Oleh: wied | Maret 31, 2008

Penghormatan ala Jawa bagi Orang Mati

Beberapa waktu lalu saya pernah membahas tentang adat istiadat orang Jawa terhadap anak (bayi), sebuah prosesi sebagai pengejawantahan rasa syukur terhadap Tuhan serta sebuah tahapan-tahapan untuk menyiapkan keturunan agar menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Dalam kesempatan kali ini, saya akan membahas adat istiadat yang masih dilakukan masyarakat Jawa terhadap orang atau keluarga yang telah meninggal.

Dalam pemahaman orang Jawa, bahwa nyawa orang yang telah mati itu sampai dengan waktu tertentu masih berada di sekeliling keluarganya. Oleh karena itu kita sering mendengar istilah selametan yang dilakukan untuk orang yang telah meninggal. Berikut diantaranya ritual yang dilakukan menurut adat istiadat Jawa.

http://kolomnyawied.com



Brobosan

Yang dimaksud dengan brobosan adalah ritual berjalan sambil jongkok melewati bawah jenazah yang dimulai dari keluarga tertua sampai dengan keluarga termuda sebelum jenazah dibawa ke pemakaman. Ritual ini biasanya dilakukan untuk jenazah yang kedudukan di dalam keluarga sebagai orang tua. Tentu kita semua masih ingat ketika Almarhum Presiden Soeharto meninggal kemarin, semua keturunan-nya masih melakukan ritual ini. Tidak heran karena Pak Harto adalah seseorang yang masih teguh memegang ke-Jawaannya.

Geblak

Tradisi selametan yang dilakukan pada saat geblak (waktu meninggalnya)

Pendak Siji

Tradisi selametan yang dilakukan ketika setahun setelah geblak

Pendak Loro

Tradisi selametan yang dilakukan ketika dua tahun setelah geblak

Nyewu

Tradisi selametan yang dilakukan seribu (1000) hari setelah geblak. Bagi sebagian masyarakat Jawa, nyewu adalah selametan terakhir.

Kol

Ada beberapa masyarakat Jawa yang masih melakukan selametan setelah 1000 hari, yang biasa disebut dengan istilah nge-kol-i . Yaitu selametan yang dilakukan setiap tahun setelah nyewu dilakukan.

Jamuan yang dilakukan dari mulai Geblak sampai dengan Kol sama saja, yaitu berupa sego asahan (nasi karon) dan sego wuduk (nasi uduk). Hanya saja, biasanya ketika nyewu ditambah dengan memotong kambing untuk sate dan gule.

Ada juga kepercayaan sebagian masyarakat Jawa, bahwa nyawa orang yang sudah meninggal akan menjenguk keluarganya menjelang malam takbiran. Untuk itu masih sering kita lihat, setiap bulan puasa pekuburan selalu ramai dengan orang ziarah, selain untuk mendoakan arwah yang telah meninggal sekaligus untuk merawat dan membersihkan cungkup. Tidak lupa biasanya juga rumah tempat tinggal dibersihkan dan dicat ulang, tujuannya agar arwah yang meninggal mendahului ke alam baka akan merasa senang melihat kehidupan keluarga yang ditinggalkannya bahagia dan teratur serta rapi.

Budaya Jawa terkenal mudah untuk menyerap budaya dari luar yang masuk tanpa kehilangan identitasnya. Suatu misal, dengan masuknya agama Islam, ritual selametan biasanya ditambahi dengan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Meski bagi sebagian masyarakat yang memahami Islam secara murni hal ini dapat dikategorikan sebagai bid’ah, namun bagi masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur hal ini sulit untuk ditinggalkan. Karena hal ini merupakan wujud dari sikap hormat terhadap orang tua, serta sebagai bentuk pengejawantahan anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya dalam kepercayaan Islam.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori