Oleh: wied | Maret 5, 2008

Belajar dari Sejarah

Prihatin dengan kondisi bangsa yang terancam perpecahan dengan ditandainya banyak konflik yang bermunculan di negeri ini, timbul sebuah pertanyaan dalam benak saya, apakah memang nenek moyang kita memang mewariskan sifat-sifat kekerasan itu ?

Mungkin apa yang saya tulis disini sedikit berbau SARA, tapi sungguh bukan maksud hati untuk memperkeruh keadaan, saya hanya berharap kita dapat memetik pelajaran dari para pendahulu. Yang baik kita ambil yang jelek kita tinggalkan.

http://kolomnyawied.com


Berbicara mengenai sejarah negeri ini, mau tidak mau kita membahas kerajaan yang yang berperan dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Dimulai dari Sumatra, kita mengenal Samudra Pasai dan Sriwijaya. Dua kerajaan terkenal yang berbeda masa. Sejauh yang saya tahu, berakhirnya kekuasaan yang terjadi di kedua kerajaan tersebut akibat dari serangan dari kerajaan di luar pulau Sumatera atau ditaklukkan oleh bangsa lain. Kekuasaan Samudra Pasai (1267 – 1521) berakhir ketika dikuasai oleh Portugis. Sedangkan masa keemasan Sriwijaya ( abad 7 – 12 M) mulai pudar menyusul serangan dari kerajaan Chola (India Selatan) dan kerjaan Singosari. Secara nyata kita bisa melihat, konflik yang terjadi di kedua kerajaan tersebut diakibatkan oleh “orang luar”, bukan berasal dari perseteruan dari dalam.

Beralih ke pulau Jawa. Kita akui, hitam putihnya sejarah bangsa ini banyak disumbang oleh kerjaan-kerjaan yang pernah berdiri di pulau ini. Di Jawa Barat (Sunda) kita mengenal dari mulai Salakanagara, Tarumanagara,Galuh sampai dengan Pajajaran. Dari catatan sejarah yang ada, bergantinya kekuasaan dari satu kerajaan ke kerajaan lainnya tidak didahului konflik maupun peperangan. Karena memang sesungguhnya, kerajaan-kerajaan yang berdiri di tanah Sunda satu sama lain masih dihubungkan oleh kekerabatan yang cukup dekat. Konflik yang cukup terkenal, yang melibatkan kerajaan dari tanah Sunda adalah Perang Bubat. Masalah ini akan dibahas di bagian lain tulisan ini.

Hal yang sama terjadi di Jawa Tengah. Di Jawa Tengah ada dua dinasti (wangsa) yang cukup terkenal, wangsa Sanjaya dan Syailendra. Kerajaan Mataram (Hindu-Buddha), sering disebut dengan Kerajaan Mataram Kuna sebagai pembeda dengan Mataram Baru atau Kesultanan Mataram (Islam), adalah suatu kerajaan yang berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10. Wangsa Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Sanjaya pada tahun 732. Beberapa saat kemudian, Wangsa Syailendra yang bercorak Buddha Mahayana didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Kedua wangsa ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung.

Pada masa wangsa Syailendra berkuasa pernah mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya. Ia juga melakukan perkawinan politik: puteranya, Smaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Sedangkan wangsa Sanjaya masih ada hubungan dengan Kerajaan Galuh dari tanah Sunda (Jawa Barat). Wangsa Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya/ Rakryan Jamri/Prabu Harisdama, cicit Wretikandayun, raja kerajaan Galuh pertama. Pada saat menjadi penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya. Mpu Sindok, adalah raja terakhir dari Wangsa Sanjaya, yang berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 928-929. Diduga karena letusan Gunung Merapi, pada tahun 929 Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Beliaulah yang mendirikan wangsa Isyana di Jawa Timur. Jadi jelaslah berakhirnya kekuasaan di Jawa Tengah akibat dari bencana alam.

Bergeser ke timur, siapa yang tidak kenal Singosari dan Majapahit. Kedua kerajaan tersebut pernah menjadi penguasa di kepulauan Nusantara. Namun kita tidak bisa menutup mata dari catatan sejarah. Berbeda dengan kerajaan-kerajaan sebelumnya yang saya bahas diatas, perebutan kekuasaan serta konflik yang ditimbulkan dari pemberontakan-pemborantakan atas kekuasaan kedua kerajaan tersebut seolah tidak pernah berhenti. Kita mengenal Ken Arok, seorang “begal” yang melakukan makar terhadap kekuasaan Tumapel. Kemudian dia memplokamirkan diri menjadi raja Tumapel, selanjutnya lebih dikenal dengan nama Singosari, dengan gelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabumi. Kemudian keturunannya lebih dikenal dengan sebutan wangsa Rajasa. Peristiwa makarnya Ken Arok terhadap kekuasaan Tunggul Ametung, menurut saya adalah konflik internal pertama kali yang terjadi di negeri ini.CMIIW.

Pendiri kerajaan Majapahit, Raden Wijaya yang bergelar Sri Maharaja Kertarajasa Jayawardhana merupakan keturunan langsung dari wangsa Rajasa. Raden Wijaya adalah anak dari Rakeyan Jayadarma, raja ke-26 dari Kerajaan Sunda Galuh, dan Dyah Lembu Tal, seorang putri Singhasari. Dengan demikian sebenarnya antara Singosari,Majapahit dan Sunda masih kerabat dekat. Sepeninggal Raden Wijaya, konflik internal mulai akrab menyambangi Majapahit. Pemberontakan-pemborantakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh yang dulu menjadi teman seperjuangan Raden Wijaya mendirikan Majaphit mulai bermunculan. Dari mulai pemberontakan Ranggalawe,Kuti, Nambi, Lembu Sora dan lain-lain. Permasalahannya sama, mereka merasa tidak adanya pengakuan dan timbal balik yang sepadan atas jasa-jasanya. Sebuah pelajaran yang patut kita ambil, terutama bagi pemerintah pusat, jangan sampai menganaktirikan satu daerah atau menganakemaskan daerah tertentu.

Namun bagi saya yang paling menyedihkan adalah peristiwa yang terjadi di desa Bubat, yang oleh sejarah dikenal sebagai perang Bubat. Terlepas kontroversi siapa yang memulai penyerangan terlebih dahulu, yang pasti peristiwa ini terjadi karena akibat dari Sumpah Palapanya Gajah Mada. Sebuah sumpah yang ingin menyatukan seluruh kerajaan yang ada di bumi Nusantara di bawah panji-panji Majapahit. Sebuah sumpah yang mengakibatkan terabaikannya makna sebuah kekerabatan, persaudaraan. Pajajaran (Sunda) sesungguhnya adalah saudara dari Majapahit.

Apa yang bisa kita petik dari uraian panjang ini ? Kekuasaan bisa membuat manusia tamak, meskipun dengan dalih demi kemajuan bersama, namun apabila dicapai dengan cara-cara kekerasan dan pemaksaan, kehancuran lah yang akan dipetik. Apalagi sampai mengabaiakan arti sebuah ikatan darah dan persaudaraan. Kemajuan bersama yang diidamkan seharusnya bisa dicapai dengan saling bekerja sama, bukan dengan cara menguasai satu sama lain. Merasa diri sendiri lebih dibanding orang lain, merasa golongannya lebih benar dari golongan lain hanya akan menimbulkan percikan-percikan api yang suatu saat akan menajdi sebuah kobaran yang pastinya sulit untuk dipadamkan.

Indonesia ingin menjadi mercusuar dunia, Nusantara kembali menjadi barometer tidak akan tercapai apabila semuanya kepingin menang sendiri. Gotong royong dan musyawarah untuk mufakat itulah kuncinya.


Tanggapan

  1. Salam,
    Tidak sepenuhnya benar bahwa keruntuhan berbagai rejim lokal Nusantara hanya karena aspek external. Mungkin lebih tepat bila dikatakan kombinasi antara aspek internal dan eksternal. Sejarah peradaban manusia selalu begitu, human being is not an island.

    Untuk keperluan lain yang merupakan campuran fakta dan fiksi, berikut ini saya menuliskan sebuah outline tentang sejarah peradaban Shrivijaya, Shailendra & sedikit Sanjaya. Sumber tulisan itu adalah pendapat dan hasil riset para scholars antarbangsa (French, Dutch, Indonesians, British, Indians, Japanese) dari pertengahan abad 19 sampai dengan 1979 termasuk sebuah roman sejarah karya Matu Mona. Maaf bahasa Inggris karena untuk keperluan khusus. Semoga bermanfaat!

    1. During the prehistoric ages, people from Nusantara sailed back and forth in an area now covered by Malagasy in the West through Maluku on the East. They built settlements in various different sites on that area, such as in Malagasy and South India, including Nalanda (Britannica & Sukmono). They even established kingdoms such as Merina in Malagasy.
    2. When their civilization developed, they “returned home” to Nusantara sites and established kingdoms. One of them was Shrivijaya established by Dhapunta Hyang. Their ruling area was including nowadays Jambi, and the whole Malay Peninsula. A prince or high rank ruler in Malay Peninsula escaped to Javadwipa when a Funan Shivaite regime occupied his territory under Shrivijaya. He, whose title later on be Dhapunta Selendra (DS) established a ruling dynasty in Medhang, named as Shailendra Dynasty. It was in Kedu Plain area, North-western site from Yogyakarta. The fact that DS was the member of the Shrivijaya Buddhist circle explains why Shailendra and Shrivijaya had a very tight and harmony bilateral relationship. That eternalized later on by the building of Kamulan Bhumisambharabudhura known presently as Borobudur.
    3. Sanna, a Shivaite established a regime in Progo-Opak rivers’ valley (now Yogyakarta). Sanna was a ruler planted by Funan Shivaite regime in Malay Penninsula. There was an agenda to rival the Buddhist Shailendra. Sanna succeeded by Sanjaya. Between 772 & 778AD, Sanjaya was crushed by Shailendra’s Rakai Panangkaran. Through the mid of 9th century, Shailendra ruled the two valleys (Kedu Plain & Yogyakarta valley), and even once attacked Funan then occupied it for 15 years between 787-802. Their rivalry from the time when Dhapunta Selendra escaped from Malay Penninsula more than a century before explains the attack to Funan.
    4. A prince of Sanjaya, Rakai Pikatan, married the only daughter of Shailendra’s Samarathungga named Dhyah Pramodhawardhani (DPW) on the mid of 9th century. DPW was appointed to be the Queen of Medhang. Samaratungga had a younger brother, Balaputradhewa, and their parents were Samaragrawira who married a princess from Shrivijaya, Dewi Tara. Balaputra, considering that the throne should be his, did a rebel against his niece. It was successfully crushed by Pikatan. BPD escaped to Shrivijaya.
    5. BPD then appointed to be the king of Shrivijaya. The fact that BPD was the son of Dewi Tara from Shrivijaya, explains why BPD being throne as the first Shailendra king in Shrivijaya. All of those efforts were the part of a single vision: to maintain the highest vision which was the greatness of Shrivijaya Dynasty. Under BPD ruling, Shrivijaya expanded its territory through all the middle and the Western parts of Nusantara except the Eastern coast of Kalimantan, Malay Peninsula, and most of the mainland SEA including Palalawan islands in the Philippine now.
    6. Cholamandhala attacked Shrivijaya in 1019, 1025 and 1068 which ended Shrivijaya as the ruler of the waves. They secretly established collaboration invasions with Shivaite regimes in Java and Funan to crushed Shrivijaya. The Southern India’s regime let and assigned the local rulers in Shrivijaya areas on their respective territory, but they were all under Cholamandhala regime and no longer under Shrivijaya in Shih-li-fo-sih as what Chinese monks referred to for nowadays Palembang. The one in Palembang then, was still Shrivijaya but shrunk into its own original territory as what before 682 when they attacked Melayu kingdom in nowadays Jambi. This explains why through the end of 14th century, Shrivijaya was still on the report written by Chinese monks.
    7. Singhasari, a Hindhust kingdom of East Java, attacked and ended the 7 centuries long Shrivijaya dynasty in 1397. The end was mainly the result of a long range vision developed by the 2nd layer of leaderships of both Shrivijaya and Singhasari for a collaborated stronger and wider kingdom, which later on be Majapahit. Psychosocially the 2nd layer leaderships, who really carry out the governments rather than the kings, had less nostalgic idea of the greatness of Shrivijaya. They had a pragmatic idea to exercise their current situation. Singhasari did not really attacked Shrivijaya in the sense of to occupy it, but simply to weakened it and at the same time made it as the bridge to occupy Melayu’s capital of Dharmashraya in nowadays Muara Tebo in Jambi with its strategic port of Bandar Melayu. Raden Wijaya, the prince of Singhasari and the in law of Kertanegara the King, brought back to Singhasari Chandradhevi & Dara Jingga, the princess of Tribhuvana Maulivarmandheva, the King of Melayu.
    8. Raden Wijaya the 1st king of Majapahit: Later after long complicated struggles, Raden Wijaya was the first king of Majapahit. He also married Chandradevi, as what his grand mother’s testimony related to a twin rings on the fingers of both him and Chandradevi’s. Narasinga, Raden Wijaya’s grandma was from Funan.

    -wied-
    Terima kasih atas tanggapannya yang cukup panjang lebar. Saya setuju bahwa faktor internal dan eksternal cukup berpengaruh, namun sebenarnya tulisan saya ini mengajak bangsa ini untuk merenung, sejarah sudah membuktikan, faktor eksternal malah membuat bangsa ini bersatu, senasib seperjuangan. Lain hal nya dengan konflik yg disebabkan faktor internal, luka yang ditinggalkan sembuhnya lama, perdamaian yang dicapai ibarat api di dalam sekam. Itulah kenapa di akhir tulisan saya menenkankan pentingnya untuk kembali ke gotong royong dan musyawarah untuk mufakat.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori