Posted by: wied | April 29, 2008

Sabdo Palon

Sabdo Palon atau Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Sedangkan dalam filosofi Jawa Semar disebut juga Badranaya dari gabungan kata Badra:Membangun sarana dari dasar dan Naya=Nayaka :Utusan yang kira-kira bila diterjemahkan berarti “Mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Tuhan demi kesejahteraan manusia”.

Dan berikut adalah kepercayaan yang tumbuh dan berkembang pada masyarakat Jawa akan adanya tokoh Sabdo Palon tersebut yang artikelnya saya dapatkan dari milist komunitas yang perduli akan kebudayaan jawa, Sekar Jagad.

Kepercayaan Adanya Sabda Palon
diterjemahkan oleh: Ki Denggleng Pagelaran

Bagian mitologi Jawa yang cukup menarik perhatian adalah keberadaan Sabda Palon yang dipercaya mbaureksa kekuasaan di Jawa (Nusantara). Sabda Palon diyakini merupakan penjelmaan derivatif Hyang Ismaya (Semar) yang memiliki kewajiban menjadi pamomong semua penguasa (manusia) di Jawa (Nusantara).

Mitologi ini sebenarnya memiliki makna bahwa para penguasa yang diasuh (dimong) Sabda Palon itu merupakan penguasa yang memiliki “kedaulatan spiritual”, yaitu penguasa yang Agung Binathara. Penguasa yang dipatuhi oleh seluruh rakyatnya dan disegani oleh penguasa-
penguasa negara lain.

Cerita yang banyak diyakini oleh para ahli kebatinan, tugas Sabda Palon terakhir adalah momong Prabu Brawijaya di Majapahit. Sabda Palon memilih berpisah dengan momongannya, karena Prabu Brawijaya pindah agama, dari Agama Siwa-Buddha (campuran Jawa-Hindu-Buddha) menjadi Islam yang datang dari Arab. Dengan begitu, Prabu Brawijaya dianggap telah kehilangan kedaulatan spiritual-nya. Sabda Palon memilih lengser (pensiun) dari kedudukannya sebagai pamong raja kemudian bertapa tidur
di pusat kawah Gunung Merapi selama 500 tahun. Selama Sabda Palon bertapa itu, tanah Jawa tidak akan memiliki kedaulatan lagi, serta tidak dihormati oleh bangsa-bangsa lain. Terbukti, bahwa sejak jaman Demak hingga Mataram Islam, para Sultan-nya perlu memohon legitimasi kekuasaannya kepada ulama Mekah, sedang para Sultan dari wilayah Sumatera dan Banten serta banyak lagi dari Indonesia Timur, memohon legitimasinya dari Daulah Ottoman Turki. Kesultanan Aceh, sebelum perang melawan Belanda, sebenarnya adalah salah satu wilayah Kesultanan Turki itu. Setelah itu Jawa dan Nusantara dijajah Belanda, Inggris dan Jepang. Lho,kan itu berarti Jawa dan Nusantara tidak lagi memiliki kedaulatan Spiritual?

Meskipun dapat dikaji seperti itu, tetapi sebaiknya cerita mitologi Jawa tentang Sabda Palon itu jangan diartikan sebagai penolakan Jawa terhadap Islam. Karena tidak ada ceritanya peradaban dan kebudayaan Jawa itu menolak masuknya paham agama macam apa pun. Malah Jawa biasanya dapat mendukung sehingga agama-agama yang masuk itu mencapai keemasannya di tanah Jawa. Tutunan Jawa tentang penyembahan pribadi kepada Yang Maha Kuasa dibebaskan, terserah kepada pilihan masing-masing. Mau menyembah dengan cara agama apa saja tidak akan pernah disalahkan. Pokoknya, paham dasar yang harus dilaksanakan setiap manusia adalah ketika hidup bermasyarakat bergaul dengan sesama makhluk Tuhan Yang Maha Agung, jenis apa pun. Kewajibannya, setiap orang diharuskan ikut memperindah keindahan jagad dengan cara memelihara dan melestarikan keselarasan (keharmonisan) antar sesama makhluk, dan mejauhkan diri dari perselisihan. Sekali lagi: Melu Memayu
Hayuning Bawana!

Cerita Sabda Palon itu apa bila benar-benar di dalami sungguh-sungguh, malah jelas menggambarkan kesalahan Prabu Brawijaya dalam mengelola kedaulatan yang digenggamnya. Sebab Prabu Brawijaya yang kaya-raya dan berkedudukan sebagai maharaja (diugung raja brana lan kuwasa) lalu lupa melaksanakan amanah kedaulatannya dengan benar. Ceritanya, Prabu Brawijaya terakhir memiliki selir yang banyak sekali, maka anaknya juga sangat banyak. Semua anak-anak itu lalu diberi “kedudukan” mengurus pemerintahan negara Majapahit. Jaman sekarang, tindakan itu disebut dengan Nepotisme. Oleh sebab itu, raja Majapahit lalu hilang kewibawaannya. Negara besar itu menjadi ringkih. Akhirnya ketika para Bupati Pesisir membantu Demak berperang dengan Majapahit, rakyat Majapahit tidak mau membela atau tidak ikut mempertahankannya.

Sabda Palon, sebenarnya merupakan simbul atau personifikasi kesetiaan rakyat kepada rajanya, kepada pemimpin negaranya atau kepada pemerintahnya. Sabda Palon memilih pisah dari Prabu Brawijaya, berarti rakyat sudah kehilangan kesetiaannya kepada raja Majapahit itu. Istilahnya terjadi pembangkangan publik terhadap kepemimpinan Brawijaya, tidak mau membela kerajaan ketika berperang melawan Demak dan Bupati-bupati Pesisir.

Cerita itu disamarkan dengan pernyataan, bahwa Sabda Palon akan bertapa tidur selama 500 tahun. Cerita itu juga memuat pengertian, bahwa 500 tahun setelah runtuhnya Majapahit, rakyat Jawa (Nusantara) akan tumbuh kembali kesadarannya sebagai bangsa terjajah dan akan memiliki kesetiaan kembali kepada pemimpin bangsanya. Munculnya rasa kebangsaan dan kesetiaan terhadap tanah air itu digambarkan tidak dapat dibendung seperti meletusnya Gunung Merapi.

Nah, mari dikaji bersama-sama dengan enak dan tenang tentang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, bahwa dahulunya (pra kemerdekaan dan setelah 17 Agustus 1945), gemanya kan melebihi meletusnya Gunung Merapi, bukan? Bahwa sejak 17 Agustus 1945 itu kita lahir kembali menjadi bangsa Indonesia yang menggenggam kembali kedaulatan spiritual kita. Atas berkat rahmat Allah perjuangan kemerdekaan Indonesia telah mengantar ke gerbang kemerdekaannya, demikian yang ditulis para pendiri bangsa kita di Preambule UUD 1945. Kita telah diberi kembali kemerdekaan spiritual oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jadi yang pokok sebenarnya, apakah kita semua bisa merasa (ngrumangsani) bahwa telah dianugerahi kemerdekaan itu atau tidak. Kalau merasa, tentunya kita akan memiliki rasa setia, bangga dan mantap untuk memperjuangkan terus demi kejayaan Indonesia, bukan malah semakin meruntuhkan NKRI misalnya dengan ikut berperan dalam penyebaran KKN yang semakin menjadi-jadi dan membudaya di mana-mana seperti sekarang ini. Perlu diingat, bahwa dengan inspirasi Proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945 itu, negara-negara jajahan lainnya lalu ikut berjuang memperjuangkan kemerdekaannya. Dan kelihatannya hanya Indonesia saja bekas negara jajahan yang berdiri pada abad XX dengan memproklamasikan diri, yang lainnya biasanya diberi kemerdekaan oleh para penjajahnya! Dengan embel-embel bentuk-bentuk keterikatan dan ketergantungan kepada bekas penjajahnya.

Tanggapan

Ok.
Saya menambah wacana dalam benak saya.
Senang masih ada wong jowo yang bisa berpendapat diatas.

ooooooooo…
makasih mas, sabdo palon merupakan semar ternyata.
mas, coba beri kisah mahabarata dong,… bukan kisah ramayana lo…….. jelas beda. dari awal sampe perang baratayudha., pasti seru itu. makasih mas.

ono maneh mas, ojo lali bagaimana posisi punakawan di dalam kisah pewayangan tersebut….
bila perlu beri dong kisah para punakawan.,,, kenapa ya kok datangnya di saat2 goro-goro.

Leave a response

Your response:

Kategori