Oleh: wied | Januari 22, 2008

Ironi

Semenjak era reformasi lahir tahun 1998 lalu, karakter bangsa ini seolah berbalik 180 derajat. Bangsa ini dulu dikenal sebagai bangsa yang santun, memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap sesama, sikap toleransi yang terbangun benar-benar mencerminkan ke-Bhinekaan bangsa ini.

Demokrasi, sebuah tatanan dunia yang dianggap paling adil dan bisa menciptakan kemakmuran serta perdamaian dunia diejawantahkan secara kebablasan. Tidak ada lagi kebebasan yang bertangung jawab seperti doktrin dalam P4 dahulu. Aksi pengerahan massa yang tak jarang berakhir dengan anarkhis lebih sering kita dengar beritanya. Tidak puas dengan suatu kondisi, penyelesaian bukan dengan cara duduk bersama untuk mencari jalan keluar yang tidak saling merugikan. Aksi turun ke jalan seolah menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan keadilan.

Namun ada satu ironi yang bagi saya cukup memprihatinkan. Bangsa ini lebih menghormati dan melindungi bangsa lain daripada diri (bangsa)-nya sendiri. Tentu kita masih ingat ketika para Warok dari Ponorogo mencoba berdemo ke kedutaan Malaysia atas kasus gonjang-ganjing Reog yang coba di klaim Malaysia. Berapa banyak petugas keamanan yang memblokade gerak langkah dari para pendemo hingga untuk sekedar mendekati area kedutaan susahnya minta ampun. Juga demonstrasi di kedutaan Amerika yang sering berakhir dengan ricuh karena tindakan aparat yang terlalu represif.

Coba bandingkan dengan aksi anarkhis yang menimpa “saudara” kita yang diklaim sesat. Tidak ada upaya dari aparat untuk sekedar berjaga-jaga dari kondisi terburuk yang bisa menimpa “saudara” kita tersebut. Kondisi ini yang tampak di mata saya adalah seolah ada pilih kasih untuk perlakuan yang lebih dari aparat terhadap orang asing dibanding bangsa ini sendiri.

Dan ada satu hal lagi yang bagi saya ini adalah cerminan dari kondisi mental bangsa saat ini. Di Piala Asia kemarin, saat tim sepakbola Indonesia berhadapan dengan Arab Saudi (seingat saya), tapi yang pasti wasit yang memimpin saat itu banyak keputusannya yang merugikan Indonesia. Sampai-sampai presiden SBY yang ikutan nonton mengajukan protes secara lisan kepada petinggi AFC. Namun keputusan-keputusan yang merugikan itu tidak sampai membuahkan aksi anarkis. Para pemain bisa menerima keputusan tersebut. Ratusan ribu penonton yang memadati senayan pun, meskipun kecewa, tetap bersikap santun tanpa ada keributan sedikitpun.

Sekarang bandingkan kejadian baru-baru ini yang terjadi di dalam babak 8 besar liga Indonesia. Keputusan wasit, yang meskipun benar, sudah menyulut aksi pelemparan penonton ke dalam lapangan. Para pemain pun masih belum bisa menerima bahwa wasit adalah pengadil tertinggi di lapangan, terlepas keputusan tersebut benar atau salah, demi sportifitas seharusnya keputusan tersebut harus bisa diterima dengan lapang dada. Bahkan sampai ada penonton dan pemain yang melakukan aksi kekerasan tehadap wasit tersebut. Wasit yang memimpin adalah anak bangsa negeri ini, para pemain pun mayoritas putra-putra negeri ini. Kenapa kita tidak bisa bersikap yang sama terhadap saudara sendiri seperti sikap yang kita tunjukkan terhadap kepemimpinan wasit asing di piala Asia lalu?

Sikap inipun tercermin kepada para pemimpin kita dalam mengambil keputusan terkait kepentingan bangsa ini, mereka lebih menghargai keputusan yang diambil oleh orang asing, meskipun sebenarnya mereka tahu dengan keputusan tersebut lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya bagi bangsa ini, dibanding mendengarkan suara yang keluar dari mulut bangsa ini sendiri. Sebagai contoh, jaman-nya kita masih sangat tergantung dengan IMF, kebijakan-kebijakan tersebut malah menambah kesengsaraaan bangsa ini. Dan sudah menjadi rahasia umum, bahwa banyak keputusan yang diambil Jakarta merupakan hasil bisikan dari Washington. Berapa banyak perusahaan yang seharusnya dikuasai negara, tapi saham mayoritasnya dikuasai oleh kepemilikan asing ?
Kitapun tidak bisa protes kalau hasil dari kekayaan negri ini tidak banyak yang bisa kita nikmati. Karena memang kita hanya sebagai babu di negeri sendiri.

Benar-benar suatu ironi yang menyedihkan melihat kondisi di atas, siapa lagi yang bisa menghargai dan menghormati bangsa ini kalau bukan bangsa itu sendiri, jangan heran kalau bangsa ini dipandang sebelah mata oleh bangsa lain dan akan selalu direndahkan karena memang harga diri bangsa ini sudah hilang. Kita bukanlah bangsa yang lemah, kita ini sebuah bangsa yang besar. Seharusnyalah kita juga mempunyai jiwa yang besar dan hati nurani yang bersih.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori