Postingan saya mengenai Gajah Mada ternyata memunculkan beragam tanggapan. Dan semuanya memberikan masukan serta kritik yang mencerahkan. Membantu memudahkan saya untuk lebih memfokuskan area pencarian mengenai jati diri diri sosok ini. Meskipun sampai sekarang saya sendiri belum bisa mengambil kesimpulan tentang asal usul Gajah Mada yang memang masih misteri.
Namun begitu ada beberapa fakta yang perlu digarisbawahi. Pendapat saya mengenai keberadaan hewan gajah sudah banyak mendapatkan sanggahan dari para pengunjung yang telah sudi memberikan komentar maupun memberikan data terbaru untuk dapat mengkoreksi pendapat saya tersebut.
Peradaban Nusantara Update
Ket gambar:Salah satu versi mengenai sosok Gajah Mada yang berada di komplek Air Terjun Madakaripura
Kemudian pencarian saya fokuskan kepada nama belakang dari Gajah Mada yaitu MADA. Berkaitan dengan kata ini, rekan Sangga Prana dalam komentarnya memberikan informasi bahwa MADA dalam bahasa Minang adalah kebal. Disamping itu saya menemukan dalam halaman ini, bahwa dalam upacara ritual Pancamakarapuja, yaitu upacara memuja Bhairawa yang dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana yaitu cara yang dilakukan oleh umat Hindu/ Budha untuk dapat bersatu dengan dewa pada saat mereka masih hidup karena pada umumnya mereka bersatu atau bertemu dengan para dewa pada saat setelah meninggal sehingga mereka melakukan upacara jalan pintas. Yang mana Pancamakarapuja adalah upacara ritual dengan melakukan 5 hal yang dilarang dikenal dengan 5 MA:
MADA atau mabuk-mabukan
MAUDRA atau tarian melelahkan hingga jatuh pingsan
MAMSA atau makan daging mayat dan minum darah
MATSYA atau makan ikan gembung beracun
MAITHUNA atau bersetubuh secara berlebihan
Dari informasi di atas, arti kata MADA adalah mabuk-mabukan. Saya masih belum menemukan informasi apakah kata MADA ini berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno), atau Sanksekerta. Namun begitu, katakanlah dari arti kata tersebut bisa digunakan sebagai tambahan informasi untuk mempersempit area pencarian, belum bisa dipastikan Gajah Mada berasal dari komunitas yang akrab dengan kata tersebut. Seperti komentar rekan Sangga Prana yang berpendapat bahwa nama yang diambil dari bahasa lain tidak berarti orang itu merupakan orang dari bahasanya. Kemungkinan lain adalah nama Gajah Mada adalah nama julukan, bukan nama asli. Ada beberapa pendapat yang mengatakan nama kecil Gajah Mada adalah PIPIL, yang masa kecilnya dihabiskan di lereng Gunung Penangungan.
Gajah Mada memang seorang tokoh yang fenomenal, ada yang bilang kontroversial, seorang panglima perang yang licik dan kejam (pen:peristiwa Bubat) dan yang pasti asal usulnya masih menjadi sebuah misteri.


Assalamu’alaikum
Setiap membaca postingan Mas Wied, terasa semakin bersyukur dilahirkan di bumi Indonesia.
Perbedaan itu rahmat Allah, rasanya mas mendapat hidayahNya.
Sampai saat ini saya belum bisa memberikan kontribusi apa-apa…, baru bisa baca doang
Wassalamu’alaikum
Oleh: haniifa on Mei 6, 2008
at 8:47 pm
Menagpa bukan begini mas:
MADA adalah crminan dari ADAM
GAJAH tidak lain adalah nama lain dari Ganesha, Dewa Pengetahuan.
Gajah Mada, orang yang berpengetahuan ADAM alais sistem desimal. Jadi, Gajah Mada sosok arketipal manusia yang berilmu pengetahuan dengan dasar desimal. Boleh jadi, ia hanya mitologi seperti halnya banyak mitologi lainnya.
Oleh: atmonadi on Mei 9, 2008
at 2:44 pm
Duhh… mas, bahagia sekali mendapat wawasan dari tulisan-tulisan mas Wied.
Nabi Adam a.s = Nabi/Rasul dan Khalifah (baca:Manusia pertama yang mendapatkan wahyu dari Allah)
Nabi Muhamma s.a.w = Nabi/Rasul (baca:Manusia terakhir yang mendapatkan wahyu dari Allah).
Gajah = Asal muasal gajah tahun ?? (bukankah tahun diciptakan Nabi Adam a.s ?? juga)
Tahun Gajah = Tahun Hijriah. (bukankah tahun Hijrahnya Nabi Muhammad s.a.w diketahui)
Mitologi ?? Insya Allah, buktinya dengan “fikiran” dan “hati” yang jernih dari mas, hasilnya bukan Mitologi.
Wassalam, Haniifa.
Oleh: haniifa on Mei 9, 2008
at 2:59 pm
Tak lupga juga buat mas Atmonadi, Salam Hangat.
Oleh: haniifa on Mei 9, 2008
at 3:03 pm
Menurut pendapat saya Gajah Mada bukanlah mitos. Meskipun bukti-bukti mengenai tokoh ini hanya terdapat dalam Negarakertagama dan catatan-catatan dari pujangga Sunda/Bali (saya lupa nama kitabnya) kiranya masih diperlukan kajian yang lebih mendalam. Karena Negarakertagama sendiri disamping Pararaton adalah salah satu sumber utama dalam merekonstruksi sejarah Majapahit dan kerajaan-kerajaan yang ada di pulau Jawa.
Oleh: wied on Mei 9, 2008
at 5:28 pm
Maafkan atas kehilafan saya mas Wied,
Kurang memahami makna mitos dengan mitologi.
Kadang juga terbalik antara “liberal” dan “liberalisme”
Salam hangat, Haniifa.
Oleh: haniifa on Mei 13, 2008
at 11:11 pm
gajah mada adalah orang berpengetahuan yang dilahirkan untuk menyikapi bagaimana kezaliman dinegri ini terjadi, bagaimana penghianatan raja brawijawa terhadap sabda palon (pengamongnya) lam kenal
Oleh: arya on Juni 15, 2008
at 11:00 am
Menurut pengamatan saya, pada masa kejayaan Hindu di Jawa, penamaan orang-orang (terkenal) selalu mengacu kepada nama-nama hewan tertentu. Misalnya Lembu Tal, Kebo Ijo, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan banyak lagi.
Oleh: Sekar Melati Kamah on Juni 23, 2008
at 11:58 am
gajahmada orang jawa.
beliau adalah ajudan saya dalam misi saya di kehidupan ini.
Oleh: Ratu Adil Satria Pinandhita on Juli 26, 2008
at 11:54 am
Satria baja hitam…
Berubah…
“Gajah Mada orang Jawa.”
beliau adalah ajudansaya adalah “Janda berjanggut Satria Baja Hitam” dalam missing link…di kehidupan ini.Oleh: haniifa on Juli 26, 2008
at 7:31 pm
Headline…
Ratu Adil Satria Pinandhita =:= Janda berjanggut Satria Baja Hitam
Oleh: haniifa on Juli 26, 2008
at 7:34 pm
lha kok soyo nglantur iki piye ………, hayo kembali ke topik biar enak dibaca. ok
Oleh: sabar on Juli 30, 2008
at 2:37 pm
Hayo.. yang ngelantur tetep ngelantur… yang baca-tetep baca..
Silahken tinggal pilih, mana yang enak dibaca… ?!
Sabar.. sabar dunk, tiap orangkan punya selera sediri-sendiri.. wong yang punya postingan ajah nggak protes khok.
Oleh: haniifa on Juli 31, 2008
at 1:28 pm
Sabar-sabar dunk
Oleh: haniifa on Juli 31, 2008
at 1:31 pm
mikir dong ojo ngdagel
Oleh: mamam samaran on Agustus 6, 2008
at 2:33 pm
Saya lebih condong dengan pendapat sdr Sekar melati, nama2 orang dulu kebanyakan masih memakai nama binatang, mereka bermaksud mengambil sisi plus dari nama binatang itu. Spt nama eyang canggah saya namanya Singo Kromo, pada jamanya beliau sangat ditakuti karena kesaktiannya.Kembali Kepada Gajah Mada.
Gajah adalah hewan yang Besar mempunyai kekuatan yang besar, Sedangkan Mada kalu lafal bahasa jawa adala modo artinya membantah, mencacat, menyepelekan.Bisa saya simpulkan Gajah mada adalah figur yang penuh kewibawaan, sakti dan mempunyai ambisi yang sangat tinggi, tak pernah gentar dengan lawan2nya,tegas dan pemberani.
Oleh: Ngabehi K.M on Agustus 14, 2008
at 11:49 am
Betul @mas mamam samaran, seharusnya mikir yach… dikasih bacaan yang mpena gini.
Oleh: haniifa on Agustus 14, 2008
at 3:02 pm
….hmm gitu ya..
..mangut2 bloon…
Oleh: stenlymandagi on Agustus 15, 2008
at 12:30 pm
RENNY Masmada adalah salah seorang peneliti utama Gadjah Mada yang masih tersisa. Tak tanggung-tanggung, 20 tahun dia menapak tilas ke wilayah-wilayah Nusantara yang pernah menjadi daerah kekuasaan Majapahit. Selama rentang itu, sekitar separo dihabiskannya untuk meneliti di Trowulan, lokasi yang dipercaya menjadi puat pemerintahan Kerajaan Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur.
Hasil penelitian yang memakan waktu hampir separo umur Renny itu dituangkan dalam beragam media. Mulai penulisan buku, pembuatan film, hingga penuangan dalam Catur Prasetya Polri. Perjalanannya ke berbagai daerah juga mendekatkan Renny dengan raja-raja di Nusantara. Karena itu, dia pernah didaulat menjadi ketua Dewan Pakar Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara.
Saat ini Renny menyelesaikan garapan besar: membuat sinetron kolosal Gadjah Mada. Mengapa sinetron? Menggambarkan kejayaan Majapahit dan Gadjah Mada-nya, kata Renny, tidak cukup hanya dengan buku. Film, dia nilai, menjadi mendia yang paling efektif.
Selain peneliti, Renny dikenal sebagai seniman teater dan sutradara film. “Kami menentukan lokasi syuting tidak sembarangan, Jadi, kalau ada penelitian arkeologi yang menemukan tembok Kerajaan Majapahit di Trowulan, kami yakin itu benar,” kata Renny kepada Jawa Pos di rumahnya kawasan Pamulang, Jakarta.
Dia tidak mau menyebutkan anggaran yang disiapkan untuk pembuatan sinetron itu. “Namanya kolosal, tentu (menghabiskan) puluhan miliar, Mas,” ujarnya.
Karena dikenal ahli tentang sejarah Gadjah Mada, pada pertengahan 2004, dia bersama beberapa sejarawan, termasuk Prof Dr Hari Murti, diminta Kapolri (saat itu) Jenderal Da’i Bachtiar untuk merumuskan penyederhanaan catur prasetya (paradigma moral Polri) yang bersumber dari filosofi Mahapatih Gadjah Mada.
“Catur prasetya itu semula dalam bahasa Sansekerta. Kapolri minta agar disederhanakan dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami anggota Polri,” tuturnya. Setelah tim selesai bekerja, Renny diminta untuk menjadi juru bicara tim merumuskan validasi catur prasetya.
Catur prasetya digunakan Polri hingga kini. Isinya, pertama, meniadakan segala bentuk gangguan keamanan. Kedua, menjaga keselamatan jiwa, raga, harta, benda, dan hak asasi manusia. Ketiga, menjamin kepastian berdasarkan hukum. Keempat, memelihara perasaan tenteram dan damai.
“Saya mendapat penghargaan dari Kapolri seperti ini,” katanya sambil menunjukkan piagam penghargaan bertanggal 24 Juni 2004.
Renny juga yang menjadi pembuat patung Gadjah Mada atas permintaan Polri yang berdiri di Mada Kalipura, Probolinggo. Total tinggi patung itu 7 meter. Yakni, 4 meter stage dan tinggi patung 3 meter. Patung itu diresmikan Kapolwil Malang Kombespol Moh. Saleh Amin.
Mengapa Renny diminta untuk merumuskan catur prasetya? “Saya meneliti Gadjah Mada selama 20 tahun sejak 1984,” jawabnya.
Selama tinggal di sekitar Trowulan, dia meninggalkan keluarga di Jakarta. “Saya menjadi peneliti individual.”
Mengapa Anda meneliti dan siapa yang membiayai? “Saya sejak remaja tertarik dengan cerita tentang Mahapatih Gadjah Mada. Beliau adalah pemersatu Nusantara,” jawab dosen tidak tetap IPB itu. Dan, karena bentuk penelitiannya sederhana, dia membiayai sendiri.
Bentuk penelitian adalah wawancara dengan para tokoh masyarakat yang mengetahui tentang sejarah Majapahit. “Saya bergaul bersama mereka selama bertahun-tahun sehingga saya tahu banyak tentang Mahapatih Gadjah Mada,” katanya.
Tahun lalu dia bersama teman-temannya membuat sinetron tentang Gadjah Mada. Setelah jadi, belum ada televisi yang bersedia menayangkan. Belakangan ada seorang investor berniat membiayai pembuatan sinetron tersebut. “Kini kami melakukan persiapan memproduksi puluhan seri,” ujarnya.
Awalnya, Renny memang seniman. Pada 1970-an, dia menjadi anggota Teater Gelanggang Remaja Jakarta Timur bersama Borman Dorisman. Sejak awal 1980-an, dia mulai terjun ke film sebagai sutradara. Dalam sinetron Gadjah Mada, Renny merangkap posisi sutradara dan pemain utama, pemeran Gadjah Mada. Bentuknya semikolosal, mirip dengan sinetron Cheng Ho yang tayang di Metro TV kini.
Apakah wajah Anda memang mirip Gadjah Mada? “Tidak ada yang tahu persis wajah Gadjah Mada,” jawabnya. Soal itu, Renny menemukan bahwa wajah Gadjah Mada yang dikenal di buku sejarah ternyata bukan berdasarkan penelitian arkeologis. (el)
Oleh: prasetyo on September 10, 2008
at 2:20 pm
Kata pak lik saya ” Gajah Mada adalah teman akrab Ir.Soekarno yang berguru Ilmu kasekten kepada Pangeran Diponegoro”
Oleh: Raden Haryo Sadoro on September 11, 2008
at 1:10 pm
Gajah Mada, Hayam Wuruk, Mpu Prapanca, atau tokoh2 lainnya hanya manusia seperti kita. Mereka telah memainkan peran di dunia dgn kemampuan mereka secara baik. Seharusnya kita juga melakukan hal yg sama sesuai dg kemampuan yg kita miliki. Karena dg memahami diri sendiri(lahir,hidup,mati), mungkin kita akan tau bahwa ada yg lebih penting yg hrs kita lakukan di dunia ini.
Oleh: Gustiawan on Oktober 5, 2008
at 11:32 pm
Berdasarkan pendapat dan perenungan yang saya dapatkan dari beberapa sumber mengenai gajah mada baik sumber berupa imajinasi dari buku-buku yang sudah beredar maupun dari beberapa kitab dapat saya simpulkan secara subyektif:
1. Nama gajah Mada, beliau diberi nama seperti itu ada beberapa kemungkinan seperti: Karena kekuatan fisik yang dimiliki dan jiwa pelindung yang dimiliki (Ganesa (Gajah), beliau adalah putra sywa dengan kempuan melindungi dan menghancurkan segala rintangan yang bersifat jahat, bukan sebagai dewa ilmu pengetahuan seperti logo ITB, dalam Hindu perwujudan Tuhan untuk ilmu pengetahuan adalah Dewi saraswati, dewi sebagai sakti Brahma yaitu Tuhan dalam sinar beliau sebagai pencipta semesta dengan isinya harus didampingi oleh sakti Dewi sarasawati sebagai wujud ilmu pengetahuan penciptaan terjadi hanya mungkin dengan ilmu pengetahuan),
Mada kemungkinan diambil dari maha dan ada, beliau mempu memberikan spirit untuk semua prajurit sehingga dalam kondisi apapun setiap prajurit atau orang-orang majapahit merasakan kehadiran beliau dimana-mana sehingga keteraturan dan kedisiplinan negeri dapat terjadi.
2. Penggambaran belau lewat bentuk patung yang telah dibuatkan gambarnya pada buku moh yamin dan dipertentangkan oleh beberapa ahli ada baiknya kita melihat penginggalan patung KEbo Iwa yang dibuat oleh kebo iwa sendiri pada masa kerajaan bedahulu (sebenarnya nama kerajaan adalah Singamandawa kalau tidak salah, diberi nama bedahulu karena cara pelaksanaan hindu yang berbeda dengan hindu/sywa yang diajarkan di majapahit) mahapatih raja Bali yaitu Ratna Bumi Banten, patung kepala kebo iwa ini dapat dilihat di pura puseh desa adat blahbatuh gianyar, patung ini disucikan pada pura tersebut. Ada kemiripan antara kepala patung yang digambarkan pada buku moh yamin dengan kepala patung kebo iwa dengan demikian dapat saya simpulkan orang-orang besar pada jaman tersebut (kebo iwa sejaman dengan gajah mada) digambakan dengan bentuk kepala bulat (kepala bulat kecerdasarn sempurna) dengan rambut berombak menunjukkan pemikiran yang jauh kedepan yang selalu diiringi dengan pertimbangan yang seksama, hidung besar daya cium/insting tinggi, dll.
Demikian dapat saya simpulkan secara subyektif.
Oleh: ari on Oktober 10, 2008
at 9:25 pm
Berdasar kata2 orangtua dulu di tempat saya
alkisah dikirim lah prajurit terbaik di tiap daerah
ke jawa. dan dari tanah pakpak diutuslah seorang yg bermarga GAJAH ke jawa. setelah sampai di
jawa dia menjadi prajurit dan menikah dengan
putri daerah setempat. dan punya keturunan dan
dinamakan “GAJAH MADA”. hal ini dapat kita lihat
dari struktur tubuh gajah mada yg mana mirip
dengan struktur orang pak-pak pada zaman dahulu.tq
demikian cerita yg saya dengar. mohon tanggapan
utk mendapatkan jejak awal GAJAH MADA
Oleh: gajah on Oktober 11, 2008
at 3:43 pm
om semuga film om lancar dimudahkan dan disukseskan.serta mencapai suatu kesuksesan yang sempurna.salam nusantar GAJAG MADA….
Oleh: taufan on Nopember 25, 2008
at 6:51 pm
saya cuman mau memberikan penerangan mengenai makam yang sebenarnya, menurut hikayat yang dapat dipercaya, makamnya itu dalam dalam goa, ada disuatu tempat dan pulau yang selama ini tidak banyak dikenal oleh orang, kalau anda ingin tau lebih jauh mengenai hal ini segerah hubungi aku di e-mail aku
Oleh: La Ode Aris on Desember 13, 2008
at 8:37 am
gajahmada itu orang tolol, dan dibesarkan oleh cerita/mitos yg tak berdasar, kalau menurut sejarah minang, patih gajahmada ingin menaklukkah kerajaan di minang, namun dengan pintarnya..raja minang menawarkan suatu pertandingan kerbau untuk menghindari peperangan massal, dengan syarat siapa yg kalah kerbaunya..harus mengaku kalah. Gajahmada memilih kerbau jantan yg besar dan kuat, sementara raja minang memilih anak kerbau yg di kandangkan dan tak dikasi makan beberapa hari, saat adu kerbau di laksanakan, anak kerbau yg lapar melihat juntai pelir kerbau jantan milik gajahmada bagaikan puting induknya, maka di isaplah pelir tersebut sampai berdarah, sehingga kerbau jantan gajahmada kalah, maka teriaklah penduduk sana “minang!, minang! (maksudnya menang anak kerbau mereka), maka pulanglah gajahmada dan pasukannya dengan rasa malu.
Saya lagi mau mengumpulkan bukti otentik gajahmada yg akan di tuangkan dalam tulisan “bergunakah gajahmada untuk Nusantara?”, kalau bapak-ibu yg memiliki copi naskah kuno dari kesultanan/raja melayu akan sangat membantu bila dikirimklan ke saya. Trims sebelumnya
Oleh: orang melayu on Desember 14, 2008
at 4:14 pm
@ orang melayu
Berhentilah jadi Chauvinis. Silakan anda miliki kebanggaan legenda tentang Minangkabau (menang kerbau). Anda suka atau tidak, Majapahit tetaplah kerajaan terbesar di Nusantara.
Oleh: Mahendra on Desember 19, 2008
at 6:58 pm
@Orang Melayu

Wahh… asik juga membaca komentarnya.
Nah, bagaimana jika saudara berexperimen sedikit.
Kurung anak tikus, nggak usah ditetekan sama induknya, setelah sekian lama maka silahkan masukkan tikus jantan dan besar ke kandang.
Jika anak tikus yang kelaparan menetek pada tikus jantan maka saya kira saudara tidak usah berpayah-payah mencari copy naskah kuno. Bukan ?!
Atau untuk membuktikan hipotesa saudara bagaimana jika menggunakan KERBAU seklian ?!
Wassalam, Haniifa.
Oleh: haniifa on Desember 20, 2008
at 3:11 pm
sampurasun,
sekedar pemikiran tolol dari saya pribadi, saat ini (dunia secara global) apa yang disebut metodologi, logika, ilmiah serta istilah dan mekanisme didalamnya mengacu kepada kebudayaan barat (baca : eropa dan amerika) diluar itu akan dianggap sebagai pernyataan atau pendapat yang tidak ilmiah, dan tidak masuk akal. hal ini yang kemudian menjadi rancu ke tika metode barat tersebut “dipaksa” untuk menggali dan mencoba mengerti mengenai kebudayaan dan sejarah Nusantara.
Sebagai contoh, di keilmuan barat hanya dikenal 4 jenis tanda (ikon, index, symbols, code) sedangkan di negara kita terdapat 7 jenis tanda (sindir, sampir, silib, sandi, siloka, sasmita, dan sunyata). mana cukuuuuuuup maneeeeeh!!!
kenapa setiap pembuktian harus menggunakan metode barat?, untuk pemaparan, oke. karena tujuannya untuk disebarluaskan dan karena itu bentuk pemaparannya harus menggunakan “bahasa” yang menjadi target pemaparan kita. tapi untuk pembuktian? pliss deh….
contoh : majapahit = asal kata dari buah maja yang rasanya pahit,…(astaga masak leluhur kita serendah itu memberi nama?..)..lantas bagai mana dengan nasib maja-maja yang lain? seperti majalaya, majalengka, majakerta, majaleje?
banyak fakta sejarah dan budaya nusantara yang kemudian di putar-balikan supaya bangsa ini tidak menjadi tumbuh dan kuat, diadu-domba antara satu dengan lainnya.
sehingga kemudian dengan sangat arif dan bijaksananya leluhur-leluhur kita menyiratkannya pada yang tersurat melalui bermacam cara, mulai dari penamaan, kisah/dongeng, ragam hias, tata bahasa, adat-istiadat, pusaka, senjata, dll dengan harapan suatu saat nanti ada anak cucu serta keturunan nya yang mau dan mampu mengemban tanggung jawab untuk mengetengahkan yang sebenar-benarnya,…
mari “menggali” dengan visi kesatuan Nusantara…
Oleh: wa'ul on Desember 23, 2008
at 4:52 pm
majapahit kerajaan terbesar di nusantara?
mungkin karena yg nulis sejarah kebanyakan orang jawa, pemimpin pun banyak orang jawa, sampai2 dipatok bahwa presiden pun harus orang jawa….
wied sendiri bilang bahwa gajah mada dinilai licik oleh sebagian orang, (count me in!
)
apa orang jawa gak mikir betapa sakitnya hati orang2 bukan jawa?
rasa2nya di bandung ga ada satu pun nama jalan >> hayam wuruk, gajah mada , dll… perang bubat memang menyakitkan,
belum lagi pandangan orang aceh ttg orang jawa …kolonial…
ribut2 di kalimantan antara penduduk lokal dgn transmigran jawa….
bahkan kami di prabumulih menganggap transmigrasi adalah jawanisasi…
mungkin orang jawa saat ini menganggap bahwa sumpah palapa oleh gajah mada masih sedang berlangsung perwujudannya.
pandangan ini muncul mungkin karena saya pribadi adalah orang melayu sering heran melihat adat istiadat – tata krama feodal khas jawa,
karena bagi kami di melayu pemimpin itu hanyalah orang biasa diantara kami yg kami dahulukan selangkah didepan, yang kami tinggikan seranting, tidak lebih.
saya punya pandangan sendiri ttg majapahit, gajah mada dan sumpah palapa, insyaAllah dalam waktu dekat.
btw ttg gajah mada, saya punya teman yg bernama DIJAL MADA, orang melayu sekayu tulen.
Oleh: abu syauqi on Desember 30, 2008
at 8:16 pm
@Mas Abu Syauqi
Patutkah bangsa yang carut-marut ini masih mengikuti politik “divide et impera” peninggalan Kebobule seperti dulu := Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Sumatra ?!
Pada masa jayanya, daerah taklukan Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi serta sebagian Negara Filipina dan Gajah Mada adalah salah satu tokoh besar pada zaman kerajaan Majapahit.
Kenapa pakai nama Indonesia sebab kalau menggunakana nama negara “Nusantara”, sebab bangsa ini bisa menguntut wilayahnya seperti diatas.
Ingat konsep “Nusantara” murni berasal dari kebudayaan asli jaman Majapahit
Dengan cara yang licik para “Kebo bule” memecah wilayah Nusantara (wilayah diatas) menjadi berdasarkan kolonial para kebo bule Malaysia := Inggris, Indonesia := Belanda, Filipina + Timor timur:= Portugis.
Wassalam, Haniifa.
Oleh: haniifa on Desember 31, 2008
at 4:57 pm
@haniifa
saya rasa bangga dengan identitas lokal bukan berarti termakan politik pecah belah, yang pasti ikut politik pecah belah itu adalah kedaung group…
saya cukup percaya bahwa majapahit kerajaan yang besar pada masanya, dan salah satu kerajaan besar disepanjang sejarah kepulauan antara sumatera sampai papua.
tapi jelas majapahit bukan yg terbesar.
adalah gajah mada yg bisa bikin majapahit besar, proyek ekspansi majapahit keluar jawa dimulai pada masa gajah mada menjadi kepala paspampres di istana majapahit, lalu ketika diangkat menjadi PM, gajah mada bikin sumpah amukti palapa.
cerdas, ambisius, dan teguh pendirian, gajah mada bekerja keras mewujudkan sumpahnya, bagaimanapun caranya.
kenapa saya bilang majapahit besar karena gajah mada? karena segala “kebesaran’ majapahit runtuh seiring dgn wafatnya gajah mada.
usia majapahit tidak sampai 200 thn, dan masa2 gemilang penaklukan hanya seumuran pengabdian gajah mada saja, +/- 33 thn.
seandainya tidak ada gajah mada, mungkin majapahit hanyalah penguasa tanah jawa saja.
btw…
anda benar2 tipikal orang jawa karena menyebut orang eropa dengan ‘kebo bule’, gajah mada mungkin berperawakan tinggi bongsor dgn muka keras shg disebut gajah oleh rekan2nya. dan
jangan2 kebo hijo yg dituduh membunuh tunggul ametung itu adalah the green martian from mars??!
Oleh: Abu Syauqi on Januari 8, 2009
at 3:47 pm
@Mas Abu Syauqi
Bagi saya tidak menjadi masalah siapa yang lebih besar antara Gajah Mada dengan Kerjaan Majapahit… mereka layaknya antara badan dengan kepala.
Kebesaran Kerajaan majapahit salah satunya oleh Gajah Mada, karena gajah Mada dibesarkan dalam tatanan Kerjaan Majapahit.
btwe juga…
Jangan-jangan mas tipilkan Eropa….
Oleh: haniifa on Januari 9, 2009
at 4:10 am
Saat ini sedang dipersiapkan pembuatan sebuah Film Kolosal dan Mega Sinetron yang berjudul: “Mahapatih Gajah Mada” oleh PT TAWI NUSANTARA FILM yang disutradari oleh Renny Masmada. Semoga nantinya dapat membangkitkan semangat nasionalisme di negara kita tercinta ini.
Oleh: Setyo W. on Januari 14, 2009
at 5:58 pm
Bagi siapa saja yang masih ngotot percaya gajah mada sebagai penakluk konon nusantara berdasar kitab negarakertagama tanpa pernah membaca kitab didaerah lain yang dikatakan penaklukan, maka siapkah anda jika anda membaca sisi lain yang sama sekali berlawanan dengan anggapan anda selama ini?? dan berdasar penelitian arkeolog? darimana keris berkelok kelok di Jawa itu berasal?
silahkan anda masuk forum detik > politik & peristiwa > pendidikan > sejarah > mahapatih gajah mada
langsung saja halaman 6 topik MACCAPAI = MAJAPAHIT? PART 1 SAMPAI 4
Jika anda menyangkal, saya tunggu comment anda disana.
http://forum.detik.com/showthread.php?t=91576&page=6
Oleh: the truth is out there on April 23, 2009
at 5:10 pm
SIAPKAH ANDA? jika anda ingin melihat sisi lain Majapahit dari kitab Kerajaan lain, yang katanya ditaklukkan oleh Gajah Mada, maka saya ingin anda semua melihat dari sisi kitab Bugis dan Luwu’ di Sulawesi Selatan, I La Galigo, tentang dugaan pernikahan anak Raja Luwu dan putri Majapahit dan Luwu menyediakan bahan dan peralatan militer untuk Majapahit dari penelitian arkeolog tentang darimana sebenarnya asal bentuk keris Jawa itu berasal.
silahkan anda masuk di forum detik > politik & peristiwa > pendidikan > sejarah > mahapatih gajah mada
langsung saja ke halaman 6, MACCAPAI = MAJAPAHIT? PART 1 sampai 4.
silahkan baca sepuasnya. dijamin puassss.
Oleh: the truth is out there on April 25, 2009
at 12:08 am