Oleh: wied | Maret 3, 2008

Menkes vs Susu Formula

Ribut-ribut mengenai susu formula yang mengandung bakteri E. sakazakii saya teringat sebuah buku karangan Menkes Siti Fadilah Supari yang menyoal ada hidden agenda dibalik pengiriman sample virus flu burung (H5N1) yang melanda negara-negara berkembang kepada WHO beberapa waktu lalu. Di internet pun sudah banyak beredar berita tentang bagaimana perlawanan beliau untuk meminta kembali sample virus H5N1 yang berasal dari Indoensia. Salah satunya saya baca dari sini.

http://kolomnyawied.com


Dari beberapa penelusuran melalui dunia maya, saya menemukan beberapa fakta menarik tentang bakteri E.sakazakii ini. Berikut diantaranya :

  1. Bakteri E. sakazakii memang ada di susu formula, bahkan telah ada penelitian mengenai bakteri tersebut yang dilakukan pada tahun 1960an.
  2. WHO dan FAO telah melakukan pertemuan pada tahun 2004 terkait dengan adanya bakteri tersebut.
  3. Di Belanda, hanya 10 kasus infeksi bakteri tersebut yang terjadi selama 40 tahun.
  4. Bayi yang paling berpotensi terkena infeksi bakteri tersebut adalah bayi yang lahir dengan berat badan rendah (< 2500 g).
  5. Probabilitas terserang bakteri tersebut adalah 8.9 × 10-6 atau 1 berbanding 8.900.000, itupun untuk bayi yang lahir dengan berat badan rendah.
  6. Probabilitas tersebut bisa berkurang hingga 10.000 kali lipat bila susu dilarutkan dengan air di atas suhu 70 °C.

Sumber : Yahya Kurniawan

Jadi sebenarnya virus ini bukan merupakan barang baru, kalau merujuk fakta-fakta diatas. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pemberitaan mengenai bakteri ini begitu santer akhir-akhir ini ? Apakah ada kaitannya dengan peluncuran buku Menkes tersebut ? Tidak menutup kemungkinan pihak yang merasa dituding di dalam buku tersebut menggunakan cara-cara seperti ini untuk “menggoyang” posisi Menkes ?

Sepertinya hal tersebut sangat memungkinkan. Dalam suatu wawancara dengan beberapa media meyangkut isu bakteri pada susu formula, Menkes memang terlihat santai dalam menanggapinya. Hal yang wajar apabila fakta tentang bakteri ini seperti tersebut di atas. Belum lagi ada statement beliau, seingat yang saya tangkap, bahwa sebelumnya beliau telah mendapatkan ancaman-ancaman melalui SMS terkait buku beliau, bahwa akan ada isu-isu kesehatan yang akan mengguncang Indonesia.

Sebuah kebenaran dan kejujuran memang mahal harganya. Sampai dunia kiamat, peperangan antara kebaikan dan kejahatan tidak akan pernah berhenti, karena memang seperti itulah hukum yang telah ditetapkan. Seyogyanya, kita mengikuti anjuran Menkes, kalaulah memang penelitian itu dapat dipertanggungjawabkan, janganlah sampai membuat kepanikan dan keresahan masyarakat. Bukan berarti hal ini meragukan kredibilitas peneliti dari IPB tersebut. Mungkin kita harus lebih arif lagi dalam menyikapi hasil penelitian tersebut. Terlebih lagi apabila isu ini adalah salah satu rangkaian hidden agenda yang sudah didesain oleh pihak-pihak yang berkepentingan.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori