untuk memerintah kerajaan Cola Mandala dari India Selatan, yang kemudian membuat politik kerajaan Cola Mandala dengan San-Fo-Tsi ( Sriwijaya Di Swarna Bhumi ) mulai berubah.
    Kemudian Pada Tahun 1017 Masehi Raja Rajendra Cola mengirim Bala tentara menyerbu Keddah yang merupakan salah satu Pelabuhan yang ada di bawah Kerajaan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) serangan ini dapat di patahkan oleh armada-armada laut kerajaan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) .
    Pada tahun 1025 Masehi Raja Marawijaya Tunggawarman di gantikan oleh Putranya yaitu Pangeran Sangrama Wijaya Tunggawarman , pada tahun inilah permusuhan Kerajaan Cola Mandala dengan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) mencapai puncaknya, dimana Kerajaan Cola Mandala di pimpin oleh Raja Rajendra Cola menyerbu secara besar-besaran terhadap wilayah Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) adapun daerah yang di serbu tersebut antara lain : ibukota Sriwijaya ( Palembang ), Melayu ( Jambi ), Ilamuri ( Lamuri –Aceh ), Manak Kawarna ( Nikobar ), Kadaram ( Keddah ), dan berhasil menangkap Raja Sanggrama Wijaya Tunggawarman di daerah Keddah. Walaupun demikian kerajaan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) tetap berdiri yang kemudian menunjuk penerus Tahta Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) adalah Raja Dewa Kulotungga dari dinasti Sailendra. Meskipun invasi Raja Rajendra Cola tidak berhasil sepenuhnya, tetapi invasi tersebut telah melemahkan hegemoni Sriwijaya ( San Fo Tsi ) yang berakibat terlepasnya beberapa wilayah dengan membentuk kerajaan sendiri, seperti Kediri, sebuah kerajaan yang berbasiskan pada pertanian.

    Pada Tahun 1079 Masehi Raja Dewa Kulotungga sebagai Raja Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) memperbaiki Candi Tien Ching di Kota Kuang Cho dekat kanton yang merupakan tempat suci di sebelah utara Kanton. Pada tahun 1080 Raja Dewa Kulotungga wafat dan di gantikan oleh puterinya. Kemudian Puteri Raja Dewa Kulotungga kemudian menikah dengan salah satu Bangsawan dari Jambi ini tercatat dalam kunjungan Puteri Raja Dewa Kulotungga pada 1097 sudah di dampingi oleh wakil dari kerajaan Chan-Pi ( Jambi ).
    Sebagaimana kita ketahui masyarakat di daerah sumatera selatan mempunyai adat bahwa penerus Jurai atau dinasti itu terletak pada anak laki-laki sebagai penerus tahta kerajaan. Sehingga kebiasaan masyarakat sumatera selatan adalah tempat atau ibukota kerajaan mengikuti Jurai penguasa pada saat itu. Pada masa inilah generasi dari wangsa Sailendra di Swarnabhumi berakhir.Kemudian era selanjutnya adalah kerajaan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) berpindah pusat pemerintahannya ke Jambi ini menunjukan bahwa penguasa pada saat itu di pimpin oleh Jurai atau dinasti Melayu dengan gelar Mauli Marwadewa yang berasal dari kata Tamil yang berarti Mahkota Raja-Raja yang menandakan identitas raja-raja dari wangsa Melayu.

    Sriwijaya………….
    Berawal di Minanga………………
    Berjaya di Palembang ……………….
    Berakhir di Jambi……………………….
    ( H.M. Arlan Ismail,SH – 2003 ).

  9. Minanga Ibukota Kerajaan Sriwijaya Pemula……..

    Nama Minanga ( Komring Ulu ) sebagai nama tempat sudah ada sebelum Van Rokel membaca prasasti kedukan bukit tahun 1924. Oleh karena itu nama Minanga di Komering Ulu sumatera selatan itu bukanlah mencontoh kebesaran nama dalam prasasti kedukan bukit.
    Itu terlihat dalam suatu piagam perjanjian tahun 1629 dengan mamakai tulisan Arab-Melayu antara kesultanan Palembang yang pada waktu itu berkuasa Sedaing Kenayan dengan Ratu Sinuhun mengenai tapal batas Marga Minanga. Piagam tersebut masih tersimpan sebagai dokumen Marga Semendawai Suku III.
    Minanga yang kita identifikasikan sebagai ibukota Sriwijaya sekarang adalah merupakan nama dua buah desa yaitu desa Minanga Tengah dan desa Minanga Besar .
    Desa Minanga sekarang terletak di daerah rawa-rawa dataran rendah. Daerah yang agak tinggi permukaannya mengelilingi desa-desa tersebut yaitu di sebelah hulu sungai disekitar daerah Betung ( dahulu bernama Kedaton ) di sebelah barat ada dataran tinggi yang membentang sampai ke batas Kedaton dan sungai Ogan. Jadi bahwa kawasan Minanga berada di antara dua daerah yang bernama Kedaton yang berada di pedalaman Sumatra Selatan di pinggir Sungai Komring.

    Jarak Minanga dengan Pantai timur sekarang jika di tarik lurus horizontal lebih dari 100 Km. Karena Minanga berada di pinggir sungai yang sekarang di kenal dengan sungai Komring maka penduduknya di sebut orang Komring. W.V. Van Royen dalam bukunya “ De Palembang Sche Marga ( 1927 ) “ tidak menyebut orang komring tetapi “ Jelma Daya “ .Nama sungai Komering sendiri diambil dari nama seorang yang berasal dari India yang Makam nya terdapat di sebelah hulu desa Muara Dua , sungai yang mengalir mulai dari makam tersebut tepatnya mulai dari Muara Selabung yang mengalir ke hilir sampai muara Plaju di sebut sungai Komring .
    Menurut sejarah Kabupaten Ogan Komering Ulu ( 1979 ) Jelma Daya kelompok pertama yang turun dari gunung Seminung melalui Danau Ranau kemudian seterusnya menelusuri sungai Komring sampai di Gunung Batu adalah kelompok Samandaway. Samandaway berasal dari kata Samanda Di Way yang berarti mengikuti aliran sungai.
    Pada tahun 1974 telah ditemukan sebuah arca Budha yang terbuat dari Perunggu ukuran tinggi ±35 cm, tebal 11 cm di temukan 15 km dari desa Minanga yang di temukan tidak sengaja oleh petani setempat yang kemudian menjadi barang koleksi pribadi mantan bupati OKU pada saat itu.

    Minanga hanyalah monumen sejarah dalam bentuk nama tempat, tapi kawasan Minanga purba adalah begitu Luas yaitu paling sedikit sebesar Marga Semendawai Suku III dan di sebelah barat berbatasan dengan daerah Kedaton ( Ogan Ulu Sumatera Selatan ).
    Karena langka nya peninggalan Sriwijaya dalam bentuk benda kepurbakalaan di manapun termasuk di daerah Minanga ( Komring Ulu sumatera selatan ) maka alternative lain yang harus di cari identitasnya ke dalam nilai-nilai Budaya dimana salah satu aspek budaya yang penting dan masih menonjol adalah Bahasa . :

    “ Bahasa adalah alat utama Kebudayaan. Tanpa Bahasa kebudayaan tidak mungkin ada. Kebudayaan tercermin dalam Bahasanya. ( S Gazalba 1966 : 102 ) “

    Seperti di utarakan di muka bahwa rumpun Seminung mempunyai bahasa dan tulisan sendiri. Orang Rumpun Seminung tergolong suku Malayu Kuno ( Proto Malayan Tribes ), bahasanya banyak terdiri dari bahasa Malayu Kuno , bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta.
    Bahasa Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, dan prasasti lainnya dalam periode Shi-Li-Fo-Shih ( 670 s.d 742 Masehi ) adalah bahasa Malayu Kuno dan kausa katanya banyak yang tertinggal dalam bahasa Rumpun Seminung ( Komering, Daya,Ranau, Lampung ).
    Sebagai perbandingan kita mengambil contoh adalah prasasti Telaga Batu : menurut bacaan dan terjemahan Prof.Dr.J.G. de Casparis dalam bukunya “ Selted inscription from the 7 th to the 9 th century A.D ( 1956 )” . Prasasti itu terdiri dari 28 baris dengan jumlah ±709 kata-kata yang sudah terbaca, dari kata-kata tersebut terbentuk ±311 bentukan kata yang tidak kurang dari 50 kata yang terbukti di pakai dalam bahasa Komering ( Rumpun Seminung ). Antara lain sebagai berikut :

    Bahasa Sriwijaya;Bahasa Komering ;Indonesia
    ( Prasasti Melayu Kuno )

    - Awai ; – Awai ; – Memanggil
    - Dangan; - Jongan ; – Cara
    - Hulun; – Hulun; – Orang asing
    - Inan ; – Inan ; – Biarkan
    - Katahuman; – Katahuman;- Tertangkap tangan
    - Labhamamu; – La(m)bahanmu;- Tempat tinggalmu
    - Mulam ; - Mulang ; - Kembali
    - Mancaru ; - Macuaru ;- Mangacau/menghianat
    - Muha ; – Muha; - Angap ringan / boros
    - Muah ; – Muah ; - Lagi / Masih ada
    - Marpadah/Padah;- Mapadah/Padah;-Tanggulangi / Andalan
    - Pira; – Pira ; - Berapa
    - Puhawam; - Puhawang ; – Pawang / Peramal
    - Ri ; – RI ; – Bersama
    - Sarambat; - Sarambat; - Setangkai
    - Talu ; – Talu ; - Kalah / tunduk
    - Tapik/Manapik;- Tapik/Manapik; menghindar/elak/serang
    - Tuhan ; - Tuhan ; - Milik

    Yang cukup menarik untuk di telaah oleh kita bahwa di daerah uluan Sumatera Selatan banyak sekali kita jumpai Makam Kuno ( makam keramat ) di daerah pedalamam Sumatera selatan.
    Sepengetahuan saya yang paling banyak berada di kawasan daerah Minanga komring ulu lebih kurang terdapat 15 makam kuno sepanjang uluan sungai komring yang di kenal dan di percayai oleh penduduk setempat merupakan Raja-Raja maupun panglima perang jaman dulu yang menjadi keramat bagi desa desa sekitar.
    Antara lain :
    - Pu-Hyang ( Puyang ) Ratu Kadi yang berarti Pangeran Mahkota
    - Pu-Hyang ( Puyang ) Naga Brinsang yang berarti Raja Naga Ajaib.
    - Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Alam Basa Berarti Raja Alam berasal dari Dewa.
    - Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Randah ( Randuh ) yang berarti Raja yang dapat berpndah- pindah tempat.
    - Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Ranggah yang berarti raja banyak Cahang.
    - Pu-Hyang ( Puyang ) Marabahu ( diucapkan Marbau ) yang berarti Raja yang berkali-kali mati dan hidup kembali.
    - Tan Junjungan ( Puyang Tan Junjungan ) yang berarti panglima yang penuh sanjungan.
    - Tan Adi ( Puyang Tan Adi ) yang berarti Panglima Utama
    - Tan Aji ( Puyang Tan Aji ) yang berarti Panglima Raja
    - Tan Mandiga ( Puyang Tan Mandiga ) yang berarti Panglima yang ampuh.
    - Tan Salela ( Puyang Tan Salela ) yang berarti Panglima yang menarik hati
    - Tan Robkum ( Puyang Tan Robkum ) yang berarti Panglima yang tahan rendam dalam air.
    - Tan Hyang Agung ( Puyang Tihang Agung ) yang berarti Panglima dewa Agung
    - Tan Minak Batara ( Puyang Minak Batara ) yang berarti panglima turunan Raja
    - Tan Mahadum ( Puyang Mahadum ) yang berarti panglima penyelamat.

    Tidak teridentifikasinya Minanga Komring Ulu sebagai ibukota Sriwijaya selama ini di karenakan :

    1. Para ahli sejarah tidak mengetahui bahwa ada Minanga di daerah Komering Ulu Sumatera Selatan yang berada di Muara Sungai di tepi Pantai pada waktu itu, sehingga orang mencari Minanga di luar Sumatra Selatan di dasarkan kepada semata-mata kesamaan bunyi dan penggantian huruf.
    2. Penelitian Geomorfologi semata-mata di tujukan hanyalah penelitian kedudukan Jambi dan Palembang apakah berada di tepi pantai atau tidak pada jaman Sriwijaya
    3. Minanga dalam Prasasti kedukan bukit di satukan dengan kata Tamvan sebagai Toponim (nama tempat ), Minanga yang tersebut dalam prasasti kedukan bukit di tafsirkan sebagai daerah yang ditundukkan oleh sriwijaya hanya semata-mata untuk memperkuat Palembang sebagai ibukota Kerajaan..
    4. Para ahli sejarah hanya mau mengakui sesuatu atau mengarahkan penelitian pada suatu tempat kalau sudah ada bukti arkeologis di ketemukan lebih dahulu, sedangkan sumber sejarah bukan terletak kepada benda arkeologis semata, tetapi juga dalam bentuk ciri-ciri budaya, bahasa dan lain-lain peninggalan kebudayaan masa lampau yang dapat di jadikan petunjuk awal.
    5. Karena tidak di ketahui bahwa Minanga ada di Komering Ulu Sumatera Selatan maka ia tersisihkan dari obyek penelitian sehingga tidak di temukan benda-benda yang bersifat arkeologis. Benda-benda arkeologis itu hanya di tunggu atau di harapkan untuk di ketemukan secara kebetulan seperti yang kita alami sekarang.

  10. bravo!!!!
    saudara arlan benar2 menampilkan sebuah analisa yg luar biasa, walaupun hanya berdasarkan fakta geografis, bahasa dan cerita tentunya, tetapi sangat banyak mengungkap misteri sriwijaya sebagai kerajaan yg hilang dinusantara selain pajajaran.

    selain di komering, terdapat cerita rakyat/legenda yg cukup banyak tentang sriwijaya di daerah pasemah.

    banyaknya puyang bermarga Tan jg cukup menarik, karena antara th 1200 – 1400 ada sekitar 3.000 pendatang dari Kanton dan Fukien mendiami daerah bekas Sriwijaya (Malay History), kemudian Marga Tan yg tercatat pertama di Palembang adalh Arya Damar (Tan Swan Leong – 1403) Ptra Brawijaya I dg Putri Dwarawati.

    Prabu Balaputra Dewa kembali ke Sriwijaya akibat kalah perang dg Rakai Pikatan karena ibunya Dewi Tara adalah Putri Sriwijaya Asli.

    Kerajaan Palembang Darussalam adalah buatan Demak, pendirinya Ki Gede Ing Suro atau Ki Sedo Ing Lautan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Sriwijaya.

    Kiranya bermanfaat, mohon dimaafkan bila ada kekeliruan.

    wass

  11. maaf koreksi

    arya damar/Tan Swan Leong ke palembang tahun 1443, beliau adalah anak Brawijaya I dengan Putri Dwarawati dari Champa.

    Kedatangannya ke Palembang karena laporan R. Rahmat (Sunan Ampel) yg singgah di Palembang 1400 – 1443 dalam perjalanannya dari Champa menuju Majapahit bersama saudaranya Sayid Ali Murtado. Laporan beliau bahwa daerah Palembang tidak ada pemerintahan sementara saat itu sudah berada dalam kekuasaan Majapahit, karenanya dikirimlah Arya Damar sebagai wakil Majapahit di daerah Palembang.

    wass

  12. Sriwijaya di Swarnapura………………………….

    Kemudian pada masa itu system pemerintahan tradisional di sumatera selatan dimana pusat pemerintahan biasanya mengikuti tempat dimana Jurai ( Dinasti=Wangsa ) yang berkuasa itu berasal . Kemudian raja dari Wangsa Melayu di Sriwjaya( San-Fo-Tsi ) yang terkenal pertama adalah Pangeran Suryanarana yang bergelar Mauli Warmadewa..
    Sejak Kepemimpinan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) dari wangsa Melayu yang berpusat di Jambi maka Ibukota Pemerintahan pun pindah ke Jambi yang terkenal pada saat itu dengan nama Swarnapura. Kemudian pada masa itu nama ibukota lama ( Palembang ) berubah dari Swarnabhumi menjadi Po-Lin-fong.
    Adapun masa pemerintahan Wangsa Melayu di Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) dapat mengembalikan hubungan baik dengan kerajaan Cola Mandala dari India selatan

    Pada Tahun 1178 di bawah pemerintahan Raja Sri MahaRaja ( Srimat ) Tri Lokaya Mauli Warmadewa kerajaan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) mengirimkan utusan nya ke negeri China yang selama 59 tahun terhenti sejak tahun 1097 dengan membawa berita seperti tertulis dalam Ling-Wai-Taiwa yang di beritakan oleh Cu-Ku-Fei bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan kaya, yakni Sriwijaya ( San Fo Tsi ) dan Jawa (Kediri). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha dan Hindu, sedangkan rakyat Sriwijaya memeluk Budha. Berdasarkan sumber ini pula dikatakan bahwa beberapa wilayah kerajaan Sriwijaya ingin melepaskan diri, antara lain Kien-pi (Kampe, di utara Sumatra) dan beberapa koloni di semenanjung Malaysia. Pada masa itu Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) telah membawahi 15 negeri di laut selatan antara lain :
    - Pong-Pong ( Pahang ),Tong Ya Nong ( Trenggano ),Ling Ya Si Kia ( Langkasuka ),Kui Lan Tan ( Kelantan ),Fo-Lo-An ( Dungan ), Ji-Li-Tong ( Jelotong ), Tsi Len Mai ( Semang ), Pa Ta ( Batak ), Tan Ma Ling ( Tamalingga ), Ki Lo Hi ( Grahi ), Po-Lin-Pong ( Palembang ), Sin –To ( Sunda ), Kim-Pei ( kampe ), Lan-Ma-li ( Lamuri – Aceh ),Si-Lan ( Sailon ).

    Kemudian berturut turut sejak tahun 1178 sampai dengan 1373 Masehi Sriwijaya ( San-Fo-tsi ) seperti yang di beritakan di negeri China adalah beribukota di Jambi .

    Pada akhir tahun 1275 tentara Kerajaan Singosari pada masa kepemimpinan Kartanegara mengirim utusan ke Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) untuk mengajak bersama-sama menghadapi pasukan Kubilai Khan dari Mongol dikarenakan utusan Mongol yang bernama Meng Chi yang di utus ke Singosari mendapat perlakuan yang memalukan bagi kerajaan Mongol sehingga membuat Kubilai Khan marah dan bermaksud menyerang kerajaan Singosari.
    Utusan Singosari mendapat penolakan dari kerajaan Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) di karenakan Sriwijaya merupakan sekutu dari Kerajaan China.
    Menghadapi kondisi Sriwijaya ( San Fo Tsi ) yang tidak mau membantu Singosari akhirnya Singosari memutuskan untuk menyerang dengan maksud dapat merubah sikap Sriwijaya terhadap kerajaan China. Pada saat yang sama utusan Sriwijaya ( San Fo Tsi ) meminta bantuan ke negeri china atas serangan dari kerajaan Singosari tersebut. Dan kemudianKubilai Khan mulai melancarkan serangan ke Singosari yang membuat pasukan Singosari yang berada di perairan Sriwijaya yang siap untuk menyerang ditarik mundur sehingga San Fo Tsi lepas dari cengkeraman Singosari.
    Setelah Singosari meninggalkan SwarnaBhumi , San Fo Tsi tidak mampu lagi mengembalikan kebesaran seperti semula. Dan akhirnya pada tahun 1286 kerajaan San Fo Tsi dapat ditaklukan Singosari.
    Pada tahun 1293 dengan kematian Jaya Katuwang, San Fo Tsi lepas dari Singosari dan kembali memperoleh kemerdekaannya. Namun sebelum San Fo Tsi dapat menunjukan kebesarannnya kembali telah disusul dengan adanya invasi Patih Gajah mada di bawah kerajaan Majapahit. Kemudian Majapahit menunjuk Adityawarman untuk memeritah kerajaan Malayupura di Darmasraya ( Prasasti Adityawarman 1347 M )

    Pada tahun 1373 datang utusan terakhir dari Sriwijaya ( San-Fo-Tsi ) ke Tiongkok yang menyatakan bahwa negerinya telah terpecah menjadi 3 kerajaan :
    1. Mahana Po Lin Fong ( di Palembang )
    2. Kerajaan Minangkabau ( di Sumatera Barat )
    3. Kerajaan Melayu ( di Darmasraya )

    Kemudian tahun selanjutnya ketiga kerajaan tersebut berturut turut mengirmkan utusannya ke negeri china untuk memproklamirkan kerajaan mereka, pada tahun 1374 datang utusan dari kerajaan Mahana Po-Lin-Pong ( Maharaja Palembang ), pada tahun 1375 datang utusan dari kerajaan Minagkabau dibawah Raja Adityawarman, dan kemudian pada tahun 1376 datang pula utusan dari kerajaan Melayu yang berkedudukan di Darmasraya.

    Dengan demikian , maka berakhirlah riwayat kerajaan San Fo Tsi yang kita anggap sebagai kelanjutan kerajaan Sriwijaya.

  13. Halo kawan2…aku Rengga. aku bekerja di Balai Arkeologi Palembang yang wilayah kerjanya meliputi empat propinsi : Sumsel, Jambi, Bengkulu dan Bangka-Belitung…Aku tertarik dengan sejarah apalagi yang berkaitan dengan sejarah kerajaan Sriwijaya. Di kantor tempat aku bekerja banyak sekali tulisan mengenai Sriwijaya karena kami memang bergerak di bidang penelitian arkeologi dan sejarah secara langsung di lapangan. Alhamdulillah aku sudah diajak ke beberapa tempat yang dulunya merupakan jalur perdagangan dan wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Seperti Di Kompleks percandian Bumiayu di Muaraenim dan Teluk Kijing yang disana banyak dijumpai reruntuhan bangunan candi dan benteng2 tanah dari abad 9-12 Masehi. Di Balai Arkeologi juga banyak menyimpan foto2 penelitian kami di lapangan secara langsung…bila tertarik kunjungi saja website resmi kami di http://www.arkeologi.palembang.go.id. Kalian bisa membaca dan memberikan kesan juga pesan kepada kami. Sekian Terima Kasih.

  14. Sriwijaya memang ada dan pernah berjaya di masa silam…

  15. wah…. pengetahuanku nambah nih…
    mbak, kalo bisa kasih gambar dong,,
    thankz^^

  16. punteun…

    peta di bukunya pak Arlan Ismail diambil dari dokumen pre-seminar sriwijaya, peta itu juga kayaknya jadi rujukan banyak peneliti.

    namun sepertinya isi peta tsb yang menunjukkan garis pantai yg menempatkan palembang dan jambi masing2 pada ujung sebuah teluk harus dikoreksi.

    bberapa tahun belakangan ini Balai Arkeologi Palembang sedang fokus melakukan ekskavasi – penggalian2 pada beberapa situs di 2 tempat, yaitu di daerah Air Sugihan dan Karang Agung. setelah dilakukan uji usia didapati bahwa kedua situs tersebut telah ada setidaknya thn 400an AD, lebih tua dari situs2 zaman sriwijaya sehingga dikategorikan sebagai situs Pre-Sriwijaya.

    disini masalahnya muncul, karena jika kita merujuk pada peta lama yg saya singgung tadi maka kedua situs Pre-Sriwijaya ini posisi-nya berada di laut di lepas pantai Sriwijaya….

    orang melayu palembang memang punya rumah panggung ditepian sungai, tapi tidak punya rumah panggung di atas laut.

    sampai hari ini Balar Palembang pun belum mengeluarkan pernyataan apapun kecuali menyebutkan bahwa peta lama mengenai garis pantai pada masa Sriwijaya tsb harus dipertanyakan kembali.

    trims.

  17. Bukan maen… asyikk baca sejarah wong kito ni. Banyak data baru, tp juga banyak data usang.
    Masalahnya adalah, setahun yang lalu saya sudah membaca buku Espedisi Bahari terbitan MIZAN. Buku itu dengan data cukup, dan logika yang baik telah membuat suatu pernyataan yang menurut saya agak kontroversial.
    Dinyatakan dalam buku itu bahwa budaya bahari Indonesia sudah terkenal bahkan hingga ke Madagaskar dan pedalaman Afrika Barat. Semua jejak sejarah bisa ditelusuri. Kalau kita sudah biasa dicekoki dengan asumsi Sriwijaya adalah negara maritim, penulis buku justru beranggapan lain. Sriwijaya bukanlah “negara maritim yang sesungguhnya”, karena armada maritimnya hanyalah pasukan bayaran. Masuk akal!! Memang tidak ada bukti Sriwijaya mempunyai kemampuan maritim di laut. Masyarakat palembang sendiri hingga sekarang tidak terbukti memiliki kemampuan navigasi laut yang diwariskan dari nenek moyangnya. Mereka hanya masyarakat sungai, tetapi bukan orang-laut.
    Masyarakat maritim di masa lalu hanya ada dua Bugis atau Bajo. Itu saja. Sriwijaya hanya MENYEWA tenaga dan kapal. Bukti nyata ada di depan mata. Teknologi Phinisi, yang bahkan mampu melaju lebih cepat daripada kapalnya Cournelis de Houtmann, dimiliki orang Bugis dan Bajo, hingga sekarang.
    Untuk Abu Syauqi, coba bertanya kepada ahli-ahli geologi tentang garis pantai antara Palembang – Jambi di masa lalu. Soalnya di Jawa sendiri ada kasus yang serupa – G. Muria – sekitar abad 7 masih terpisah dengan Jawa, tetapi di abad 16 sudah menyatu dengan Jawa. Ada pengendapan sungai yang luar biasa yang membuat selat itu tertutup. Saya pernah melihat pakai Google Earth, garis pantainya yang lama samar-samar masih terlihat.
    Terimakasih untuk moderator…


Beri tanggapan

Your response:

Kategori