Posted by: wied | April 28, 2008

Misteri Borobudur

Tidak bisa dipungkiri bahwa Borobudur merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Dan inipun sudah diakui dunia dengan memasukkan Borobudur sebagai salah satu bagian 7 keajaiban dunia bersanding dengn Piramid Mesir dan Tembok Besar China.

Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan? Mengingat pada masa itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-langkah pengerjaan yang harus dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? Dan masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmu pengetahuan, terutama tentang ditemukannya ruang pada stupa induk candi.

Saya sempat berpikiran bahwa Pak Gunadharma tidak membangun Borobudur tapi “hanya” memugar dan menata ulang konstruksi Borobudur yang kemungkinan ada beberapa bagiannya yang sudah rusak karena faktor alam.

Dari Wikipedia ada catatan mengenai tahap “pembangunan” Borobudur ini.

Tahap Pertama

Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

Tahap Kedua

Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

Tahap Ketiga

Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

Tahap Keempat

Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

Merujuk pada belum pastinya masa “pembangunan” Borobudur dikarenakan tidak adanya prasasti atau bukti-bukti tertulis, menyebabkan Borobudur masih penuh kegelapan. Perkiraan pembangunan Borobudur dilandasi pada petunjuk corak bangunan candi dan ukir-ukirannya yang menunjukkan corak Jawa Tengah abad 8 M. Terdapatnya tulisan pada relief di sudut tenggara digolongkan sebagai tulisan Jawa Kuno, peralihan dari tulisan huruf Pallawa di India. Tulisan Jawa Kuno berkembang pada abad 7-9 M. Meskipun hal ini masih menjadi perebatan, yaitu mengenai sosok Aji Saka apakah benar sebagai penemu Huruf Jawa atau hanya sesorang yang memberikan tanda baca bagi Huruf Jawa agar mudah dibaca bagi orang selain Jawa. Perlu diketahui bahwa cara penulisan Huruf Jawa yang asli adalah “telanjang” tanpa adanya tanda baca seperti terdapat dalam kitab Jayabaya.

Satu lagi yang membedakan Borobudur dan candi-candi Jawa Tengah pada umumnya dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur maupun daerah Indonesia yang lainnya adalah bahan bangunannya. Borobudur disusun dari batuan andesit sedangkan candi di Jawa Timur disusun dari bata merah. Namun penjealsan tentang hal ini saya dapatkan dari milist IAGI, ahli-ahli Geologi Indonesia sering berkumpul disini, adalah Pak Awang Styana yang mempunyai pemikiran sbb :

Semeru tak seaktif Merapi, maka lebih banyak andesit dimuntahkan Merapidaripada Semeru, sehingga jelas lebih banyak batu andesit di sekitar pusat2kerajaan Buddha-Hindu. Itulah yang jadi bahan baku candi2 di Jawa Tengah. Inibelum termasuk muntahan andesit dari Merbabu, Sundoro, dan Sumbing di ex Kresidenan Kedu. Maka, tak kurang dari 50 candi besar kecil ditemukan di dataran tinggi ini. Dan, sampai zaman Mataram Hindu, pusat kerajaan ada di Jawa Tengah, bukan di Jawa Timur. Mereka banyak mendirikan candi2. Setelah itu, abad ke-12, pusat kerajaan bergeser ke Jawa Timur menuju Kediri lalu Majapahit di sekitar Trowulan Mojokerto sekarang.

Bukan berarti saya menafikan teknologi dan budaya nenek moyang yang mungkin sudah dimiliki dalam “membangun” Borobudur, sama seperti pertanyaan para ahli tentang bagaimana bangsa Mesir membangun Piramid. Andai kata benar seperti itu, bisa kita bayangkan betapa tinggi teknologi dan budaya yang telah dkuasai nenek moyang kita tersebut. Terlepas dari bagaimama Borobudur di bangun, sebagai pewaris sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikannya.

Leave a response

Your response:

Kategori