Sebuah artikel yang cukup menggugah nalar dan mengguncang tatanan sejarah bangsa ini. Sayangnya saya tidak menemukan author dari artikel ini. Selamat meresapi dan merenung.
Kembali ke masa prasejarah, penduduk wilayah Nusantara hanya terdiri dari dua golongan yakni Pithecantropus Erectus beserta manusia Indonesia purba lainnya dan keturunan bangsa pendatang di luar Nusantara yang datang dalam beberapa gelombang.
Berdasarkan fosil-fosil yang telah ditemukan di wilayah Indonesia, dapat dipastikan bahwa sejak 2.000.000 (dua juta) tahun yang lalu wilayah ini telah dihuni. Penghuninya adalah manusia-manusia purba dengan kebudayaan batu tua atau mesolithicum seperti Meganthropus Palaeo Javanicus, Pithecanthropus Erectus, Homo Soloensis dan sebagainya. Manusia-manusia purba ini sesungguhnya lebih mirip dengan manusia-manusia yang kini dikenal sebagai penduduk asli Australia.
http://kolomnyawied.com
Dengan demikian, yang berhak mengklaim dirinya sebagai “penduduk asli Indonesia” adalah kaum Negroid, atau Austroloid, yang berkulit hitam. Manusia Indonesia purba membawa kebudayaan batu tua atau palaeolitikum yang masih hidup secara nomaden atau berpindah dengan mata pencaharian berburu binatang dan meramu. Wilayah Nusantara kemudian kedatangan bangsa Melanesoide yang berasal dari teluk Tonkin, tepatnya dari Bacson-Hoabinh. Dari artefak-artefak yang ditemukan di tempat asalnya menunjukan bahwa induk bangsa ini berkulit hitam berbadan kecil dan termasuk type Veddoid-Austrolaid.
Bangsa Melanesoide dengan kebudayaan mesolitikum yang sudah mulai hidup menetap dalam kelompok, sudah mengenal api, meramu dan berburu binatang.Teknologi pertanian juga sudah mereka genggam sekalipun mereka belum dapat menjaga agar satu bidang tanah dapat ditanami berkali-kali. Cara bertani mereka masih dengan sistem perladangan. Dengan demikian, mereka harus berpindah ketika lahan yang lama tidak bisa ditanami lagi atau karena habisnya makanan ternak. Gaya hidup ini dinamakan semi nomaden. Dalam setiap perpindahan manusia beserta kebudayaan yang datang ke Nusantara, selalu dilakukan oleh bangsa yang tingkat peradabannya lebih tinggi dari bangsa yang datang sebelumnya.
Dari semua gelombang pendatang dapat dilihat bahwa mereka adalah bangsa-bangsa yang mulai bahkan telah menetap. Jika kehidupannya mereka masih berpindah, maka perpindahan bukanlah sesuatu hal yang aneh. Namun dalam kehidupan yang telah menetap, pilihan untuk meninggalkan daerah asal bukan tanpa alasan yang kuat. Ketika kehidupan mulai menetap maka yang pertama dan yang paling dibutuhkan adalah tanah sebagai media untuk tetap hidup. Mereka sangat membutuhkan tanah yang luas karena teknologi pertaniannya masih rendah. Mereka belum sanggup menjaga, apalagi meningkatkan, kesuburan tanah. Mereka membutuhkan sistem pertanian yang ekstensif, dan perpindahan untuk penguasaan lahan-lahan baru setiap jangka waktu tertentu. Sebelum didatangi bangsa-bangsa pengembara dari luar, tanah di Nusantara belum menjadi kepemilikan siapapun.
Hal ini berbeda dengan Manusia Indonesia Purba yang tidak memerlukan tanah sebagai modal untuk hidup karena mereka berpindah-pindah. Ketika sampai di satu tempat yang dilakukannya adalah mengumpulkan makanan (food gathering). Biasanya tempat yang dituju adalah lembah-lembah atau wilayah yang terdapat aliran sungai untuk mendapatkan ikan atau kerang (terbukti dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di wilayah Nusantara di lembah-lembah sungai) walaupun tidak tertutup kemungkinan ada pula yang memilih mencari di pedalaman. Ketika bangsa Melanesoide datang, mereka mulai menetap walaupun semi nomaden. Mereka akan pindah jika sudah tidak mendapatkan lagi makanan. Maka pilihan atas tempat-tempat yang akan ditempatinya adalah tanah yang banyak menghasilkan. Wilayah aliran sungai pula yang akan menjadi targetannya. Padahal, wilayah ini adalah juga wilayah di mana para penduduk asli mengumpulkan makanannya.
Ini mengakibatkan benturan yang tidak terelakan antara kebudayaan palaeolithikum dengan kebudayaan yang mesolithikum. Alat-alat sederhana seperti kapak genggam atau choppers, alat-alat tulang dan tanduk rusa berhadapan dengan kapak genggam yang lebih halus atau febble, kapak pendek dan sebagainya. Pertemuan ini dapat mengakibatkan beberapa hal yaitu:
1. Penduduk asli ditumpas, atau
2. Mereka diharuskan masuk dan bersembunyi di pedalaman untuk menyelamatkan diri, atau
3. Mereka yang ditaklukkan dijadikan hamba, dan kaum perempuannya dijadikan harem-harem untuk melayani para pemenang perang.
Sekitar tahun 2000 SM, bangsa Melanesoide yang akhirnya menetap di Nusantara kedatangan pula bangsa yang kebudayaannya lebih tinggi yang berasal dari rumpun Melayu Austronesia yakni bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu, suatu ras mongoloid yang berasal dari daerah Yunan, dekat lembah sungai Yang Tze, Cina Selatan. Alasan-alasan yang me-nyebabkan bangsa Melayu tua meninggalkan asalnya yaitu :
1. Adanya desakan suku-suku liar yang datangnya dari Asia Tengah;
2. Adanya peperangan antar suku;
3. Adanya bencana alam berupa banjir akibat sering meluapnya sungai She Kiang dan sungai-sungai lainnya di daerah tersebut.
Suku-suku dari Asia tengah yakni Bangsa Aria yang mendesak Bangsa Melayu Tua sudah pasti memiliki tingkat kebudayaan yang lebih tinggi lagi. Bangsa Melayu Tua yang terdesak meninggalkan Yunan dan yang tetap tinggal bercampur dengan Bangsa Aria dan Mongol. Dari artefak yang ditemukan yang berasal dari bangsa ini yaitu kapak lonjong dan kapak persegi.Kapak lonjong dan kapak persegi ini adalah bagian dari kebudayaan Neolitikum. Ini berarti orang-orang Melayu Tua, telah mengenal budaya bercocok tanam yang cukup maju dan bukan mustahil mereka sudah beternak. Dengan demikian mereka telah dapat menghasilkan makanan sendiri (food producing). Kemampuan ini membuat mereka dapat menetap secara lebih permanen.
Pola menetap ini mengharuskan mereka untuk mengembangkan berbagai jenis kebudayaan awal. Mereka juga mulai membangun satu sistem politik dan pengorganisasian untuk mengatur pemukiman mereka. Pengorganisasian ini membuat mereka sanggup belajar membuat peralatan rumah tangga dari tanah dan berbagai peralatan lain dengan lebih baik. Mereka mengenal adanya sistim kepercayaan untuk membantu menjelaskan gejala alam yang ada sehubungan dengan pertanian mereka. Sama seperti yang terjadi terdahulu, pertemuan dua peradaban yang berbeda kepentingan ini, mau tidak mau, melahirkan peperangan-peperangan untuk memperebutkan tanah. Dengan pengorganisiran yang lebih rapi dan peralatan yang lebih bermutu, kaum pendatang dapat mengalahkan penduduk asli. Kebudayaan yang mereka usung kemudian menggantikan kebudayaan penduduk asli. Sisa-sisa pengusung kebudayaan Batu Tua kemudian menyingkir ke pedalaman. Beberapa suku bangsa merupakan keturunan dari para pelarian ini, seperti suku Sakai, Kubu, dan Anak Dalam.
Arus pendatang tidak hanya datang dalam sekali saja. Pihak-pihak yang kalah dalam perebutan tanah di daerah asalnya akan mencari tanah-tanah di wilayah lain. Demikian juga yang menimpa bangsa Melayu Tua yang sudah mengenal bercocok tanam, beternak dan menetap. Kembali lagi, daerah subur dengan aliran sungai atau mata air menjadi incaran.
Wilayah yang sudah mulai ditempati oleh bangsa melanesoide harus diperjuangkan untuk dipertahankan dari bangsa Melayu Tua.Tuntutan budaya yang sudah menetap mengharuskan mereka mencari tanah baru. Dengan modal kebudayaan yang lebih tinggi, bangsa Melanesoide harus menerima kenyataan bahwa telah ada bangsa penguasa baru yang menempati wilayah mereka.
Namun kedatangan bangsa Melayu Tua ini juga memungkinkan terjadinya percampuran darah antara bangsa ini dengan bangsa Melanesia yang telah terlebih dahulu datang di Nusantara. Bangsa Melanesia yang tidak bercampur terdesak dan mengasingkan diri ke pedalaman. Sisa keturunannya sekarang dapat didapati orang-orang Sakai di Siak, Suku Kubu serta Anak Dalam di Jambi dan Sumatera Selatan, orang Semang di pedalaman Malaya, orang Aeta di pedalaman Philipina, orang-orang Papua Melanesoide di Irian dan pulau-pulau Melanesia.
Pada gelombang migrasi kedua dari Yunan di tahun 2000-300 SM, datanglah orang-orang Melayu Tua yang telah bercampur dengan bangsa Aria di daratan Yunan. Mereka disebut orang Melayu Muda atau Deutero Melayu dengan kebudayaan perunggunya. Kebudayaan ini lebih tinggi lagi dari kebudayaan Batu Muda yang telah ada karena telah mengenal logam sebagai alat perkakas hidup dan alat produksi. Kedatangan bangsa Melayu Muda mengakibatkan bangsa Melayu Tua yang tadinya hidup di sekitar aliran sungai dan pantai terdesak pula ke pedalaman karena kebudayaannya kalah maju dari bangsa Melayu Muda dan kebudayaannya tidak banyak berubah. Sisa-sisa keturunan bangsa melayu tua banyak ditemukan di daerah pedalaman seperti suku Dayak, Toraja, orang Nias, batak pedalaman, Orang Kubu dan orang Sasak. Dengan menguasai tanah, Bangsa Melayu Muda dapat berkembang dengan pesat kebudayaannya bahkan menjadi penyumbang terbesar untuk cikal-bakal bangsa Indonesia sekarang.
Dari seluruh pendatang yang pindah dalam kurun waktu ribuan tahun tersebut tidak seluruhnya menetap di Nusantara. Ada juga yang kembali bergerak ke arah Cina Selatan dan kemudian kembali ke kampung halaman dengan membawa kebudayaan setempat atau kembali ke Nusantara. Dalam kedatangan-kedatangan tersebut penduduk yang lebih tua menyerap bahasa dan adat para imigran. Jarang terjadi pemusnahan dan pengusiran bahkan tidak ada penggantian penduduk secara besar-besaran. Percampuran-percampuran inilah yang menjadi cikal bakal Nusantara yang telah menjadi titik pertemuan dari ras kuning (mongoloid) yang bermigrasi ke selatan dari Yunan, ras hitam yang dimiliki oleh bangsa Melanesoide dan Ceylon dan ras putih anak benua India.
Sehingga tidak ada penduduk atau ras asli wilayah Nusantara kecuali para manusia purba yang ditemukan fosil-fosilnya. Kalaupun memang ada penduduk asli Indonesia maka ia terdesak terus oleh pendatang-pendatang boyongan sehingga secara historis-etnologis terpaksa punah atau dipunahkan dalam arti sesungguhnya atau kehilangan ciri-ciri kebudayaannya dan terlebur di dalam masyarakat baru. Semua adalah bangsa-bangsa pendatang.
Daftar Pustaka:
D. G. E. Hall. Sejarah Asia Tenggara. Cet.I. Surabaya-Usaha Nasional. 1988
Stanley. Makalah Arus Dari Utara. 1998
T. Parakitri Simbolon. Menjadi Indonesia, buku I “Akar-akar kebangsaan Indonesia”. Cet.I. Jakarta-Kompas-Grasindo. 1995.
Dr. M. Prijohutomo & P.J. Reimer. Tentang Orang dan Kejadian Jang Besar Djilid I. Tjet.V. Djakarta-Amnsterdam: W.Versluys N.V.
Pramoedya Ananta Toer. Hoakiau di Indonesia. Jakarta-Garba Budaya.1998

kayaknya masih ada lagi deh yang berhak mengklaim dirinya sebagai “penduduk asli Indonesia” yaitu hobbit, bukti fosil2nya ditemukan di kawasan nusa tenggara
Oleh: Jiwa Musik on Mei 9, 2008
at 3:42 pm
Memang betul pendapat anda tersebut karena manusia flores yang diklaim oleh peneliti dari Australia sebagai Homo Floresiensis sebenarnya bukan termasuk spesies baru. Spesies ini termasuk Homo Sapiens dengan ras Australomelanesid, salah satu ras yang menurut artikel ini merupakan pribumi asli Nusantara.
Oleh: wied on Mei 9, 2008
at 5:16 pm
bukannya memang sejak awal penduduknya datang dari Yunan di Cina, dan memang mengisi wilayah yang belum dihuni..
kalau memang ada penumpasan ras, maka harusnya ada penemuan fosil yang dalam jumlah besar…
Oleh: Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji on Mei 9, 2008
at 7:35 pm
Menurut saya tidak ada penumpasan ras dalam hal ini pak. Yang terjadi adalah percampuran ras. Asimilasi kebudayaan yang menjadikan Nusantara seperti sekarang ini. Asimilasi inilah yang kadang menyulitkan untuk memilah mana budaya bawaan bangsa dari utara dan mana budaya asli Nusantara.
Suatu contoh dalam Pawukon terdapat konsep perhitungan berdasarkan pasaran (5 hari), paringkelan (6 hari) dan wuku (7 hari), yang mana hal ini tidak ditemukan dalam konsep ilmu perbintangan yang ada di dunia.
Sedangkan sebagian lainnya memilih menyingkir untuk mencari tempat penghidupan yang baru.
Oleh: wied on Mei 9, 2008
at 8:01 pm
Jadi, dengan kata lain, kita ini keturunan ‘penjajah-penjajah’ dulu yang merampas nusantara ini dari penduduk aslinya?
Ide yang menarik, jika melihat budaya barbar hari ini
Oleh: alex® on Mei 10, 2008
at 4:56 am
jadi saya ini orang mana??
Oleh: brainstorm on Mei 10, 2008
at 6:07 am
@alex
Bung Alex, sebenarnya malah bukan keturunan penjajah. Tapi keturunan bangsa terjajah. Serbuan bangsa Arya,bangsa Mongol lah yang akhirnya memaksa bangsa dari utara tersebut menyingkir hingga akhirnya sampai ke Nusantara. Pendapat inilah yang sampai saat ini menjadi pegangan para ahli. Kemungkinan adanya penduduk pribumi Nusantara masih sedikit sekali penelitiannya.
Jadi pandangan bangsa Barat mengenai Nusantara adalah, kebudayaannya merupakan kebudayaan bawaan yang berasa dari utara, begitu pula bangsa Indonesia terbentuk dari percampuran ras yang berasal dari utara. Yang pribumi dianggap tidak eksis, karena kebanyakan menyingkir ke timur (kepulauan pasifik) dan ke selatan (aborigin, australia)
@brainstrom a.k.a ikhsan
anda tinggal pilih yang mana, merasa keturunan bangsa dari utara atau ikut kelompok yang yakin akan keberadaan pribumi Nusantara sebelum bangsa dari utara datang. Dan mereka tidak menyingkir, tetap tinggal,berasimilasi,tidak kehilangan budaya aslinya yang akhirnya melahirkan kebudayaan Nusantara. Alasannya adalah, ada beberapa ciri kebudayaan Nusantara yang tidak dimiliki kebudyaan dari utara, salah satunya adalah WAYANG.
Oleh: wied on Mei 12, 2008
at 8:50 am
wah, kalo saiia keturunan bangsa Aria bukan ya
Oleh: rajasinga on Juni 17, 2008
at 9:31 am
trus keturunan bangsa manapun juga gak berarti apa2 kan buat kita?
Oleh: jayanegara on Juli 15, 2008
at 2:34 pm
eh urusanya ap ya antara keturunan dengan kondisi sekarang kalau saya boleh memilih enakan jadi keturunan bangsa yahudi cerdas2 n juga bisa invasi gtu
Oleh: jayanegara on Juli 15, 2008
at 2:38 pm
Waa kita pasti keturunan bangsa atlantis dee,karena anehnya bukan main,contohnya kita kaya minyak tpi minyak mahal,sawah kita luas tapi harga beras mahal,kita hidup ditanah yang subur tapi Rakyat kita sengsara..ya khan?
Oleh: Bolet on Juli 26, 2008
at 3:48 am
yg penting negara kita adalah hasil caplokan banyak negara.
Oleh: Ratu Adil Satria Pinandhita on Juli 26, 2008
at 11:51 am
Kita bangsa indonesia ini adalah keturunan bangsa dengan tehnologi yang sangat maju dari samudera pasifik..Bisa terbang diangkasa, mempunyai reaktor reaktor nuklir yang menjadi sumber energinya, memiliki angkatan perang yang kuat dengan kapal kapal yang canggih, bahkan untuk ukuran jaman sekarang.
Ketika terjadi Perang Nuklir..Pulau Besar yang didiami nenek moyang kita di samudera pasifik itu hancur lebur..nenek moyang kita yang berduit kabur ke galaksi lain..sedangkan yang melarat, melarikan diri ke pulau pulau disekitar pasifik, salah satunya Indonesia..karena nenek moyang kita ini dari bukan kalangan ilmuwan, maka untuk bertahan hidup mereka menggunakan peralatan seperti kapak lonjong dari batu dll, mereka tidak mengerti sama sekali tentang tehnologi yang pernah mereka pergunakan pada masa kehidupan sebelum perang nuklir, karena nenek moyang kita yang berhasil escape ke asia tenggara ini hanya masyarakat kebanyakan saja, bukan ilmuwan ilmuwan penemu tehnologi canggih itu.
Setelah lewat beberapa generasi barulah keturunannya mampu kembali mengaplikasikan beberapa tehnologi tinggi tersebut, contohnya pembangunan candi candi di seluruh pulau jawa.
Oleh: Sang Pujangga Alam Kelam on Agustus 5, 2008
at 5:16 pm
Terima kasih mas Wied, menyegarkan kembali pengetahuan sejarah saya. Thanks
Oleh: yulism on Agustus 6, 2008
at 10:39 pm
Indonesia=terminologi politik, haruskah dipaksakan dengan kajian ras???
Oleh: suciptoardi on Agustus 14, 2008
at 5:21 pm
bangsa dari utara itu warna kulitnya terang tak? apa lambat laun kita menjadi sawo matang kerna tinggal di khatulistiwa? tapi generasi sekarang warna kulitnya lebih terang daripada generasi ayah ibu kita…
Oleh: nechdzar on Agustus 16, 2008
at 6:35 pm
menyangkut teori arus masuk proto melayu dan neo melayu tu juga ada di dalam buku “tuanku rao”. agak menarik juga siih, aku setuju untuk menggali lebih dalam siapa kita sebenarnya. bangsa nusantara ini dari mana, pada dasarnya aku juga lebih suka menyebut nusantara dibanding Indonesia. seandainya bisa di ubah sampai ke konstitusi kita “Republik Nusantara” kayaknya lebih berkarakter gitu. lagian sudah punya nama yang bagus malah milih “indonesia”… sehingga ga jelas, ga berkarakter. kita neh kan bangsa kepulauan yang mestinya relatif dinamis, terbuka dan imaginatif. bukan bangsa benua (kontinental) yang keras, kasar ga karuan dan suka berperang. emang kalo orang kepulauan bukan bangsa penakluk sih, ga ekspansif juga. karena masing2 dah punya pulau yang indah. kelemahannya ya itu, mudah di infiltrasi. dulu majapahit selain tragedi bubat, ga ditemukan pembasmian yang berarti pada negeri-negeri yang bergabung. semua bisa disatukan karena pesona angkatan laut majapahit yang mampu menumpas perampok dan mendesak armada tiongkok.
Oleh: ulung on Nopember 4, 2008
at 3:13 am
dngan adanya situs ini saya dpt mengerjakan tugas.
semoga tambah maju …
sekian dari saya
terima kasih ……
Oleh: azzahra on Desember 6, 2008
at 10:41 am
aq gy nyari bacson n sebangsanya… kok ga ada, y?sebel!
Oleh: sukma_depe on Januari 13, 2009
at 12:46 pm