Dari cuplikan-cuplikan yang saya ambil dari Om Wiki, yang kemudian saya urutkan seperti di bawah agar mudah menarik benang merahnya dengan harapan mendapatkan sebuah petunjuk mengenai sesuatu.
Prasasti Mantyasih (907) atas nama Dyah Balitung menyebutkan dengan jelas bahwa raja pertama Kerajaan Medang (Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu) adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.
Istilah Wangsa Sanjaya merujuk pada nama Sanjaya, raja pertama Medang. Dinasti ini menganut agama Hindu aliran Siwa.
http://kolomnyawied.com
Sanjaya sendiri mengeluarkan prasasti Canggal tahun 732, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah pulau Jawa sebelum dirinya, bernama Sanna. Sepeninggal Sanna, negara menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan Sannaha, saudara perempuan Sanna.
Rakai Panangkaran diyakini bukan putra Sanjaya. Alasannya ialah, prasasti Kalasan (778) memuji Rakai Panangkaran sebagai “permata wangsa Sailendra” (Sailendrawangsatilaka).
Menurut teori Slamet Muljana, raja-raja Medang versi prasasti Mantyasih mulai dari Rakai Panangkaran sampai dengan Rakai Garung adalah anggota Wangsa Sailendra. Sedangkan kebangkitan Wangsa Sanjaya baru dimulai sejak Rakai Pikatan naik takhta menggantikan Rakai Garung.
Saya tertarik dengan pendapat Slamet Mulyana di atas, timbul sebuah pertanyaan pada diri saya. Apakah suksesi yang dilakukan Rakai Panangkaran saat menggantkan Sanjaya dilakukan dengan cara damai ? Yang mana pertanyaan ini timbul saya dasarkan kepada fakta bahwa Sanjaya sebagai pendiri Wangsa Sanjaya digantikan oleh Rakai Panangkaran yang berdasarakan prasasti Kalasan adalah seseorang dari Wangsa Sailendra.
Kemudian hal ini mengingatkan saya kepada Kerajaan Kanjuruhan. Kerajaan Kanjuruhan yang dari prasasti Dinoyo dapat diketahui memuja Syiwa (Hindu) adalah sama halnya dengan Wangsa Sanjaya yang juga memuja Siwa. Apakah masih ada hubungan antara pendiri Kanjuruhan dengan Sanjaya ?
Hal tersebut kemungkinan saja bisa terjadi, apabila suksesi yang dilakukan oleh Rakai Panangkaran dilakukan tidak dengan cara damai. Sudah menjadi adat raja-raja jaman dahulu, penerus tahta adalah putra mahkota dari raja yang berkuasa. Saya coba berandai-andai, katakanlah benar pewaris sah Wangsa Sanjaya dikudeta oleh Rakai Panangkaran, ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi kepada keturunan Sanjaya ini. Yang pertama adalah tunduk dan mengakui kekuasaan penguasa, yang kedua lebih baik mati daripada harus tunduk atau memilih mengasingkan diri.
Seandainya, keturunan Sanjaya ini memilih untuk mengasingkan diri, mencari tempat bermukim yang lain dan tentu saja aman, kemungkinan dia juga akan membawa serta pengikut-pengikut setianya atau katakanlah sekelompok orang yang mempunyai pandangan yang sama. Di tempat baru tersebut tentunya dia akan mendirikan komunitas (kerajaan) baru dengan ciri khas yang dia bawa. Dan saya rasa kemungkinan itulah yang terjadi pada pendirian kerajaan Kanjuruhan di Malang oleh para keluarga Dinasti Sanjaya yang tidak bisa menerima kekuasaan Dinasti Sailendra (760M)
