Oleh: wied | Juli 23, 2008

Baratayudha Menurut Kepercayaan Masyarakat Jawa

Beberapa hari yang lalu saya membeli buku terjemahan “The History of Java” terbitan NARASI Yogyakarta. Buku ini ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, seorang administratur kelahiran Inggris, yang sangat terobsesi untuk merekam eksotisme dunia Jawa yang penuh dengan keragaman serta keunikan geografis dan budaya.Tak diragukan lagi, The History of Java telah menjadi salah satu sumber sejarah paling penting untuk mengetahui kehidupan masyarakat Jawa di masa lalu.

The History of Java diterbitkan pertama kali pada tahun 1817. Isinya antara lain mencakup keadaan geografis informasi mengenai penduduk asli Jawa, keadaan pertanian, kepercayaan dan upacara keagamaan, bahasa, serta beberapa hal-hal menarik lainnya.

Satu hal yang menarik bagi saya antara lain adalah BARATAYUDHA, sebuah perang suci atau lebih tepatnya perang kesengsaraan yang melibatkan dua keluarga besar, PANDAWA dan KURAWA. Baratayudha ditulis oleh Mpu Sedah semasa pemerintahan Raja Jayabaya, sekira tahun 1079 M atau 706 Jawa. Pada saat Raffles bertugas di Jawa, masyarakat Jawa pada saat itu percaya bahwa peristiwa Baratayudha terjadi di Jawa dan Madura.

Peradaban Nusantara Update



Berdasarkan tulisan Raffles yang dilengkapi dengan peta seperti di atas, ASTINA dipercaya berada dekat PEKALONGAN. GENDARA DESA milik SENGKUNI, berada di dekat desa WIRADESA. AMARTA, kerajaan milik DERMA WANGSA dan PANDAWA, berada dekat JEPARA. TALKANDA, kerajaan milik BISMA, dan BANJAR JUNG’UT, kerajaan milik DURSASANA di LURUNG TENG’HA. AWANGGA berada dekat YOGYAKARTA saat ini. PRINGGADANI, kerajaan milik BIMA berada dekat PEMALANG. PURABAYA, kerajaan milik GATOTKACA berada dekat SURABAYA sekarang. MANDURA, kerajaan milik BALADEWA berada di Pulau Madura sebelah barat, sedangkan MANDARAKA, kerajaan milik SALYA berada di Pulau Madura sebelah timur. Di dekat PATI, terletak DWARATI, kerajaan milik KRESNA.

Di Pulau Jawa, terdapat tiga gunung yang disebut INDRAKILA sebagai tempat bertapanya ARJUNA, yaitu Gunung Arjuna dekat SURABAYA, Gunung Muria di JEPARA, dan Gunung Ungaran di dekat SEMARANG. Pada kaki Gunung Semeru diperkirakan merupakan letak kerajaan NEWATA, yang diperintah oleh DETIA KEWACHA sebelum Baratayudha.

Di Gunung Prahu, jajaran pegunungan antara Semarang dan Pekalongan terdapat sisa-sisa hampir empat ratus candi, yang merupakan jejak dari kota yang luas. Ini digambarkan sebagai tempat makam dari leluhur PANDAWA. Daerah dimana candi-candi itu berada sebelumnya disebut dengan RAHTAWU, tempat dimana darah disucikan, dari tradisi ketika PULA SARA lahir, ibunya segera meninggal, dimana dewa datang dan menerima bayi tesebut dalam kedatangannya ke dunia.

Deskripsi RAHTAWU di atas mungkin kurang tepat, karena lokasi sebenarnya dari RAHTAWU adalah sebuah desa yang berada di lereng pegunungan MURIA masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan GEBOG, KUDUS yang oleh masyarakat sekitarnya memang dikenal banyak menyimpan misteri. Namun yang pasti di kawasan RAHTAWU banyak terdapat petilasan dengan nama-nama leluhur PANDAWA.

Lebih jauh Raffles kemudian menulis, dalam pertunjukan wayang, dimana para pahlawan dari cerita sejarah ini dipentaskan, masyarakat JUWANA tidak pernah mementaskan bagian sejarah yang menceritakan tentang masa kecil KRESNA. Dari kepercayaan yang menyebar, bahwa dalam suatu letika buaya akan menyerbu daerah tersebut. Buaya ini dipercaya merupakan pengikut KANGSA. Di Pemalang juga ada larangan yang serupa berkaitan dengan pementasan ARIMBA, kakak ipar BIMA, karena khawatir jika dalang secara tidak sengaja tidak memainkan pertunjukan tersebut dengan tepat, dia akan segera jatuh sakit.

Kemudian dituliskan, Negeri PARIKESIT, setelah BARATAYUDHA, diperkirakan terdapat di sekitar SEMARANG, dalang tidak akan mementaskan bagian sejarah yang berkaitan dengan pemerintahannya, meskipun bagian tersebut merupakan bagian utama pementasan di tempat lainnya.

Kepercayaan ini ditambah lagi bahwa meskipun dengan pengecualian, dalang boleh mementaskan BARATAYUDHA, atau perjalanan atau cerita selanjutnya dalam golongan yang sama, yang mana terdapat kepercayaan yang lazim bahwa perang yang hebat merupakan akibat yang tidak dapat dihindarkan dari pementasan pada bab cerita ini. Diceritakan, seorang pemimpin daerah KENDAL berupaya mementaskan cerita ini, dan segera setelah pementasan berakhir, daerahnya dihancurkan dan itu juga merupakan awal dari peperangan di JAWA. Kakek dari Sunan yang sekarang, SIDA LANGKUANG, memerintahkan untuk mementaskan keseluruhan dari cerita BARATAYUDHA dalam satu kali pementasan. Akibatnya, perang yang mengerikan terjadi, dan menyebabkan pecahnya kerajaan. Kesan dan kepercayaan ini bisa menunjukkan betapa dalam dan mengakarnya kepercayaan atas kisah BARATAYUDHA bagi masyarakat JAWA.

Cerita RAMAYANA, sebaliknya, tidak dipercaya terjadi di JAWA, tapi ada keyakinan bahwa setelah kematian RAHWANA, HANOMAN pergi ke JAWA, dan tinggal di daerah AMBARAWA, di sebuah bukit yang bernama KENDALI SADA, yang disebutkan dalam RAMAYANA sebagai tempat HANOMAN bertapa.Ada semacam kepercayaan bagi masyarakat sekitar, bahwa mereka tidak akan mementaskan wayang yang merupakan bagian dari cerita RAMA, agar HANOMAN tidak melempari mereka dengan batu.

Demikianlah sepenggal kisah mengenai BARATAYUDHA dalam pandangan masyarakat Jawa yang kemudian menjadi salah satu bahasan dalam buku The History of Java ini. Mungkin ada beberapa bagian, suatu misal penyebutan kerajaan atau nama tokoh wayang yang tidak sesuai atau kurang pas dengan yang dikenal oleh masyarakat Jawa saat ini. Namun yang pasti dari buku ini saya bisa mengetahui dan menyelami cara pandang Raffles terhadap masyarakat Jawa pada waktu itu. Bahkan dalam satu pernyataannya, Raffles mengatakan “I believe there is no one possessed of more information respecting Java then myself…


Tanggapan

  1. saya adalah kelahiran kembali gatotkaca.

  2. Di tanah kelahiran saya (Purwodadi) ada dua danau kecil yang dipercaya sebagai bekas tapak kaki Hanoman. Tapi entah benar entah tidak :D

  3. Memang menarik mempelajari sejarah meskipun dulu saya paling tidak suka dengan pelajaran sejarah. Sekarang saya jadi tertinggal. Artikel seperti ini membantu saya, terima kasih.
    salam

  4. blog yang bagus. salut!

  5. Baru tahu kalau Semarang adalah negaranya Parikesit. Hi hi hi. Harus diakui blog ini memang bagus. Hik Hik

  6. saya pernah baca, lupa dimana, katanya mahabrata terjadi di india, sekitar 5000-6000 th sbelum masehi, dan sdh ditemukan bukti-bukti sejarahnya. seperti medan kurusetra dll. Ramayana jg terjadi disana, alengka diidentikkan dengan srilanka.

    btw, blog nya bagus :) salam

  7. Cerita Ramayana dan Mahabarata adalah sebuah cerita hasil karya seniman India. Tidak ubahnya buku2 roman buah karya seniman kita Marah Rusli, Tulis Sutan Sati, Abdul Muis, Hamka, dll. Masuknya cerita Ramayana dan mahabarata terjadi pada saat proses penyebaran agama hindu dipulau jawa, oleh sebab itu dalam bahasa pewayangan banyak sekali menggunakan istilah2 Hinduisme, seperti : Sang Hyang Widhi………dan lain-lain.
    Tapi……itu mungkin lho……saya juga nggak tau pasti.

  8. wwww

  9. Mahaberata adalah kisah sejarah yang benar-benar terjadi di india dan sekitarnya mungkin juga melingkupi semua benua yang ada di bumi ini karena waktu perang melibatkan hampir seluruh kerajaan yang ada. Saat itu menurut penanggalan yuga terjadi pada dvapara yuga, (ada empat yuga/zaman dan akan terus berulang berdasarkan umur zaman/yuga, satya yuga, treta yuga, dvapara yuga dan kali yuga, masing-masing yuga menunjukkan kondisi jaman dari satya hampir 100% mahluk hidup termasuk manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan (spiritual) yang tinggi, sampai kali yuga zaman saat ini, yaitu dimulai dari penobatan parikesit sebagai raja menggantikan yudistira/darmawangsa). Saat ini kita berada pada kali yuga dimana sebagian besar manusia mendominankan sifat ego/lahiriah/komsumtif yang sangat menjauhkan dirinya dari sifat ketuhanan (spiritual). link ke yuga secara detail bisa di lihat pada en.wikipedia.org/wiki/Yuga.
    Loka samasta sukino bawantu (semoga semua mahluk hidup berbahagia)

  10. baca deh novelnya mas PUTU WIJAYA yg judulnya PERANG ..
    cerita nya tentang perang antara kurawa dan pandawa..
    keren banget cara penuturan kisahnya..

  11. apik tenan apo sampean dalang

  12. “PRINGGADANI, kerajaan milik BIMA berada dekat PEMALANG. PURABAYA, kerajaan milik GATOTKACA berada dekat SURABAYA”

    Anu yg bagian tu, kalo ga salah GATOTKACA kan Satrio PRINGGADANI, so seharusnya kerajaannya PRINGGADANI donk

  13. Memang seperti itulah apa yang ditulis Raffles dibukunya tersebut. Hal tersebut memang agak berbeda dengan apa yang kita ketahui sekarang.

    Mungkin saja Raffles salah tulis atau referensi yang didapatkan Raffles memang seperti itu adanya.

  14. Peradaban seperti apa?Indonesia tidak pernah dan tidak akan mempunyai peradaban.bukankah anda sendiri tauhu arti kata “adab” tersebut.

  15. Wah, kalau boleh saya mau sumbang renungan untuk kita bersama.
    “Mahabarata” & “Barata Yudha” adalah filosofi dasar dari “Nusantara”. Jangan kita lupakan bahwa Nusantara adalah peradaban yang sangat tinggi, dan ini perlu kita gali dan kalau bisa kita kembangkan untuk kejayaan Nusantara kembali.
    Ada tiga hal yang kalau menurut pandangan saya adalah 3 pokok dasar berkehidupan peradaban Nusantara yang semakin hari semakin ditinggalkan oleh bangsa Nusantara itu sendiri.
    1. “Aku adalah Kamu” ini hal yang paling mendasar untuk kita terapkan sehingga saling menghormati antar sesama dapat dilakukan. Namun pada kehidupan sekarang hal ini sudah sangat jauh kita tinggalkan. Kita sudah sangat takut untuk percaya pada sesama kita, mohon direnungkan!
    2. “Gotongroyong”, anda masih pernah mendengar kata ini? kalau iya saya percaya, namun saya tidak telampau yakin kita masih melakukannya. Ingat ini juga merupakan salah satu pundasi kebudayaan Nusantara. Bayangkan kita melakukan gotongroyong untuk membangun bangsa ini apa yang bisa kita peroleh? renungkan kembali!
    3. “Leluhur”, ini kata ketiga yang perlu kita ingat kembali, dan mungkin hal ini akan membawa kita pada kejayaan “Nusantara” yang kita cintai.

    Terima Kasih sudah dapat saya sampaikan renungan ini.
    JAYALAH NUSANTARAKU


Beri tanggapan

Your response:

Kategori